GOTO tertekan ke Rp37, memicu floating loss Telkomsel Rp5,53 triliun. Bedah dampak mark-to-market, arus jual institusi, dan divergensi kinerjanya.
GOTO menyentuh level Rp37 per lembar setelah terkoreksi -13,95% hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) pada penutupan 29 September 2026. Tekanan jual ini memperlebar mark-to-market loss pada portofolio Telkomsel hingga menembus Rp5,53 triliun.
- Telkomsel mencatat floating loss 86,3% dari estimasi modal awal Rp6,40 triliun dengan harga perolehan Rp270 per lembar atas 23,72 miliar saham.
- Nilai pasar posisi kepemilikan 1,99% Telkomsel di GOTO kini menyusut menjadi Rp877,64 miliar.
- Distribusi institusi berlanjut setelah sejumlah laporan pasar memangkas kepemilikan dari 5,40% menjadi 5,36% dengan melepas 503,63 juta saham.
- Divergensi fundamental melebar: operasional 2Q26 membukukan Adjusted EBITDA di atas Rp1 triliun, sementara harga pasar tertekan aturan baru batas minimum fraksi harga Rp1.
Penurunan nilai Rp5,53 triliun ini merupakan unrealized loss, bukan kerugian kas operasional langsung. Namun secara pembukuan berkala, kontraksi valuasi sebesar 86,3% dari harga masuk Rp270 tetap menjadi beban neraca yang menekan persepsi pasar terhadap efektivitas alokasi modal anak usaha Telkom tersebut. Telkomsel menegaskan komitmen kemitraan strategis jangka panjang sembari mengevaluasi posisi secara prudent, tetapi volatilitas harga pasar tetap menjadi variabel risiko yang diperhitungkan investor.
Struktur pasar berubah drastis sejak aturan batas harga saham minimum Rp1 berlaku efektif per 28 September 2026. Saham yang sebelumnya meluncur turun dari kisaran Rp80 pada Juli 2026 kehilangan lantai penahan psikologisnya di level Rp50. Sentimen likuiditas kian rapuh menyusul aksi data pasar & Co International Plc yang melepas 503,63 juta lembar saham per keterbukaan informasi 25 September 2026.
Dinamika harga ini bertolak belakang dengan metrik profitabilitas yang mulai berbalik arah. Pada 2Q26, GOTO membukukan laba bersih Rp252 miliar dan pendapatan neto Rp5,7 triliun, ditopang Adjusted EBITDA kuartalan di atas Rp1 triliun serta panduan setahun penuh di rentang Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun. Arah pergerakan berikutnya ditentukan oleh kemampuan perseroan menjaga konsistensi target Adjusted EBITDA tersebut untuk meredam gelombang distribusi di pasar reguler.