LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Fed Hawkish, El Niño Menguat: Badai Ganda untuk RI?

Ada beberapa hal yang sedang bergerak secara bersamaan di pasar global saat ini, dan kesemuanya saling berinteraksi dengan cara yang tidak selalu nyaman bagi investor emerging market — termasuk Indonesia.

Pertama, soal arah kebijakan Fed. Kevin Warsh, yang kini memimpin Fed, secara eksplisit menyebut bahwa money still matters — sebuah sinyal bahwa monetary aggregates seperti M2 dan Divisia M4 kemungkinan akan kembali mendapat perhatian dalam asesmen kebijakan, setelah puluhan tahun terpinggirkan sejak era 1980-an. Ini bukan berarti Fed akan kembali ke monetary targeting gaya Volcker, tapi lebih ke arah menjadikan pertumbuhan uang beredar sebagai cross-check di samping suku bunga, data tenaga kerja, dan kondisi finansial secara umum. Implikasinya: jika Divisia M4 terus naik bersamaan dengan inflasi yang stubbornly tinggi, argumen untuk tightening tambahan semakin kuat. Saat ini, market masih mempricing sekitar dua kali kenaikan lagi — bukan siklus agresif seperti 2022-23, tapi cukup untuk menjaga cost of capital tetap elevated.

Kedua, yen carry trade. Penguatan yen kembali memunculkan kekhawatiran tentang potensi unwind seperti Agustus 2024. Tapi ada beberapa perbedaan penting yang perlu dicatat. Pada 2024, BOJ menaikkan suku bunga secara mengejutkan sekaligus Fed melakukan dovish pivot setelah data payrolls yang lemah — dua sisi menekan carry trade secara bersamaan. Saat ini, BOJ memang semakin hawkish, tapi Fed masih relatif ketat. Dari sisi positioning, CFTC data menunjukkan net short yen sempat berbalik ke +42k contracts, tapi sudah kembali ke sekitar −92k — artinya pelaku pasar dengan cepat membangun kembali posisi short yen. Ini lebih terlihat sebagai tactical deleveraging daripada abandonment struktural dari carry trade. Risiko unwind yang disorderly tetap ada, tapi probabilitasnya lebih rendah selama Fed tidak ikut berbalik dovish.

Ketiga — dan ini yang paling relevan untuk Indonesia — adalah tekanan inflasi dari dua arah sekaligus: minyak dan El Niño.

Di sisi energi, Brent sudah rebound ke kisaran USD95-96/bbl di awal September setelah eskalasi ketegangan AS-Iran di sekitar Selat Hormuz. Secara historis, setiap kenaikan 10% YoY Brent berkorelasi dengan tambahan sekitar +0.16-0.17ppt pada headline CPI dan PCE AS, dengan lag sekitar satu bulan. Dengan Brent naik sekitar 33% YoY di Agustus, estimasi headline CPI AS bisa mendekati 3.8% di September dan PCE mendekati 4.1% — angka yang cukup untuk membuat Fed tetap di mode restrictive lebih lama dari yang diharapkan pasar.

Untuk Indonesia, dampak langsung kenaikan BBM upper-tier (Pertamax Turbo dan seri Dex) di September masih relatif terbatas. Pertamax dan BBM bersubsidi tidak berubah, sehingga channel inflasi yang lebih besar — setiap kenaikan Rp1.000 Pertamax bisa menambah 0.22-0.37ppt ke headline — belum aktif. Kontribusi transportasi terhadap inflasi memang naik dari 0.28ppt di Mei ke 0.62ppt di Juli, tapi sudah sedikit mereda ke 0.58ppt di Agustus.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah El Niño. Indeks Niño3.4 sudah mencapai +2.45°C pada akhir Agustus — jauh di atas threshold +0.8°C — dan model cuaca memproyeksikan pemanasan lebih lanjut hingga +3.5-3.6°C sekitar Oktober-Desember 2026, sebelum berangsur mereda di awal 2027. Secara historis, episode El Niño kuat (Niño3.4 di atas +1.5°C) dikaitkan dengan volatile food inflation rata-rata 6.9% YoY, sekitar 62% lebih tinggi dibanding periode netral. Estimasi dampaknya bisa menambah 0.8-1.0ppt ke headline inflasi Indonesia, dengan peak impact biasanya empat hingga enam bulan setelah El Niño intensif — yang berarti window paling kritis adalah akhir 4Q26 hingga 1Q27.

Di sisi capital flows, data MTD September menunjukkan asing masih net inflow ke saham-saham big-4 banks (BBRI, BBCA, BMRI, BBNI) dan beberapa nama komoditas seperti TINS dan ANTM. Outflow terbesar terkonsentrasi di TPIA, ASII, ISAT, dan CPIN. Secara YTD, JCI masih underperform signifikan dibanding regional — turun sekitar 23% YTD sementara Taiwan dan Korea masing-masing naik 60% dan 59% — mencerminkan kombinasi tekanan rupiah, risk-off global, dan ketidakpastian fiskal domestik yang belum sepenuhnya terselesaikan.

BI yang sudah menaikkan suku bunga 100bps sebelumnya memang memberikan sedikit buffer, tapi jika El Niño benar-benar mendorong inflasi pangan ke level yang signifikan di awal 2027, ruang untuk easing akan semakin sempit — dan itu bukan kabar baik untuk valuasi pasar obligasi maupun ekuitas domestik.