LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

IHSG Siap V-Shape? Ini 2 Syarat Utamanya

Dalam 20 tahun terakhir, IHSG selalu membentuk V-shaped recovery setiap kali mengalami koreksi dalam. Pertanyaannya bukan apakah akan rebound, tapi kapan — dan dua kondisi apa yang harus terpenuhi lebih dulu.

Jawabannya cukup jelas kalau kita lihat data historis: USD/IDR dan suku bunga. Dua variabel ini punya inverse correlation paling kuat terhadap pergerakan IHSG. Harga minyak? Kurang reliable. VIX? Relevan, tapi sudah mulai stabil. Yang benar-benar menentukan arah IHSG adalah ke mana rupiah bergerak dan seberapa agresif Bank Indonesia menaikkan rate.

Kabar baiknya, kedua kondisi itu mulai bergerak ke arah yang tepat.

Di sisi USD/IDR, rupiah mulai menguat sejak 30 Juli 2026 dari level IDR18.085. Ini bukan kebetulan — ada mekanisme makro di baliknya. Trump sedang bersiap menghadapi US Midterm Election November 2026 dengan approval rating yang tertekan di angka 38%. Isu ekonomi jadi senjata utama kampanye, dan strateginya cukup terbaca: tekan inflasi, kelola ekspektasi rate hike Fed, dan gunakan fiscal tools untuk menekan long-dated yields. Efek bersama dari ketiga langkah ini adalah pelemahan USD secara struktural — yang otomatis menguntungkan mata uang EM termasuk rupiah.

Inflasi AS sendiri sudah menunjukkan tanda puncak di Mei 2026, dengan CPI turun ke 2.8% dari 4.2% di awal 2024. Normalisasi impor dari China memberikan tambahan disinflationary tailwind. Di sisi lain, Fed Chair Warsh lebih menyukai Dallas Fed's Trimmed Mean PCE sebagai acuan inflasi — dan angkanya lebih rendah dari PCE konvensional, yang artinya argumen untuk rate hike menjadi lebih lemah. Implied FFR untuk Desember 2026 sudah turun 9bps dari estimasi sebelumnya.

Untuk BI, narasi rate hike mulai kehilangan momentum. BI menaikkan rate secara mengejutkan di Juni 2026 semata-mata untuk mendefend rupiah — bukan karena tekanan inflasi domestik. Kalau rupiah terus menguat, justifikasi untuk mempertahankan rate tinggi semakin tipis. Konsensus analis sekarang memproyeksikan BI rate tidak berubah hingga akhir 2026 bahkan sepanjang 2027. Gubernur BI yang baru, Destry Damayanti, juga sudah berkomitmen mendukung agenda pertumbuhan Prabowo — sinyal kebijakan yang lebih akomodatif ke depan.

Dari sisi valuasi, IHSG trailing P/E saat ini di 14.2x — mendekati 10-year low di 12.5x, jauh di bawah rata-rata 10 tahun di 20.6x. Sementara corporate earnings diproyeksikan mencapai level historis tertinggi di 2026F dan 2027F. Kombinasi cheap valuation + record earnings = asymmetric upside yang jarang terjadi.

Likuiditas domestik juga tidak jadi masalah. M2 Indonesia mencapai IDR10.371 triliun (+8% YoY), artinya ada tumpukan cash besar yang belum masuk pasar. Jumlah investor ritel sudah melampaui 30 juta, dan Danantara siap mengalokasikan IDR235 triliun ke ekuitas begitu ada sinyal bottoming yang jelas. Dari sisi asing, sejak Juni 2026 foreign investors sudah mulai net buyer di obligasi dan saham Indonesia — konsisten dengan thesis pelemahan USD yang mendorong rotasi ke EM.

Year-to-date IHSG masih jadi worst performer di antara peers regional. Tapi dalam 2H26, IHSG justru jadi best performer dengan gain +15.6% — jauh meninggalkan MSCI World (+3.3%) dan MSCI EM (flat). Momentum ini bukan noise; ada fundamental di baliknya.

Untuk asset allocation, implikasinya cukup tegas: kurangi posisi cash secara agresif, tambah exposure ke ekuitas — khususnya non-MSCI blue chips yang selama ini underowned. Fixed income tetap marketweight dengan preferensi short-dated bonds. Dari sisi safe haven, crypto (BTC) lebih menarik dibanding gold untuk saat ini.