Kalau ada satu hal yang paling mencolok dari lanskap pasar Asia sepanjang 2026, itu adalah divergensi yang ekstrem antar market. Korea Selatan sudah mencetak return +103% YTD dalam USD terms — angka yang bukan cuma impressive, tapi hampir tidak masuk akal kalau dilihat dalam konteks historis. Taiwan menyusul di +70.3%. Sementara di sisi lain spektrum, China -9% dan India -9.1% — dua market yang banyak dibicarakan sebagai growth story dekade ini justru underperform signifikan.
Apa yang mendorong Korea dan Taiwan? Jawabannya satu kata: semiconductor. Earnings growth Korea untuk 2026 diproyeksikan di angka 331% — bukan typo — sebelum normalisasi ke 37.4% di 2027. Taiwan serupa, dengan EPS growth 61.4% di 2026 dan 28.9% di 2027. Kedua market ini adalah proxy langsung untuk AI infrastructure buildout global, dan demand untuk chips belum menunjukkan tanda-tanda melambat. TAIEX sudah di level 47,326 dan KOSPI di 6,995 — keduanya all-time highs yang jauh melampaui ekspektasi awal tahun.
Valuasi Korea masih terlihat reasonable di forward P/E 4.8x — jauh di bawah 10-year average-nya di 10.2x. Ini menarik, tapi perlu dibaca dengan hati-hati: earnings base-nya sedang dalam fase recovery dari trough yang dalam, jadi P/E akan terlihat murah secara optik saat earnings sedang bounce. Yang lebih relevan mungkin adalah P/B ratio di 2.1x vs. 10-year average 1.1x — ini sudah premium. Taiwan forward P/E di 18.7x, sedikit di atas historical average 15.3x.
China adalah cerita yang berbeda dan lebih kompleks. MSCI China -9% YTD, CSI 300 hampir flat di +0.5%, Hang Seng +1.6%. Manufacturing PMI China masih di bawah 50 (NBS: 49.8 per Agustus), sementara services PMI baru sedikit di atas ekspansi di 51.4. Deflationary pressure masih nyata — headline CPI hanya 0.5% dan PPI masih negatif. Ini bukan environment yang kondusif untuk earnings re-rating. Consensus EPS growth China 2026 hanya 1.6%, meski ada harapan akselerasi ke 14.3% di 2027.
Satu angle yang menarik dari China adalah kebijakan anti-involution yang mulai berdampak pada margin industri. Net margin di sektor-sektor seperti renewable energy dan automobiles yang sebelumnya tertekan oleh persaingan harga berlebihan mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Ini bukan catalyst besar, tapi setidaknya mengurangi downside risk pada earnings.
India menghadapi tantangan berbeda: valuasi yang masih premium (forward P/E 20.4x vs. 10-year average 20.9x — jadi sebenarnya tidak terlalu jauh dari historis) bertemu dengan earnings growth yang melambat. EPS growth 2026 diproyeksikan 12.1%, naik ke 16.8% di 2027. Tapi setelah beberapa tahun menjadi darling investor, ekspektasi sudah terlanjur tinggi dan koreksi -9.1% YTD mencerminkan repricing dari premium tersebut.
Di level makro, beberapa data points layak diperhatikan. US headline CPI Juli naik ke 3.3% dari 3.5% di Juni — masih di atas target Fed 2%. Fed funds rate masih elevated dan pasar tidak mengekspektasikan easing agresif dalam waktu dekat. US 10-year yield di 4.78%, sementara China 10-year hanya 1.68% — spread yang lebar ini menciptakan tekanan struktural pada CNY dan membatasi ruang gerak PBoC.
Untuk APAC ex-Japan secara keseluruhan, sektor Technology mendominasi dengan bobot 42.4% di index dan YTD return +85%. Ini bukan index yang terdiversifikasi — ini essentially adalah bet pada semiconductor cycle. Financials di posisi kedua dengan bobot 20.3% tapi return hanya +14.6%. Sektor yang underperform signifikan adalah Consumer Discretionary (-12.6%) dan Communication Services (-19.9%).
Japan menjadi satu lagi outperformer dengan Nikkei 225 di 66,400 (+33.1% YTD). Yen yang masih relatif lemah di 154 per USD — meski sudah menguat dari peak pelemahan — tetap memberikan tailwind untuk eksportir. Korelasi antara USDJPY dan MSCI Japan yang dulu sangat kuat (-0.62 di periode 2015-2019) kini melemah signifikan menjadi -0.13 sejak 2020, menandakan bahwa driver return Japan semakin beragam di luar sekadar currency play.
Global manufacturing PMI secara aggregate masih ekspansif di 52.3 untuk Agustus, dengan US ISM di 54.6 dan Jepang di 54.9 sebagai yang terkuat di antara developed markets. Ini mendukung narrative bahwa cycle industri masih dalam kondisi sehat, meski Brazil (46.3) dan Indonesia (49.8) menjadi outlier yang perlu dimonitor.