LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

MBMA Laba 5x Lipat, Tapi Utangnya Juga Meledak

Revenue PT Merdeka Battery Materials (MBMA) di semester pertama 2026 tembus $1,05 miliar — naik 67% dibanding H1 2025 yang hanya $627 juta. Laba bersihnya? Dari $28,5 juta melonjak ke $149,4 juta, alias naik lebih dari 5 kali lipat dalam setahun. Angka ini bukan sekadar pertumbuhan biasa — ini lompatan kuantum yang mencerminkan betapa cepatnya mesin operasional MBMA berputar.

Yang paling mencolok bukan top-line-nya, tapi gross margin-nya. Gross profit H1 2026 mencapai $274 juta, dibanding H1 2025 yang cuma $49 juta. Gross margin-nya melompat dari sekitar 7,9% menjadi 26,2% — bayangkan warung mie ayam yang dulu untungnya tipis banget karena biaya bahan baku hampir makan semua harga jual, tiba-tiba bisa ambil margin seperempat dari setiap mangkok yang terjual. Ini bukan karena harga jual naik drastis saja — ini juga soal efisiensi operasional yang mulai matang setelah fase konstruksi besar-besaran beberapa tahun terakhir.

Operating profit-nya pun ikut melejit dari $35,8 juta ke $251,5 juta. Artinya, dari setiap dolar revenue yang masuk, sekitar 24 sen sudah bisa dikunci sebagai keuntungan operasional sebelum bunga dan pajak. Ini sinyal bahwa fasilitas smelter nikel terintegrasi milik MBMA — dari tambang SCM di Sulawesi sampai lini produksi MHP dan nickel matte — sudah mulai berproduksi di kapasitas yang ekonomis.

Tapi di sinilah investor perlu berhenti sejenak dan tidak terlalu euforia.

Operating cash flow MBMA di H1 2026 memang solid di $256,9 juta, jauh lebih baik dibanding H1 2025 yang hanya $15,5 juta. Namun cash flow dari aktivitas investasi masih negatif $215,8 juta — artinya perusahaan masih belum berhenti belanja besar. Uang muka investasi senilai $68 juta, pinjaman ke pihak berelasi $63 juta, plus capex aset tetap $78 juta. Totalnya hampir menyedot habis seluruh kas operasional.

Yang lebih krusial: struktur utang MBMA sedang menggelembung secara signifikan. Total liabilitas naik dari $1,39 miliar di akhir 2025 menjadi $1,77 miliar per Juni 2026 — tambahan utang sekitar $387 juta hanya dalam enam bulan. Current liabilities (kewajiban jangka pendek) melonjak dari $559 juta ke $818 juta, sebagian besar karena bonds payable jangka pendek yang naik dari $176 juta ke $317 juta, plus bank loan jangka pendek yang tiba-tiba muncul $139,9 juta dari sebelumnya hanya $2,5 juta.

Analoginya seperti seseorang yang penghasilannya memang naik drastis tahun ini, tapi cicilan KPR, kartu kredit, dan pinjaman online-nya juga naik berlipat — dan beberapa di antaranya jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Kas memang naik dari $192 juta ke $483 juta, tapi current liabilities-nya $818 juta. Current ratio-nya sekitar 1,5x — masih aman, tapi tidak nyaman.

Beban keuangan (finance costs) juga naik signifikan dari $7,5 juta ke $30 juta — empat kali lipat — karena tumpukan obligasi dan sukuk yang terus diterbitkan. MBMA sudah menerbitkan setidaknya 27 seri obligasi dan sukuk dengan total outstanding yang sangat besar, dengan jadwal jatuh tempo yang tersebar dari 2026 sampai 2031. Ini strategi refinancing yang agresif — setiap obligasi lama dilunasi dengan menerbitkan obligasi baru, seperti memutar kartu kredit dengan kartu kredit lain. Selama kepercayaan pasar terjaga dan bisnis terus tumbuh, ini bisa berjalan. Tapi kalau ada shock di harga nikel atau MHP, margin bisa tergerus cepat dan kemampuan refinancing bisa dipertanyakan.

Satu hal yang juga menarik: MBMA mulai aktif melakukan buyback saham senilai $16,5 juta di H1 2026 — ini sinyal bahwa manajemen menilai harga saham saat ini undervalued. Retained earnings pun naik dari $79,6 juta ke $134 juta, menunjukkan akumulasi laba yang mulai bermakna.

Bottom line: MBMA sedang dalam fase transisi dari perusahaan yang membakar uang untuk membangun infrastruktur, menuju perusahaan yang mulai mencetak uang dari infrastruktur tersebut. Lompatan laba H1 2026 adalah bukti nyata bahwa transisi itu sedang terjadi. Tapi beban utang yang terus membesar dan jadwal refinancing yang padat adalah risiko nyata yang tidak boleh diabaikan — terutama jika harga nikel dan MHP kembali tertekan di semester kedua.