Saham ERAA melonjak 42% dalam sebulan jelang Apple Event September 2026. Seberapa besar iPhone 18 bisa mendorong earnings dan valuasi ERAA?
Dalam satu bulan terakhir, ERAA naik 42,86% — bukan angka yang datang dari kebetulan. Pasar sudah memposisikan diri jauh sebelum Apple resmi mengumumkan iPhone 18 pada 9 September 2026. Pertanyaannya bukan lagi apakah iPhone 18 akan laku, tapi seberapa besar magnitude-nya terhadap earnings ERAA dan apakah harga saham saat ini sudah terlalu banyak mendiskon kabar baik.
Konteks historisnya cukup kuat. Ketika iPhone 17 diluncurkan tahun lalu, pre-order di iBox menembus belasan ribu unit dan sold out dalam tiga hari. SSSG Oktober 2025 tercatat +30,5% YoY, mendorong revenue 4Q25 ke Rp24,2 triliun — tumbuh 45,4% YoY. Full year 2025, laba bersih ERAA menyentuh Rp1,2 triliun, naik 15,8%. Angka-angka ini yang kini menjadi base effect yang harus dilompati iPhone 18.
Yang menarik, momentum ERAA masuk ke siklus iPhone 18 dengan fondasi yang lebih solid. Di 1H26, revenue tumbuh +22,4% YoY dengan laba bersih Rp872 miliar — naik 44% YoY. Volume handset naik 6%, tapi yang lebih signifikan adalah ASP yang tumbuh 10%, mengindikasikan pergeseran mix ke varian premium. Ini penting karena iPhone 18 Pro dan Pro Max — plus potensi kehadiran foldable iPhone pertama Apple — berpotensi mendorong ASP lebih jauh lagi.
Dari sisi aksi korporasi, manajemen ERAA menjalankan program buyback dengan alokasi hingga Rp500 miliar untuk periode September–Desember 2026, dengan realisasi awal Rp99,86 miliar. Buyback di tengah momentum positif seperti ini biasanya memberi sinyal bahwa manajemen menilai saham masih undervalued relatif terhadap earnings outlook ke depan.
Target price dari beberapa analis berada di kisaran Rp680–Rp800, semuanya dengan rating Buy. Konsensus ini mencerminkan ekspektasi bahwa iPhone 18 — terutama jika foldable iPhone mendapat respons pasar yang kuat — bisa memicu earnings revision untuk FY2026 dan FY2027. Alur transmisinya cukup straightforward: animo pre-order tinggi → traffic iBox dan erafone naik → mix Pro/Pro Max lebih besar → ASP dan gross profit naik → net profit beat → potential re-rating.
Tapi ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Kenaikan 42% dalam sebulan artinya sebagian besar good news sudah ter-price in. Risiko sell the news nyata, terutama jika iPhone 18 tidak memberikan upgrade yang cukup disruptif untuk memicu upgrade cycle yang masif, atau jika pricing terlalu agresif dan menekan demand unit. Base effect dari iPhone 17 yang sudah sangat tinggi juga membuat SSSG September–Oktober 2026 lebih sulit untuk dilampaui secara substansial.
Yang perlu diperhatikan dalam beberapa minggu ke depan adalah dua hal: tingkat animo pre-order aktual di Indonesia pasca Apple Event, dan porsi mix antara varian standar versus Pro/Pro Max. Jika foldable iPhone (yang kemungkinan hadir dengan price point premium signifikan) mendapat waiting list panjang, itu bisa menjadi katalis tambahan yang belum sepenuhnya diperhitungkan pasar.