LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Hedge Fund Kini Kuasai 7% Pasar US Treasury

Hedge fund kini pegang $2.35 triliun US Treasury, setara 7% pasar. Basis trade dan leverage tinggi jadi pendorong utama perubahan struktural pasar obligasi AS.


Pasar US Treasury sedang mengalami pergeseran struktural yang signifikan. Selama bertahun-tahun, bank-bank besar mendominasi penyerapan suplai obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kini, peran itu semakin diambil alih oleh hedge fund — dan angkanya sudah cukup besar untuk membuat siapapun yang mengikuti pasar fixed income global berhenti sejenak dan memperhatikan.

Pada Q1 2026, hedge fund mencatat cash Treasury holdings sebesar $2.35 triliun — angka tertinggi ketiga sepanjang sejarah. Dalam lima tahun terakhir, posisi ini melonjak +154%, atau setara tambahan $1.42 triliun. Sebagai perbandingan, total marketable Treasury debt outstanding hanya tumbuh +44% dalam periode yang sama, mencapai rekor $32.2 triliun.

Dari 4% ke 7%: Perubahan yang Tidak Bisa Diabaikan

Implikasi dari angka-angka di atas sangat jelas: hedge fund kini menguasai sekitar 7% dari seluruh marketable Treasury market, naik dari hanya ~4% pada 2021. Ini bukan sekadar pertumbuhan organik mengikuti ekspansi pasar — hedge fund tumbuh jauh lebih cepat dari pasar itu sendiri. Artinya, mereka secara aktif mengambil porsi yang lebih besar dari kue yang ada, bukan sekadar ikut membesar bersama kue.

Untuk konteks yang lebih luas: pasar Treasury AS adalah pasar obligasi terbesar dan paling likuid di dunia, menjadi benchmark untuk hampir semua aset keuangan global — dari mortgage rate di Amerika hingga cost of capital untuk korporasi di emerging markets. Ketika komposisi pemegangnya berubah secara struktural, implikasinya merambat jauh melampaui pasar obligasi itu sendiri.

Basis Trade: Strategi di Balik Lonjakan Ini

Driver utama di balik ekspansi posisi hedge fund di Treasury adalah apa yang dikenal sebagai cash-futures basis trade. Strateginya secara konseptual sederhana: hedge fund mengambil posisi long pada cash Treasury (obligasi fisik) sambil secara bersamaan mengambil posisi short pada Treasury futures, atau sebaliknya — memanfaatkan perbedaan harga kecil antara dua instrumen yang seharusnya bergerak paralel.

Karena spread atau selisih harga yang dieksploitasi sangat tipis, strategi ini hanya menghasilkan return yang berarti jika dijalankan dengan leverage yang signifikan. Di sinilah kompleksitasnya muncul. Leverage tinggi berarti potensi keuntungan yang diperbesar, tetapi juga eksposur risiko yang tidak proporsional terhadap pergerakan harga yang tiba-tiba atau gangguan likuiditas di pasar repo — yang menjadi sumber pendanaan utama untuk strategi ini.

Basis trade bukan konsep baru. Strategi serupa sudah lama dijalankan, namun skalanya kini jauh lebih besar. Ini sebagian besar karena bank-bank besar — yang secara tradisional bertindak sebagai primary dealers dan penyerap utama suplai Treasury baru — kini memiliki kapasitas terbatas untuk menambah posisi obligasi di neraca mereka. Regulasi pasca-2008 seperti supplementary leverage ratio (SLR) membatasi seberapa banyak Treasury yang bisa dipegang bank tanpa memerlukan tambahan modal. Ruang yang ditinggalkan bank inilah yang diisi oleh hedge fund.

Risiko Sistemik yang Perlu Dipahami Investor

Dari sudut pandang investasi saham dan pasar modal secara lebih luas, dinamika ini relevan karena beberapa alasan. Pertama, stabilitas pasar Treasury secara langsung mempengaruhi risk appetite global. Ketika basis trade mengalami tekanan — seperti yang sempat terjadi pada Maret 2020 ketika pandemi memicu deleveraging masif — hasilnya adalah dislokasi pasar yang cepat dan dalam, memaksa Federal Reserve turun tangan dengan pembelian darurat.

Kedua, konsentrasi posisi leverage besar di tangan segelintir pelaku pasar menciptakan potensi procyclical amplification: ketika kondisi memburuk, forced deleveraging dari hedge fund bisa memperparah sell-off di Treasury, yang kemudian mendorong yield naik tajam, yang kemudian menekan valuasi ekuitas — sebuah feedback loop yang tidak menyenangkan bagi semua kelas aset.

Ketiga, dengan hedge fund kini memegang 7% dari pasar, keputusan alokasi mereka menjadi signal pasar yang lebih penting dari sebelumnya. Perubahan posisi besar — baik karena tekanan redemption, perubahan regulasi, atau pergeseran risk appetite — bisa menciptakan volatilitas yang tidak proporsional terhadap fundamental ekonomi.

Pasar Treasury AS sedang beradaptasi dengan realitas baru di mana hedge fund, bukan bank, menjadi penyerap marginal dari suplai obligasi yang terus bertambah. Ini bukan necessarily buruk — hedge fund menyediakan likuiditas dan efisiensi harga yang nyata. Namun struktur pasar yang bergantung pada leverage tinggi dan strategi arbitrase yang sensitif terhadap kondisi funding adalah sistem yang membutuhkan pemantauan lebih ketat, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global yang masih tinggi.