Kapasitas data center Indonesia melesat dari 270 MW ke 1,8 GW pada 2027. ISAT jadi top pick dengan IRR neocloud di atas 20%.
Indonesia sedang membangun infrastruktur digital dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kapasitas data center nasional kini sudah menyentuh 508 MW — hampir dua kali lipat dari sekitar 270 MW pada pertengahan 2024 — dan proyeksinya jauh lebih agresif: tembus 1,8 GW pada akhir 2027, dengan pipeline jangka panjang yang bisa mencapai 6 GW.
Yang mendorong akselerasi ini bukan sekadar hyperscalers konvensional. Gelombang baru datang dari platform neocloud berbasis AI. Dalam tiga bulan terakhir saja, pemain seperti CoreWeave dan Zankore mengumumkan rencana kapasitas lebih dari 600 MW — angka yang cukup besar untuk mengubah landscape industri ini secara fundamental.
Dari sisi ekonomi proyek, data center konvensional di Indonesia menghasilkan IRR di kisaran low to mid-teens, sejalan dengan infrastruktur pada umumnya. Tapi yang menarik justru di segmen neocloud atau GPUaaS: unlevered IRR bisa melampaui 20%. Bahkan jika tarif listrik naik ke US$10 cents/kWh, IRR-nya masih bertahan di sekitar 19%.
Ini membawa kita ke salah satu keunggulan struktural Indonesia yang sering underappreciated: tarif listrik PLN saat ini di US$6 cents/kWh, atau 45%–70% lebih murah dibanding Singapura, Thailand, dan Malaysia. Dengan reserve margin listrik nasional di 39% pada 2025 — jauh di atas level optimal 30% — pasokan daya diperkirakan tetap ample hingga 2028. PLN sendiri berencana menambah 48 GW kapasitas pada periode 2026–2032, dengan lebih dari 70% berasal dari energi terbarukan.
Satu catatan penting di sini: porsi renewables yang besar berpotensi menaikkan marginal cost listrik ke depan. Ditambah beban subsidi dan kompensasi listrik yang mencakup 7%–8% dari pendapatan fiskal negara, ada risiko tarif listrik naik dalam jangka menengah — meski secara relatif Indonesia tetap kompetitif dibanding peers ASEAN.
Secara geografis, sebagian besar proyek masih terkonsentrasi di area Jabodetabek. Tapi Batam dan Bintan mulai muncul sebagai hub baru, mengadopsi strategi SIJORI untuk menangkap spillover dari Singapura yang sudah sangat padat dan mahal.
Di tengah semua ini, ISAT (Indosat Ooredoo Hutchison) menjadi nama yang paling menarik. Rating-nya Overweight, dan posisinya sebagai operator yang sekaligus mengembangkan platform neocloud memberi eksposur ganda: ke infrastructure play sekaligus AI compute demand. IRR neocloud yang dikonfirmasi sendiri oleh manajemen ISAT — di atas 20% unlevered — adalah angka yang sulit diabaikan dalam konteks investasi infrastruktur digital.
Satu risiko yang perlu diperhitungkan: jika build-out ini terlalu agresif, lease rates untuk DC konvensional bisa tertekan akibat oversupply. Tapi untuk segmen AI-ready dan neocloud, demand visibility saat ini masih cukup solid untuk menjustifikasi ekspansi yang sedang berjalan.