LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Global Outlook Q3 2026: AI, Geopolitik, dan Divergensi

Satu hal yang paling menarik dari lanskap investasi pertengahan 2026 ini bukan soal apakah ekonomi global akan resesi atau tidak — melainkan seberapa tidak merata distribusi pertumbuhannya. AS tetap menjadi mesin utama ekspansi global, didorong oleh AI investment cycle yang masih dalam tahap awal, fiscal tailwinds yang belum sepenuhnya habis, dan household consumption yang tangguh. Sementara itu, Eropa tumbuh di kisaran 1%, Jepang berjuang di 0.7%, dan China mengandalkan ekspor untuk menutupi lemahnya domestic demand.

Ini bukan sekadar divergensi siklus biasa. Ini mencerminkan perbedaan struktural yang semakin dalam — dalam hal eksposur terhadap AI investment, ketergantungan pada energi impor, dan kapasitas fiskal masing-masing negara untuk merespons tekanan eksternal.

Di sisi monetary policy, narasi yang paling signifikan adalah pergeseran ekspektasi terhadap The Fed. Jika awal tahun masih ada harapan easing cycle, sekarang skenario baseline sudah bergeser ke higher for longer — bahkan ada probabilitas hiking cycle baru mulai Desember 2026 jika inflasi tidak mau turun. Inflasi AS diperkirakan tetap di atas 3% sepanjang sisa tahun ini, sebagian karena AI investment boom sendiri bersifat inflationary dalam jangka pendek: demand untuk computing infrastructure, power generation, konstruksi, dan skilled labor menciptakan tekanan harga baru sebelum productivity gains-nya sempat terasa.

Dari sisi tactical asset allocation, posisinya cukup jelas:

  • Equities: Masih overweight secara keseluruhan, dengan preferensi kuat ke Jepang dan Emerging Markets. Jepang menarik karena kombinasi wage-led reflation, corporate governance reform yang sedang berjalan, dan ROE yang terus membaik — bukan karena valuasi murah semata. EM menarik karena real yields yang tinggi, perbaikan fiscal position, dan beberapa negara yang terintegrasi dalam AI supply chain global seperti Korea.
  • Eropa: Underweight. Earnings momentum lemah, eksposur tinggi ke energy prices, dan gap produktivitas terhadap AS belum ada tanda-tanda menyempit secara berarti. Defense spending yang meningkat memang jadi satu-satunya structural theme yang menarik di kawasan ini.
  • Credit: Underweight investment grade — spreads terlalu ketat untuk risk yang ditanggung. High yield netral, lebih sebagai income play ketimbang capital gain story.
  • Government bonds: UK Gilts jadi preferred duration exposure di developed markets, karena BoE diperkirakan akan less hawkish dari ekspektasi pasar seiring pelonggaran labour market. US Treasuries netral — yields lebih menarik dari sebelumnya, tapi belum cukup untuk mengkompensasi risiko inflasi persisten dan fiscal deficit yang besar.
  • Currencies: USD mendapat dukungan dari growth differentials dan safe haven demand. Euro dan sterling keduanya kurang menarik. Yen masih balanced — normalisation BoJ supportif medium-term, tapi fiscal concerns membatasi upside.

Satu tema yang layak dicermati lebih dalam adalah broadening dari AI investment cycle itu sendiri. Yang awalnya concentrated di mega-cap tech, sekarang mulai merambat ke power infrastructure, industrial automation, dan selected financials. Ini menciptakan opportunity set yang lebih luas — dan secara teori mengurangi risiko konsentrasi yang selama ini jadi kekhawatiran utama pasar. Hyperscalers terus menaikkan capex secara agresif, dan dampaknya ke electricity demand, grid infrastructure, dan cooling systems sudah mulai terasa nyata di earnings beberapa sektor non-tech.

Geopolitik — khususnya eskalasi konflik Iran dan blokade Houthi di Bab el-Mandeb — tetap jadi wildcard yang embedded dalam pricing komoditas dan beberapa financial assets. Base case-nya adalah messy resolution, bukan resolusi bersih. Artinya, geopolitical risk premium di oil dan beberapa aset lain kemungkinan tidak akan hilang dalam waktu dekat, dan volatilitas periodik harus dianggap sebagai fitur permanen dari landscape investasi saat ini — bukan anomali.

Bottom line-nya: global expansion masih intact, tapi investor yang mengandalkan broad market exposure tanpa selectivity akan semakin kesulitan. Dispersion antar region, sektor, dan bahkan individual issuers terus meningkat — dan itulah sebenarnya inti dari seluruh outlook ini.