Dari ancaman di Strait of Hormuz hingga harga listrik negatif di Eropa — inilah dinamika energi global yang membentuk lanskap investasi saat ini.
Pasar energi global sedang berada di persimpangan yang jarang terjadi: di satu sisi, gangguan geopolitik mengancam pasokan minyak mentah dari Timur Tengah; di sisi lain, Eropa justru kebanjiran listrik surya hingga harga jatuh ke level negatif. Dua fenomena ini tampak berlawanan arah, tapi keduanya mencerminkan satu realita yang sama — sistem energi dunia sedang dalam proses transformasi besar yang penuh gesekan.
Venezuela: Potensi Besar, Eksekusi Lambat
Ketika ketegangan di Strait of Hormuz kembali memanas, nama Venezuela kembali muncul sebagai kandidat penyeimbang pasokan minyak global. Secara teori, narasi ini masuk akal: Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan produksinya saat ini baru menyentuh sekitar 1,2 juta barel per hari — jauh di bawah kapasitas historisnya.
Sebelum era rezim Chavez, Venezuela memproduksi di atas 3 juta barel per hari. Pada puncaknya di dekade 1970-an, angka itu bahkan mencapai 3,5 hingga 3,7 juta barel per hari. Artinya, ada gap produksi lebih dari 2 juta barel per hari yang secara teknis bisa dipulihkan — kalau saja kondisi above-ground-nya mendukung.
Di sinilah letak persoalannya. Tantangan Venezuela bukan soal geologi atau sumber daya alam. Ini murni soal tata kelola, rule of law, dan kepercayaan investor. Estimasi yang beredar menyebut dibutuhkan investasi sekitar $100 hingga $150 miliar selama 10 tahun ke depan untuk mengembalikan produksi ke level 3,5 juta barel per hari. Chevron, misalnya, telah mengumumkan komitmen investasi senilai $7 miliar untuk menggandakan produksinya dari kisaran 250.000–300.000 barel per hari menjadi 600.000 barel per hari dalam 5 tahun. Angka itu terdengar ambisius — dan memang begitu adanya.
Masalah fundamental yang menghantui Venezuela adalah track record ekspropriasi kontrak. Perusahaan yang pernah kehilangan aset secara sepihak harus meyakinkan dewan direksi mereka bahwa this time is different — sebuah argumen yang sangat sulit dijual ketika pemerintah yang sama masih berkuasa. Dalam konteks investasi jangka panjang seperti ini — di mana kontrak umumnya berdurasi 25 tahun — visibility dan stabilitas regulasi adalah segalanya. Political risk premium Venezuela tetap tinggi, dan satu-satunya anchor institusional yang bisa menurunkannya secara signifikan adalah transisi ke pemerintahan demokratis yang legitimate.
Dalam konteks gangguan di Strait of Hormuz yang mewakili sekitar 20 persen pasokan minyak global, Venezuela mungkin bisa menjadi bagian dari kalkulasi jangka panjang — tapi bukan solusi jangka pendek.
Bottleneck yang Sering Diabaikan: Refining Capacity
Diskusi tentang harga minyak sering terlalu terfokus pada crude oil, padahal konsumen akhir tidak mengonsumsi barel minyak mentah. Yang dibutuhkan adalah gasoline, diesel, heating oil, dan produk petrokimia — semua itu adalah output dari proses refining. Dan di sinilah bottleneck sesungguhnya berada.
Gangguan di Timur Tengah tidak hanya memukul pasokan crude, tapi juga kapasitas refining regional. Asia Pacific, sebagai salah satu pusat refining terbesar dunia sekaligus pembeli terbesar minyak Timur Tengah, ikut terdampak karena kesulitan mendapatkan feedstock. India, yang merupakan salah satu eksportir produk refined terbesar, juga mengalami tekanan dari sisi pasokan bahan baku. Di atas semua itu, serangan drone Ukraina terhadap fasilitas refining Rusia menambah lapisan disrupsi yang semakin kompleks. Efek domino ini menjelaskan mengapa tekanan harga energi terasa lebih luas dari sekadar pergerakan harga Brent crude.
Eropa dan Paradoks Surplus Solar
Sementara pasar minyak bergulat dengan kelangkaan, Eropa menghadapi masalah yang justru berlawanan: terlalu banyak energi surya. Solar kini menjadi sumber listrik terbesar di Eropa selama bulan-bulan musim panas. Kapasitas terpasang telah melampaui 400 gigawatt, dan hanya di tahun 2025 saja, Eropa menambah lebih dari 80 gigawatt kapasitas baru — setara dengan memasang 6 panel surya setiap detik.
Pertumbuhan ini didorong oleh penurunan biaya teknologi yang dramatis. Biaya instalasi per megawatt yang dulu mencapai 4 hingga 5 juta euro kini telah turun menjadi kurang dari sepersepuluhnya. Insentif pemerintah dan return yang menarik bagi produsen energi terbarukan turut mendorong boom ini ke level yang bahkan melampaui kemampuan grid untuk menyerapnya.
Akibatnya, fenomena yang disebut price cannibalization mulai terjadi. Saat matahari bersinar terik di musim panas, semua proyek solar memproduksi listrik secara bersamaan. Pasokan membanjiri grid, permintaan tidak mampu mengimbangi, dan harga listrik wholesale anjlok — bahkan masuk ke zona negatif. Artinya, produsen listrik justru harus membayar konsumen agar mau menggunakan listrik mereka. Tahun lalu, Eropa mencatatkan rekor jumlah jam dengan harga listrik negatif.
Fenomena ini bukan semata-mata kegagalan pasar. Sebagian dipicu oleh skema sidi — terutama di Jerman — yang mewajibkan aset non-controllable untuk tetap berproduksi di semua jam demi mendapatkan insentif, bahkan ketika harga sudah negatif. Sebagian lagi karena grid yang belum cukup fleksibel untuk melakukan ramping down secara cepat dan murah.
Bagi investor di sektor renewables, ini menciptakan dinamika boom-and-bust yang menekan revenue. Proyek yang dibangun dengan asumsi harga wholesale tertentu mendapati kenyataan bahwa di jam-jam puncak produksi, harga justru paling rendah — bahkan negatif. Ini bukan kerugian langsung, tapi revenue yang jauh di bawah ekspektasi awal investasi.
Solusi: Storage dan Distribusi, Bukan Pengurangan Kapasitas
Konsensus di kalangan pelaku industri energi cukup jelas: solusi atas surplus solar bukan dengan membangun lebih sedikit panel, melainkan dengan membangun infrastruktur yang lebih cerdas untuk mendistribusikan dan menyimpan energi tersebut.
Ada dua tantangan berbeda yang perlu diselesaikan secara paralel. Pertama adalah time challenge — bagaimana menyimpan energi yang diproduksi di siang hari untuk digunakan di malam hari atau saat mendung. Kedua adalah physical challenge — bagaimana mentransmisikan listrik dari lokasi produksi ke lokasi konsumsi yang bisa berjarak ratusan kilometer. Battery storage berskala utilitas menjadi komponen kritis dalam menyelesaikan kedua tantangan ini sekaligus.
Dalam jangka panjang, harga negatif diyakini akan menghilang seiring matangnya pasar dan berkembangnya infrastruktur storage. Tapi transisi ini membutuhkan waktu dan kapital yang tidak kecil. Sementara itu, investor di sektor energi terbarukan perlu memperhitungkan risiko price cannibalization ini sebagai bagian dari model bisnis mereka — bukan lagi sebagai tail risk, melainkan sebagai base case di pasar-pasar dengan penetrasi solar yang tinggi.
Dari perspektif investasi yang lebih luas, dua narasi energi ini — kelangkaan minyak di Timur Tengah dan surplus solar di Eropa — sebenarnya menunjuk ke arah yang sama: dunia membutuhkan infrastruktur energi yang jauh lebih resilient, fleksibel, dan terdiversifikasi. Peluang investasi terbesar bukan lagi hanya di produksi energi, tapi di seluruh rantai nilai: storage, transmission, grid modernization, dan teknologi manajemen beban. Itulah medan persaingan energi global berikutnya.