LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

JCI Naik 22% dari Bottom, Tapi Asing Masih Kabur

JCI naik 4,6% dalam sebulan dan sudah 22% dari bottom Juni 2026 — angka yang cukup impresif di permukaan. Tapi kalau dilihat lebih dalam, rally ini bukan karena asing kembali masuk ke saham. Justru sebaliknya: foreign equity outflow di Agustus 2026 masih tercatat US$200 juta, dan secara YTD-2026 sudah mencapai US$5,6 miliar keluar dari pasar saham Indonesia.

Yang menarik, asing justru agresif masuk ke obligasi pemerintah — US$842 juta net inflow ke GOI bonds di bulan Agustus saja, membawa YTD bond inflow ke US$1,5 miliar. Ini menggambarkan sebuah split positioning yang cukup jelas: asing percaya pada macro story Indonesia lewat fixed income, tapi belum sepenuhnya nyaman dengan equity risk di sini.

Dari sisi makro, ada beberapa hal yang patut dicermati. Bank Indonesia di bawah kepemimpinan baru Destry Damayanti mempertahankan BI Rate di 5,75%, tapi secara bersamaan memangkas SRBI issuance dari Rp116 triliun di Juli menjadi hanya Rp49 triliun di Agustus — melepas sekitar Rp27 triliun likuiditas ke sistem perbankan. Yield SRBI pun turun dari 7,5% ke bawah 7,1%. Ini sinyal akomodatif yang cukup nyata, meski BI belum memotong rate secara formal.

Di sisi fiskal, RAPBN 2027 menargetkan defisit 2,4% dari PDB — paling sempit sejak 2024 — dengan target pertumbuhan ekonomi 6%, yang kalau tercapai akan jadi yang tertinggi sejak 2012. Ambisius, tapi setidaknya menunjukkan arah kebijakan yang disiplin.

Neraca pembayaran 2Q26 membaik secara headline (defisit menyempit ke US$0,9 miliar dari US$9,1 miliar di 1Q26), tapi kualitasnya perlu dipertanyakan. Current account deficit justru melebar ke US$12,5 miliar karena surplus perdagangan barang yang anjlok dari US$8,2 miliar ke hanya US$1,3 miliar — sebagian besar karena defisit migas yang lebih besar akibat harga minyak yang tinggi. Perbaikan BOP sepenuhnya ditopang portfolio inflow, bukan surplus transaksi berjalan. Ini rapuh.

Dari sisi sektoral, Basic Materials memimpin dengan kenaikan 13,1% MoM — didorong saham-saham gold-related seperti EMAS dan BRMS yang masing-masing naik sekitar 52% dan 35% dalam sebulan. Energy menyusul dengan +8,7%, diangkat oleh BYAN dan DSSA. Sementara itu, Industrials dan Technology jadi satu-satunya sektor yang terkoreksi.

Yang menarik dari sisi flow adalah Financials mencatat net foreign inflow US$146 juta di Agustus — pertama kalinya dalam 2026. BBCA dan BBRI masing-masing menarik US$84 juta dan US$69 juta dari asing, meski BMRI justru outflow US$96 juta. Di sisi lain, Energy menjadi sektor dengan outflow terbesar (US$90,5 juta), terutama dari TPIA yang kena jual US$78 juta.

Dari sisi valuation, JCI kini diperdagangkan di 8,9x 1-year forward P/E — atau 2,1 standar deviasi di bawah rata-rata 5 tahunnya. Secara historis ini tergolong murah. Coal mining re-rated paling tajam (+12% MoM), diikuti Basic Materials dan Mineral Mining. Sebaliknya, Technology de-rated 17% dan Automotive 6%.

Earnings revision masih minimal: consensus naik tipis 0,1% MoM di Agustus, tapi secara YTD-2026 masih turun 2,1%. FY26F earnings growth diperkirakan 8% YoY. Infrastructure mendapat upgrade terbesar (+1,1% MoM, driven by ISAT), sementara Properties & Real Estate kena downgrade terbesar (-2,0% MoM).

Intinya: rally JCI ini lebih banyak didorong oleh repricing valuation dan domestic retail buying (kepemilikan retail naik ke 50,6%) ketimbang fundamental improvement yang solid atau kembalinya conviction asing ke equities. Selama asing masih memilih bonds over stocks dan current account masih defisit lebar, sustainability rally ini tetap perlu diuji.