LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Minyak Turun Kok Saham Tambang Naik? Ini Sebabnya

Ada satu pola yang sering bikin bingung investor pemula: harga minyak mentah anjlok, berita sektor energi suram, tapi saham tambang emas, tembaga, dan nikel justru menghijau. Padahal sama-sama komoditas.

Bingungnya wajar, karena minyak di sini bukan berperan sebagai barang dagangan pesaing. Buat perusahaan tambang, minyak adalah bahan bakar — biaya, bukan pendapatan.

Solar Itu Biaya Terbesar Kedua di Tambang

Menambang logam pada dasarnya adalah pekerjaan memindahkan tanah dalam jumlah luar biasa besar. Untuk mendapat satu ton bijih layak olah, yang harus digali dan diangkut bisa puluhan kali lipatnya.

Semua pekerjaan itu digerakkan solar. Truk pengangkut raksasa yang bannya setinggi orang dewasa, ekskavator, generator listrik di lokasi tambang yang sering jauh dari jaringan PLN, sampai tongkang pengangkut hasil ke pelabuhan. Di banyak tambang, bahan bakar adalah pos biaya terbesar kedua setelah upah pekerja.

Jadi ketika harga minyak turun, biaya menambang satu ons emas atau satu pon tembaga ikut turun — tanpa perusahaan melakukan apa pun. Istilah yang dipakai untuk ukuran ini adalah cash cost: uang tunai yang benar-benar keluar untuk memproduksi satu satuan logam.

Ini seperti perusahaan travel bus. Harga tiket ditentukan pasar, tapi kalau harga solar turun, keuntungan per penumpang naik sendiri — tanpa menaikkan tarif, tanpa menambah penumpang. Yang berubah cuma satu baris di sisi biaya, dan efeknya langsung ke laba bersih.

Jalur Kedua: Lewat Dolar Amerika

Jalur pertama tadi langsung terasa di laporan keuangan. Jalur kedua lebih memutar, tapi dampaknya ke harga saham sering lebih besar.

Minyak adalah penggerak utama inflasi dunia. Dia masuk ke ongkos angkut hampir semua barang, ke listrik, ke pupuk, ke plastik. Waktu harga minyak turun, tekanan inflasi global mereda.

Inflasi yang jinak membuka ruang bank sentral Amerika menurunkan suku bunga. Ketika suku bunga turun, imbal hasil surat utang Amerika ikut turun, dan dolar jadi kurang menarik untuk dipegang. Nilai dolar melemah — ini yang diukur indeks DXY, semacam pengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Nah, semua logam dunia dihargai dalam dolar. Kalau dolar melemah, pembeli dari Eropa, Jepang, atau China otomatis mendapat logam lebih murah dalam mata uang mereka sendiri — tanpa harga dolarnya berubah sedikit pun.

Bayangkan toko yang memasang harga dalam dolar. Waktu kurs rupiah menguat, harga di rak tidak berubah, tapi barangnya terasa lebih murah buat pembeli Indonesia dan penjualannya naik. Persis itu yang terjadi di pasar logam global, hanya dalam skala miliaran dolar.

Khusus emas ada bonus tambahan: emas tidak memberi bunga. Waktu suku bunga tinggi, memegang emas terasa rugi karena uang bisa ditaruh di deposito berbunga. Waktu bunga turun, kerugian itu mengecil dan emas kembali menarik.

Dua Efek yang Bertemu

Yang membuat pola ini kuat adalah dua jalur tadi bekerja bersamaan dan searah. Biaya produksi turun karena solar murah. Harga jual naik karena dolar melemah. Selisih antara keduanya — yang kita kenal sebagai margin — melebar dari dua sisi sekaligus.

Perusahaan tidak perlu menambah produksi, tidak perlu membuka tambang baru, tidak perlu efisiensi apa pun. Labanya naik karena kondisi di luar sana berubah menguntungkan.

Yang Perlu Dilihat per Emiten

Efeknya tidak rata. Tambang yang porsi bahan bakarnya besar merasakan lebih kuat daripada tambang yang sudah tersambung listrik jaringan.

AMMN sedang menaikkan kapasitas pengolahan bijihnya ke 85 juta ton per tahun, dengan umur tambang Batu Hijau diperpanjang sampai 2032. Skala sebesar ini artinya konsumsi energinya juga besar — smelter tembaga dan unit pemurnian logam mulia butuh pasokan energi masif, sehingga setiap penurunan harga energi langsung terasa di biaya.

MDKA punya dua sumber: proyek emas Pani yang biaya produksinya rendah, dan tambang tembaga Wetar. Tambang di pulau terpencil seperti Wetar sangat bergantung pada bahan bakar untuk listrik dan alat berat, karena tidak ada jaringan listrik yang bisa disambung.

BRMS mengolah bijih berkadar tinggi di pabriknya di Poboya, Palu. Bijih berkadar tinggi artinya lebih banyak emas per ton tanah yang digali — dan ketika biaya energi untuk menggali dan mengolah ikut turun, dua keuntungan itu bertumpuk.

Selama harga minyak bertahan rendah dan bank sentral Amerika benar-benar memangkas bunga, margin tambang melebar dan harga logam terus ditopang dolar yang lemah. Sebaliknya, kalau minyak berbalik naik karena gangguan pasokan sementara inflasi memaksa bunga bertahan tinggi, dua keuntungan tadi hilang bersamaan — biaya naik di saat harga jual tertekan.

Buat perusahaan tambang, laba paling nikmat bukan datang dari menggali lebih banyak. Tapi dari harga solar yang turun waktu harga logam sedang naik.

— Rikopedia