Shanghai Crude melampaui Brent, spread tembus +$5,6. Demand China spike tajam di 2026 — dan harga minyak global bisa menuju $120.
Sesuatu yang menarik terjadi di pasar minyak global sepanjang paruh pertama 2026: Shanghai Crude berbalik menguat melampaui Brent Crude, setelah berbulan-bulan diperdagangkan dengan diskon dalam yang signifikan. Spread Shanghai minus Brent — yang sempat menyentuh area negatif mendekati -$20 — kini sudah tembus ke +$5,60. Shanghai Crude aktif diperdagangkan di $102,6, sementara Brent masih bertahan di kisaran $97.
Ini bukan sekadar pergerakan teknikal biasa. Pembalikan spread sekeras ini mencerminkan perubahan fundamental di sisi permintaan: China sedang restocking secara agresif.
Yang menarik, kenaikan demand China kali ini bukan didorong oleh pemulihan ekonomi penuh. Faktor penggeraknya lebih bersifat operasional — membaiknya refinery margins, dimulainya kembali ekspor bahan bakar, dan program pengisian ulang inventori. Artinya, ini adalah permintaan struktural jangka pendek yang bisa berakselerasi lebih jauh jika kondisi ekonomi domestik China ikut membaik.
Di sisi pasokan, situasinya semakin kompleks. Ekspor minyak Iran mengalami collapse, gangguan pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut, dan akibatnya buyer-buyer China terpaksa bersaing memperebutkan pasokan alternatif dari Afrika, Kanada, hingga Amerika Latin. African crude grades kini diperdagangkan dengan premium hingga $20 di atas Brent — angka yang tidak kecil. Russian ESPO pun ikut menguat seiring meningkatnya persaingan untuk barrel-barrel yang tersedia.
Ketika sumber pasokan murah mengering — Iranian oil keluar dari pasar, ESPO menguat — dan China justru masuk sebagai pembeli agresif, tekanan harga ke atas menjadi sangat nyata. Brent yang kini mendekati $100 punya jalur terbuka menuju $120 jika gangguan rute pengiriman tidak mereda. Level $120 bukan proyeksi optimistik berlebihan; itu adalah skenario logis jika dua variabel utama — supply disruption dan China demand — bergerak bersamaan ke arah yang sama.
Implikasinya bagi investor cukup jelas. Saham-saham di sektor energi, khususnya yang terekspos ke harga minyak mentah global, berpotensi mendapat tailwind signifikan. Emiten refinery yang margin-nya sensitif terhadap spread harga crude juga layak dicermati lebih dalam. Di sisi lain, sektor yang cost structure-nya berat terhadap energi — transportasi, petrokimia, maskapai — akan menghadapi tekanan margin yang makin nyata jika Brent benar-benar menembus $100 dan bertahan di sana.
China selama ini dianggap sebagai salah satu brake terbesar terhadap kenaikan harga minyak global, terutama karena demand-nya yang sempat lesu di awal 2026. Brake itu kini sudah dilepas.