Anthropic, OpenAI, dan SpaceX bisa bernilai lebih dari $5 triliun—melampaui total IPO teknologi sejak 1980. Apa risikonya bagi pasar global?
Bayangkan seluruh gelombang IPO teknologi selama 45 tahun—dari 1980 hingga 2025, sebanyak 3.365 perusahaan—digabungkan valuasinya saat pertama kali melantai di bursa. Totalnya mencapai $4,1 triliun. Kini, tiga nama saja—Anthropic, SpaceX, dan OpenAI—diproyeksikan bernilai lebih dari $5 triliun secara kolektif. SpaceX sudah memulai perdagangan di valuasi $2 triliun setelah IPO-nya pada Juni lalu. Anthropic diharapkan menyentuh angka serupa saat go public dalam beberapa pekan ke depan. OpenAI, yang masih mempertimbangkan penggalangan dana privat di valuasi $1,2 triliun sebelum listing tahun depan, melengkapi trio ini. Angka-angka ini bukan sekadar rekor—mereka mendefinisikan ulang skala ekspektasi pasar terhadap AI.
Persoalannya bukan apakah model-model ini bisa menarik pengguna. OpenAI mengklaim lebih dari satu miliar pengguna aktif dan dua juta bisnis yang menggunakan layanannya. Anthropic menyebut lebih dari 300.000 pelanggan korporat. Tapi jumlah pengguna adalah metrik yang salah untuk dinilai—pertanyaan yang lebih relevan adalah berapa rata-rata pendapatan per pelanggan yang bisa dihasilkan relatif terhadap biaya membangun dan memelihara model-model tersebut. Di sinilah dinamika yang berbahaya muncul: biaya komputasi terus membengkak, sementara persaingan antar penyedia AI menekan pricing power per token. Dua tekanan berlawanan arah yang menyerang margin dari kedua sisi sekaligus—seperti menjalankan restoran di mana harga bahan baku naik setiap hari, tapi pelanggan makin sering minta diskon.
Yang membuat situasi ini lebih kompleks adalah betapa dalamnya ketergantungan ekosistem teknologi terhadap dua perusahaan ini. OpenAI dan Anthropic diperkirakan menyumbang 13% dari pendapatan AWS dan 27% dari pendapatan Google Cloud tahun ini. Bagi Microsoft, OpenAI seorang diri menyumbang sekitar 70% dari total pendapatan berbasis AI-nya untuk tahun fiskal yang berakhir Juni 2026. Ketergantungan ini menciptakan circularitas yang mengkhawatirkan: pertumbuhan earnings para raksasa teknologi semakin didorong oleh kenaikan valuasi privat Anthropic dan OpenAI di atas kertas. Pada kuartal kedua, Amazon, Alphabet, Nvidia, Meta, dan Microsoft melaporkan gabungan other income sebesar $160 miliar—jauh melampaui $69 miliar yang dilaporkan pada kuartal pertama. Sebagian besar lonjakan ini berasal dari revaluasi aset AI privat, bukan dari operasi bisnis inti.
Jika kedua IPO ini berjalan mulus dan valuasi terbukti dapat dipertahankan oleh fundamental pendapatan, maka narasi AI sebagai value creator terbesar dalam sejarah teknologi akan mendapat legitimasi nyata—dan aliran modal ke seluruh rantai AI, dari chip hingga infrastruktur cloud, kemungkinan akan terus deras. Sebaliknya, jika salah satu dari Anthropic atau OpenAI tersandung—baik karena pertumbuhan pendapatan yang mengecewakan, tekanan margin yang lebih buruk dari ekspektasi, atau penyerapan pasar yang lemah—dampaknya tidak akan berhenti di level IPO saja. Balance sheet para hyperscaler akan terpukul dari beberapa arah sekaligus: penurunan valuasi investasi, potensi perlambatan belanja cloud dari pelanggan terbesar mereka, dan koreksi sentimen yang bisa merambat ke pasar ekuitas secara luas.
Yang perlu dipantau dalam beberapa bulan ke depan adalah trajektori pendapatan versus pengeluaran kedua perusahaan ini—bukan headline valuasi, bukan jumlah pengguna, melainkan apakah unit economics-nya bergerak menuju profitabilitas atau justru semakin melebar. Itu satu-satunya angka yang akan menentukan apakah $5 triliun ini adalah fondasi atau balon.