LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Kenapa AS Kebal dari Kepanikan Fiskal Biasa?

Saat kekhawatiran fiskal melanda, aset biasanya jatuh bersamaan. Tapi AS menunjukkan pola yang berbeda dari sejarahnya sendiri dan negara lain.


Ada sebuah pola yang sudah lama dipahami pelaku pasar: ketika kekhawatiran fiskal suatu negara memuncak — defisit membengkak, utang menggunung, atau kepercayaan terhadap kebijakan fiskal goyah — maka obligasi, saham, dan mata uang negara tersebut biasanya jatuh secara bersamaan. Ketiganya rontok sekaligus, seperti tiga kaki meja yang patah dalam waktu yang sama. Tapi Amerika Serikat, setidaknya hingga saat ini, tampil sebagai pengecualian yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.

sejumlah laporan pasar mencatat bahwa co-movement — atau pergerakan searah secara bersamaan — antara obligasi, ekuitas, dan dolar AS saat tekanan fiskal melanda, tetap berada di level yang secara historis rendah. Rendah dibanding rekam jejak AS sendiri di masa lalu, dan rendah dibanding pola yang terjadi di ekonomi-ekonomi besar lainnya. Ini bukan anomali kecil — ini pola struktural yang signifikan.

Bayangkan analogi sederhana: di sebuah pasar tradisional, kalau isu beredar bahwa pemilik kios utama punya masalah keuangan serius, biasanya pembeli langsung kabur, harga lapak turun, dan mata uang yang dipakai di pasar itu ikut melemah. Semua terdampak serentak. Tapi kalau pemilik kios itu adalah satu-satunya yang punya akses ke barang paling dibutuhkan semua orang, pembeli tidak punya pilihan selain tetap datang — meski dengan rasa khawatir. Itulah kira-kira posisi AS di pasar keuangan global.

Mengapa ini bisa terjadi? Beberapa mekanisme mendasar perlu dipahami. Pertama, dolar AS masih menjadi reserve currency utama dunia — artinya bank sentral di seluruh penjuru bumi menyimpan dolar dan obligasi AS bukan karena pilihan ideal, melainkan karena tidak ada alternatif yang cukup dalam dan likuid. Ketika terjadi guncangan global, paradoksnya justru arus modal sering kali mengalir masuk ke AS, bukan keluar, meskipun AS sendiri yang menjadi sumber guncangan. Ini seperti orang yang lari ke rumah pemadam kebakaran meski yang terbakar adalah gedung di sebelahnya — karena di sana tetap paling aman.

Kedua, pasar obligasi AS adalah pasar paling dalam dan paling likuid di dunia. Dalam kondisi stres, institusi besar tidak punya banyak pilihan selain tetap menaruh sebagian besar asetnya di sana. Ini menciptakan semacam structural demand floor yang mencegah ketiga aset — obligasi, saham, dolar — runtuh secara sinkron seperti yang terjadi di negara lain.

Implikasinya bagi investor tidak sederhana. Di satu sisi, pola ini memberi AS semacam ruang gerak ekstra yang tidak dimiliki negara lain — tekanan fiskal tidak langsung ditransmisikan ke pasar secara brutal dan serentak. Di sisi lain, ini juga berarti sinyal peringatan dini dari pasar menjadi lebih teredam. Kalau di negara lain obligasi yang jatuh sudah menjadi alarm keras bahwa ada masalah fiskal serius, di AS sinyal itu bisa jauh lebih samar — sehingga koreksi, bila akhirnya datang, berpotensi tiba tiba-tiba dan lebih dalam dari yang diantisipasi.

Yang layak dipantau ke depan adalah apakah keistimewaan struktural ini mulai menipis. Setiap kali muncul perdebatan serius soal status dolar sebagai reserve currency, atau ketika pasar alternatif seperti obligasi negara lain mulai menawarkan kedalaman yang lebih kompetitif, maka co-movement yang selama ini rendah bisa mulai bergerak ke arah yang lebih normal — dan saat itulah logika fiskal yang berlaku di negara lain akan mulai berlaku pula di AS.