LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

MEDC Meroket di Tengah Krisis Hormuz

Kalau ada satu saham yang benar-benar sedang riding the wave dari kekacauan geopolitik global saat ini, itu MEDC. Net profit 2Q26 tercatat USD 208 juta — naik 1.489% YoY. Bukan salah ketik. Dan yang menarik, kenaikan ini bukan sekadar windfall harga minyak semata.

Produksi total 2Q26 mencapai 171,4 Mboepd (+19% YoY), dengan oil di 48,8 Mbopd dan gas di 668 Mmscfd. Realized oil price melonjak ke USD 98,8/bbl (+31,5% QoQ), sementara gas di USD 8,9/mmbtu (+24,7% QoQ). Yang lebih penting lagi: cash cost justru turun ke USD 7,7/boe (-14,5% QoQ). Bayangkan harga jual naik drastis, tapi biaya produksi per barel malah turun — ini yang disebut operating leverage bekerja maksimal. Seperti warung yang ramai pembeli tapi harga bahan baku-nya turun.

EBITDA 2Q26 tembus USD 450 juta (+58,6% YoY), mendorong 6M26 EBITDA ke USD 801 juta (+30,1% YoY). Revenue semester pertama sudah USD 1,42 miliar, dan 6M26 net profit USD 275 juta sudah setara 63,3% dari full-year estimate — artinya secara run-rate, MEDC berpotensi outperform proyeksi FY26.

Ada satu komponen yang sering luput dari perhatian: kontribusi JV dari AMMN. Di 2Q26, JV income melonjak ke USD 124 juta (vs. USD 45 juta di 1Q26), seiring AMMN membukukan net profit USD 338 juta (+100% QoQ). Porsi MEDC dari sana sekitar USD 70 juta — bukan angka kecil. Ini menjadi booster tambahan di luar bisnis oil & gas inti.

Di sisi makro, situasi supply global tetap tegang. Selat Hormuz masih terdisrupsi, Arab Saudi sempat menutup pipeline East-West berkapasitas 7 Mmbopd akibat serangan drone, dan aktivitas Houthi di Laut Merah belum mereda. Di sisi lain, output crude Rusia di Agustus 2026 turun ke 8,72 Mmbopd — 1,17 Mmbopd di bawah kuota OPEC+. Serangan ke fasilitas kilang Rusia di September 2026 mengganggu sekitar 400 Kbopd kapasitas refinery. Kombinasi semua ini menjaga harga Brent tetap di atas USD 100/bbl, dan asumsi FY26F dipertahankan di level tersebut.

Untuk 2H26, ada beberapa growth driver konkret yang perlu diperhatikan:

  • Senoro Phase 2A sudah onstream sejak Juni 2026 — kontribusi penuh baru terasa di 2H26.
  • Bualuang Renewal Plan Phase I menopang produksi minyak dari Thailand.
  • Sambar field (Corridor block) ditargetkan partial onstream di 4Q26, dengan potensi tambahan ~108 Mmscfd di 2027.

Dari sisi valuation, MEDC saat ini diperdagangkan di FY26F P/E 5,2x dan EV/EBITDA 3,5x — murah secara absolut untuk perusahaan dengan EBITDA margin stabil di kisaran 53-54% dan ROAE yang diproyeksikan kembali ke 17,2% di FY26 setelah anjlok ke 4,3% di FY25 akibat beban non-recurring. Target price IDR 2.500/saham mengimplikasikan upside sekitar 70% dari level saat ini.

Yang perlu dicermati sebagai risiko: net gearing masih tinggi di 134,6% untuk FY26F, meski tren-nya membaik menuju sub-100% di 2028. Interest expense juga masih besar di sekitar USD 300 juta per tahun. Kalau harga minyak tiba-tiba collapse — misalnya karena de-eskalasi geopolitik yang lebih cepat dari ekspektasi atau OPEC+ membuka keran produksi — earnings MEDC bisa terkoreksi signifikan mengingat leverage operasionalnya yang tinggi. Pisau bermata dua.