LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Ilusi Defisit APBN 0,93%: BMRI dan BBCA Masih Kuat?

Angka defisit APBN per 8M26 yang tercatat cuma Rp240,1 triliun atau 0,93% dari PDB sekilas memberi sinyal bahwa postur anggaran sangat sehat. Namun, angka ini menyimpan ilusi temporer.

  • Fatamorgana Restitusi Pajak: Penurunan restitusi pajak hingga 37% YoY memangkas defisit semu sekitar Rp113 triliun. Jika restitusi berjalan normal, defisit riil sudah menembus Rp353 triliun (1,37% PDB).
  • Beban Subsidi Energi Membengkak: Realisasi subsidi dan kompensasi energi meroket 52% YoY ke Rp331,4 triliun, menghabiskan 74% kuota setahun saat kurs bertengger di kisaran Rp17.800 per dolar AS.
  • Arus Keluar Asing: Foreign outflow kembali menekan pasar dengan cabutan dana asing US$202 juta di saham dan US$71 juta di SBN sepanjang paruh pertama September.
  • Bantalan Likuiditas Bank BUMN: Penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah Rp299 triliun di bank BUMN menjadi penahan likuiditas sistem domestik hingga Juli 2027.

Transmisi risiko fiskal di kuartal IV bermuara pada pencairan restitusi dan lonjakan beban energi. Begitu restitusi pajak kembali diproses normal dan belanja program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengejar sisa alokasi Rp68,7 triliun, defisit akan melebar cepat menuju target batas atas 2,85% PDB.

Risiko terbesar bukan berasal dari MBG yang serapannya terkendali di rata-rata Rp16,4 triliun per bulan, melainkan subsidi BBM. Kombinasi harga minyak ICP di atas asumsi US$83 per barel dan depresiasi rupiah memperbesar tagihan kompensasi energi. Tekanan ini langsung merembet ke kenaikan bond yields dan membengkaknya biaya penerbitan utang baru.

Di pasar ekuitas, lonjakan yield menekan valuation multiple IHSG. Namun, penempatan SAL Rp299 triliun di bank BUMN menjadi jangkar penting bagi perbankan. BMRI yang diperdagangkan di P/E 7,0x serta BBCA di P/E 13,0x tetap memiliki bantalan neraca paling solid untuk meredam volatilitas arus dana asing. Di sektor konsumsi, belanja rutin MBG tetap menjaga volume penjualan emiten ritel dan pangan seperti AMRT dan CMRY.

Kunci pergerakan pasar ke depan bertumpu pada disiplin kas negara: seberapa agresif defisit melebar saat kran restitusi pajak dibuka kembali dan mampukah rupiah bertahan sebelum lonjakan subsidi energi menjebol pagu belanja APBN.