LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Foreign Inflows Mengalir Deras ke RI

Asing net inflow IDR 6,9 triliun dalam sepekan ke aset Rupiah, dipimpin INDOGBs dan ekuitas. SRBI justru terus mengalami outflow.


Arus modal asing ke aset Indonesia mengalami akselerasi signifikan dalam pekan 31 Agustus–3 September. Total net inflow ke seluruh aset Rupiah mencapai IDR 6,9 triliun — naik hampir empat kali lipat dari IDR 1,7 triliun pada minggu sebelumnya. Yang menarik, kenaikan ini tidak merata di semua instrumen.

INDOGBs menjadi motor utama. Net inflow mingguan ke obligasi pemerintah konvensional melonjak ke IDR 10,0 triliun, dari IDR 2,8 triliun sepekan sebelumnya. Katalisnya adalah partisipasi asing yang tinggi di lelang SBN hari Selasa. Ini sudah empat minggu berturut-turut asing masuk ke INDOGBs, dengan akumulasi IDR 23,2 triliun. Secara YTD, posisi INDOGBs asing sudah net inflow IDR 30,6 triliun — angka yang cukup solid untuk kelas aset yang sempat tertekan di awal tahun.

Ekuitas ikut membaik. Net inflow ke saham mencapai IDR 2,3 triliun, melanjutkan streak tiga minggu berturut-turut dengan total akumulasi IDR 4,4 triliun. Ini sinyal bahwa foreign selling pressure di JCI mulai mereda — meski secara YTD posisi asing di ekuitas masih deep in the red, yakni net outflow IDR 68,0 triliun. Pembalikan tren jangka pendek ini belum cukup untuk menutup lubang yang dibuat sepanjang tahun.

Kontras tajam datang dari SRBI. Instrumen Bank Indonesia ini justru mencatat net outflow IDR 5,4 triliun dalam sepekan, memperburuk tren tiga minggu berturut-turut keluar dengan total IDR 7,2 triliun. Rotasi dari SRBI ke INDOGBs kemungkinan besar bukan kebetulan — asing tampaknya mulai mengunci yield lebih panjang di obligasi pemerintah ketimbang parkir di instrumen jangka pendek BI. Secara YTD, SRBI masih menjadi instrumen dengan inflow terbesar, IDR 172,1 triliun, tapi tren mingguan terakhir menunjukkan pergeseran preferensi yang layak diperhatikan.

Secara keseluruhan, posisi YTD total aset Rupiah masih net buyers IDR 134,7 triliun — angka yang menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi yang cukup menarik di lanskap emerging market. Namun komposisinya berubah: dominasi SRBI mulai tergeser, obligasi pemerintah mengambil alih peran sebagai magnet utama, dan ekuitas mulai pulih meski masih jauh dari impas.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah momentum ini sustainable. Jika yield INDOGBs tetap kompetitif dan Rupiah stabil, rotation dari SRBI ke obligasi jangka panjang bisa berlanjut. Untuk ekuitas, pembalikan tiga minggu ini baru bisa disebut tren jika berlanjut dengan volume yang lebih konsisten.