LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

GDP 5.29% Tapi Tanpa Pemerintah Hanya 4.52%

GDP Indonesia Q2-2026 datang di angka 5.29% (y.o.y) — melampaui konsensus dan terlihat solid di permukaan. Tapi begitu kita bedah komposisinya, gambarnya jauh lebih kompleks, dan sejujurnya, lebih mengkhawatirkan.

Satu angka yang perlu diingat: kalau komponen government consumption dikeluarkan dari perhitungan, GDP growth langsung turun ke 4.52%. Lebih jauh lagi — kalau government consumption diasumsikan tumbuh di rata-rata historisnya (2010–2025) sebesar 3.40% saja, bukan 15.97% seperti yang terjadi di Q2-2026, maka headline GDP hanya akan ada di sekitar 4.45%. Dan kalau kita juga exclude vehicle GFCF yang melonjak karena pembelian kendaraan untuk program KDMP dan MBG, angkanya jatuh ke 3.13%.

Tiga persen sekian. Itu underlying growth Indonesia kalau tanpa stimulus fiskal yang luar biasa besar ini.

Government consumption tumbuh 15.97% (y.o.y) di Q2-2026 — angka yang dalam sejarah sejak 2010 hanya pernah terlampaui dua kali. Ini bukan pertumbuhan organik; ini adalah efek kombinasi low-base (akibat efisiensi anggaran di awal 2025) ditambah akselerasi belanja yang masif di H1-2026. Total realisasi belanja pemerintah di H1-2026 mencapai 33.79% dari pagu — jauh di atas 27.71% di periode yang sama tahun lalu. Goods spending saja naik 89% (y.o.y), sebagian besar karena disbursement program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp98.8 triliun.

Sisi household consumption, yang secara struktural merupakan backbone GDP di angka 53% dari total, justru melambat ke 5.06% dari 5.52% di Q1-2026. Consumer Confidence Index turun ke 120.57 dari 125.03. Komponen food & beverage, transportasi, hotel & restoran, serta pakaian — semuanya melambat. Tekanan datang dari multiple arah: harga pangan naik pasca-panen, avtur mahal, rupiah terdepresiasi, dan daya beli yang memang belum pulih betul.

Di sisi sektoral, manufacturing tumbuh 4.52% — masih positif, tapi share-nya dalam GDP sudah turun ke 19.8%, di bawah 20% untuk pertama kalinya dalam beberapa kuartal terakhir. Kontraksi di coal & oil refining (–3.97%) menjadi drag utama, sebagian karena pemotongan kuota RKAB batu bara oleh pemerintah. Non-oil & gas manufacturing sebenarnya tumbuh 5.32%, jadi deteriorasi ini bukan sector-wide — tapi tetap saja, momentum sedang melambat.

Ada beberapa bright spot yang layak dicatat:

  • Footwear & leather tumbuh 11.30% (y.o.y), akselerasi tajam dari 5.28% di Q1, didukung akses pembiayaan ekspor via Indonesia Eximbank.
  • Furniture melonjak 11.82%, sebagian karena low-base (kontraksi tipis di Q2-2025) dan membaiknya order dari AS.
  • Konstruksi tumbuh 6.68%, tertinggi dalam hampir dua tahun, ditopang infrastruktur KDMP.
  • Electricity & gas supply menjadi sektor tumbuh tercepat di 10.81%, rebound dari kontraksi –0.99% di Q1.

Sebaliknya, mining & quarrying masih kontraksi –1.64%, meski lebih baik dari –2.14% di Q1. Pemotongan kuota nickel ore RKAB dan penurunan produksi beberapa komoditas tambang lain masih menjadi headwind. Financial & insurance juga melambat ke 3.11% — subsector asuransi bahkan mencatat kontraksi tipis 0.19%, sejalan dengan laporan OJK soal slump di industri tersebut.

Dari sisi investment, GFCF tumbuh 6.87% — naik dari 5.96% di Q1. Tapi pertumbuhan vehicle GFCF yang melonjak 26.03% perlu dibaca dengan hati-hati: sebagian besar didorong pembelian kendaraan untuk program pemerintah (KDMP, MBG), bukan capex swasta organik. Wholesale car sales naik 32.94% (y.o.y) di Q2, tapi pickup truck wholesales melesat 63.67% — hampir sepenuhnya karena procurement pemerintah.

HP-filter terhadap real GDP series Q1-2010 hingga Q2-2026 menghasilkan trend growth sebesar 4.97% — 32 bps di bawah angka resmi. Ini mengonfirmasi bahwa headline Q2-2026 sedikit di atas tren struktural, bukan karena fundamental yang membaik, tapi karena cyclical boost dari belanja pemerintah yang tidak akan selalu ada di level ini.

Bagi investor, ini penting. GDP 5.29% yang terlihat kuat sebenarnya menyimpan fragility di bawahnya: daya beli rumah tangga yang tertekan, sektor manufaktur yang kehilangan momentum, dan pertumbuhan yang sangat bergantung pada satu mesin — fiskal pemerintah. Ketika stimulus ini mulai normalize, pertanyaan besarnya adalah: apakah private sector sudah cukup kuat untuk mengambil alih peran itu?