LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

MBMA: Margin Bijih Tebal, Hilirisasi Boncos?

Kinerja 1H26 MBMA tertolong margin bijih saprolite, sementara margin hilir NPI dan matte tertekan. Simak evaluasi target harga dan katalis HPAL MBMA.


Laba bersih Merdeka Battery Materials (MBMA) di kuartal kedua 2026 turun 18% q-q menjadi US$24,5 juta, menyeret realisasi 1H26 baru mencapai 33% dari konsensus tahunan. Di permukaan, angka EBITDA 1H26 sebesar US$310,6 juta (+306% y-y) terlihat solid dan sejalan dengan ekspektasi. Namun, bedah operasional memperlihatkan dinamika yang kontras: hulu tambang bijih mencetak margin luar biasa tebal, sementara lini pengolahan hilir justru mengalami margin compression parah.

  • Cash margin saprolite melonjak ke US$26,7/wmt di 2Q26, menutup anjloknya margin hilirisasi.
  • Unit pengolahan High-Grade Nickel Matte (HGNM) berbalik merugi operasional dengan cash margin minus US$543/tNi akibat lonjakan cash cost.
  • Proyeksi laba bersih 2027–2028 dipangkas lebih dari 60% seiring penurunan asumsi harga nikel LME dan tingginya biaya produksi.
  • Target harga diturunkan ke Rp710 per saham, dengan tumpuan pertumbuhan kini bergeser penuh ke proyek HPAL.

Divergensi kinerja MBMA bertumpu pada bisnis bijih. Rata-rata harga jual (ASP) saprolite meroket 106% q-q menjadi US$58,9/wmt di 2Q26, melontarkan cash margin dari US$4,0/wmt menjadi US$26,7/wmt. Penjualan limonite juga mencatat margin stabil di kisaran US$10,4/wmt. Kapasitas infrastruktur tambang perseroan sanggup mengalirkan hingga 60 juta wmt per tahun (15 juta saprolite dan 45 juta limonite), tetapi utilisasi riil tetap terkunci oleh restriksi kuota penambangan (RKAB).

Kondisi sebaliknya terjadi di segmen hilir. Margin NPI terpangkas separuh secara kuartalan ke US$1.981/tNi akibat cash cost yang melompat 33,5% q-q ke US$12.690/t. Lebih ekstrem lagi, segmen HGNM mencatat cash margin negatif US$542/tNi setelah biaya produksi melonjak hingga US$16.354/t. Kendati manajemen mempertahankan operasi karena integrasi saprolite-to-NPI-to-HGNM masih positif secara agregat, kontrak HGNM untuk 2027 kemungkinan besar tidak diperpanjang.

Dengan hilirisasi RKEF konvensional yang kian terhimpit, narasi pertumbuhan MBMA kini bergantung pada ramp-up teknologi HPAL. Proyek SLNC telah memulai pemompaan slurry dan ditargetkan beroperasi komersial pada 4Q26 hingga 1Q27.

Namun, HPAL membawa risiko struktural baru. Asumsi harga nikel LME yang disesuaikan ke rentang US$16.600–16.900/t memicu pemangkasan proyeksi EBITDA FY27–FY28 sebesar 39–46%. Selain volatilitas harga jual, harga sulfur yang bertengger tinggi di level US$900–1.100/t menjadi ancaman langsung bagi margin HPAL saat kapasitas mulai penuh.

Valuasi Sum-of-the-Parts (SOTP) MBMA kini menghasilkan target harga Rp710 per saham, mencerminkan rasio EV/EBITDA FY26F sebesar 8,1x. Kelanjutan tesis investasi MBMA kini bukan lagi soal ekspansi smelter lama, melainkan disiplin biaya sulfur dan kecepatan monetisasi limonite lewat HPAL.