Ramp-up tambang emas Pani dan lonjakan margin asam sulfat proyek AIM mengubah peta profitabilitas MDKA dan MBMA. Simak kalkulasi lengkapnya.
EBITDA MDKA melonjak 191% YoY menjadi US$512 juta di semester I-2026, sementara MBMA membukukan lonjakan EBITDA 306% YoY ke US$311 juta. Pasar sempat meragukan beban belanja modal dan pelemahan margin smelter nikel olahan, namun struktur laba kedua entitas ini mulai bergeser secara fundamental: emas dan asam sulfat kini mengambil alih pertumbuhan.
- Akselerasi Tambang Pani: Produksi emas Pani melompat ke kisaran 10 ribu oz pada Agustus 2026 (run-rate ~400 oz per hari), mempercepat realisasi target 100 ribu oz pada 2026.
- Bantalan Laba Proyek AIM: Penjualan 0,4 juta ton asam sulfat di kuartal II menyumbang 19% laba bersih MBMA, terdorong reli harga sulfur global akibat tensi geopolitik Timur Tengah.
- Keunggulan Hulu HPAL: Cadangan 27 juta ton stockpile pirit di Wetar menjadi captive feedstock berbiaya rendah untuk mengamankan kebutuhan asam sulfat smelter HPAL grup.
Di MBMA, margin kas nickel pig iron (NPI) memang tertekan sekitar 50% QoQ akibat naiknya harga transfer bijih saprolit internal. Namun, tekanan hilir tersebut terkompensasi penuh oleh margin hulu tambang SCM, di mana ASP saprolit melonjak ke US$59 per wmt dan limonite ke US$26 per wmt. Proyek AIM yang mengantongi izin IUI pada Juli 2026 langsung memberi kontribusi kas nyata, menciptakan diversifikasi pendapatan non-nikel yang solid.
Bagi MDKA, katalis terkuat bergeser ke monetisasi penuh tambang emas Pani di paruh kedua 2026. Dengan cash cost Pani terkendali di US$1.184 per oz berbanding ASP emas US$4.382 per oz, cash margin yang dikantongi mencapai US$3.199 per oz. Ditambah stabilitas produksi tambang Tujuh Bukit yang mengarah ke batas atas target tahunan (80–90 ribu oz), segmen emas resmi menjadi mesin arus kas utama grup.
Kalkulasi valuasi sum-of-the-parts (SOTP) menempatkan target harga 12 bulan MDKA di level Rp3.830 per saham (mengimplikasikan 2027F P/E 9,5x), sementara target MBMA berada di Rp675 per saham (2027F P/E 8,8x).
Variabel utama yang menentukan kelanjutan tren penguatan ini bukan lagi volatilitas nikel LME, melainkan stabilitas run-rate produksi bulanan Pani serta integrasi pasokan asam sulfat AIM ke proyek-proyek HPAL.