LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

MBMA Lirik Hong Kong di Tengah Tekanan IHSG

Merdeka Battery (MBMA) pertimbangkan penerbitan depositary receipts di Hong Kong saat IHSG jadi indeks terburuk Asia-Pasifik tahun ini.


PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) disebut tengah menjajaki penerbitan Hong Kong depositary receipts — langkah yang mencerminkan betapa seriusnya tekanan yang dihadapi pasar modal domestik saat ini. Ukuran dan timing transaksi masih dalam pembahasan, dan deal belum dipastikan, tapi sinyal ini sendiri sudah cukup bicara banyak.

Konteksnya penting: IHSG sudah turun 23% tahun ini, menjadikannya indeks dengan kinerja terburuk di antara pasar utama Asia-Pasifik. Likuiditas tipis, return buruk — kondisi yang membuat emiten besar mulai melirik alternatif pendanaan di luar negeri. Merdeka Copper Gold (MDKA), induk MBMA, sudah lebih dulu membuktikan jalur ini bisa berjalan. Anak usahanya, PT Merdeka Gold Resources, berhasil menghimpun sekitar HK$2,4 miliar (setara $306 juta) lewat penjualan depositary receipts di Hong Kong pada Juni lalu. PT Amman Mineral Internasional pun dilaporkan mempertimbangkan rencana serupa.

Untuk MBMA sendiri, tekanannya datang dari dua arah sekaligus. Harga komoditas logam yang melemah memukul sisi revenue, sementara lonjakan harga sulfur — bahan baku krusial dalam produksi battery-grade nickel — menggerus margin dari sisi biaya. Hasilnya, saham MBMA sudah terkoreksi sekitar 10,5% year-to-date, dengan harga terakhir di IDR 510. MDKA di level IDR 2.880.

Kapitalisasi pasar MBMA saat ini sekitar $3,1 miliar — bukan perusahaan kecil. Tapi skala besar tidak otomatis menjamin akses modal yang mudah di pasar domestik yang sedang dalam tekanan. Hong Kong menawarkan basis investor yang lebih dalam, terutama untuk sektor komoditas dan material baterai yang relevan dengan narasi transisi energi global.

Yang menarik adalah pola yang mulai terbentuk: emiten tambang Indonesia kelas atas secara bertahap mencari diversifikasi pasar modal ke luar negeri. Ini bukan semata soal valuasi — ini soal akses ke likuiditas yang lebih tebal dan investor institusional yang punya appetite untuk sektor ini. Jika MBMA akhirnya melanjutkan rencana ini, transaksinya berpotensi menjadi salah satu cross-border capital market deal terbesar dari Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk saat ini, tidak ada konfirmasi resmi dari pihak Merdeka. Tapi arah anginnya sudah cukup jelas.