Yang terjadi di pasar obligasi global bukan sekadar yield naik. Mereka berubah bentuk — dan perbedaan itu penting secara fundamental.
Sejak akhir Februari 2026, US 10-year yield bergerak dari 3,96% ke 5,00%. UK 10-year dari 4,30% ke 5,37%. German Bund dari 2,65% ke 3,55%. Japan dari 2,12% ke 3,00%. Tapi yang lebih signifikan bukan level-nya — melainkan spread antara 3-month bill dan 10-year yield yang melebar di semua negara: AS +62 bps, UK +73 bps, Jerman +37 bps, Jepang +51 bps.
Curve yang steepen — bukan parallel shift — adalah sinyal term premium, bukan sekadar repricing ekspektasi policy rate. Artinya investor menuntut kompensasi ekstra untuk memegang long-dated debt di tengah ketidakpastian yang genuine. Konsekuensinya: borrowing cost pemerintah naik lebih dari yang bisa dijelaskan oleh jalur suku bunga saja, di seluruh kurva, bukan hanya di ujung pendek yang dikontrol bank sentral.
Konteks yang mendorong semua ini: Selat Hormuz secara fungsional tertutup sejak sekitar 200 hari lalu. Data vessel-tracking menunjukkan daily transits anjlok dari baseline ~78 kapal per hari ke sekitar 4 kapal — penurunan 94,6%. Tanker transits turun dari ~43 per hari ke sekitar 1. Ini bukan data blip; kondisi ini sudah bertahan lebih dari sebulan. Brent diperdagangkan sekitar $108/barel, Dubai crude ~$115, sementara Oman crude dilaporkan di atas $127 — spread yang mencerminkan betapa besarnya distorsi pada crude yang transit Teluk.
Di sisi respons bank sentral, gerakannya sudah konkret. Fed menaikkan rate 25 bps ke 3,75–4,00% pada 16 September, unanimous, pertama kali sejak 2023. ECB sudah dua kali hike sejak Juni ke 2,50%. BoJ hike sekali di Juni ke 1,00%. BoE hold di Juli, tapi dengan vote 6–3 — tiga anggota ingin langsung hike. Ini bukan sinyal, ini eksekusi.
Inflasi di enam dari tujuh ekonomi besar masih panas, dengan energi sebagai driver dominan: AS 3,4% headline, UK 3,1%, eurozone 3,3% dengan energy inflation loncat ke 14,3%. Ini supply-shock story, bukan demand-driven — dan itu penting karena bank sentral yang merespons supply shock sedang bereaksi terhadap sesuatu yang real, bukan karena preferensi hawkish.
India adalah pengecualian dari pola ini, dan pengecualiannya tidak kecil.
India menghadapi dua tekanan sekaligus yang berjalan independen. Di sisi domestik, CPI Agustus naik ke 4,82% dari 4,45% di Juli — akselerasi dua bulan berturut-turut. Consumer Food Price Index mencapai 5,95%, dengan onion inflation melonjak dari 22,5% ke 48,3%, garlic dari 35,4% ke 43,6%. Monsoon nasional defisit sekitar 14% di bawah normal per awal September, dengan proyeksi melebar ke 15% di akhir musim. Rice acreage kharif turun 3,82% year-on-year.
Di sisi eksternal, Indian crude import basket menembus $100/barel pada 5 September untuk pertama kalinya sejak Mei, rata-rata ~$99 di awal September versus $83 di Juni. Rupee bergerak di kisaran 94,5–96,7 terhadap dollar, dengan RBI dilaporkan mempertahankan level 95,95 melalui state-run banks. 10-year yield India sendiri sudah di 7,07%.
Dalam minutes RBI Agustus, Deputy Governor Poonam Gupta sudah menulis bahwa "a case for a hike may emerge during the course of the year." Internal member Indranil Bhattacharyya lebih eksplisit, memperingatkan bahwa kombinasi monsoon risk dan oil-driven shock "can precipitate sustained food and fuel shocks that can deeply get entrenched." Sejak minutes itu dirilis, data yang masuk justru bergerak ke arah yang lebih cautious, bukan reassured.
Poinnya bukan memprediksi apa yang akan dilakukan MPC pada 5–7 Oktober. Poinnya adalah: backdrop global yang dihadapi RBI di Oktober sudah berbeda secara fundamental dari Agustus. Kalau Agustus RBI hike akan terlihat sebagai outlier, di Oktober mereka akan bergabung dengan siklus tightening yang sudah dieksekusi oleh Fed, ECB, dan BoJ — di tengah tekanan domestik dua jalur yang semakin intensif. Bukan lagi unusual call.
Satu data point konkret yang layak diperhatikan: ada proyeksi food and beverage inflation India berpotensi melampaui 7% pada print Oktober jika monsoon shortfall tidak pulih di hari-hari terakhir musim. Angka itu akan terkonfirmasi atau terbantah saat data CPI Oktober dirilis pertengahan November.