LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Perang Iran Bikin Minyak $110, Pasar Global Kacau

Ada satu perbedaan krusial yang sering luput dari diskusi: oil spike 2008 bersifat demand-led, sehingga harga minyak dan yield Treasury bergerak berlawanan arah. Yang terjadi sekarang justru sebaliknya — supply shock akibat perang Iran mendorong oil dan yield naik bersamaan, karena setiap lonjakan harga minyak langsung ditransmisikan ke inflation expectations. Same chart, completely different mechanism.

Pekan ini pasar global merasakannya secara langsung. Brent dan WTI masing-masing mencatat weekly gain lebih dari 9% untuk dua minggu berturut-turut, mendorong harga mendekati $110/bbl. Selat Hormuz yang praktis terhenti sejak Februari 2026 kini diperparah oleh Houthi yang merebut Perim Island di Bab el-Mandeb — dua chokepoint utama aliran energi global kini di bawah tekanan sekaligus. Tanker freight rates meledak, dengan VLCC untuk rute US Gulf ke Asia ditawarkan di $29,5 juta per voyage. Breakwave Tanker Shipping ETF ($BWET) naik 6.200% dalam 15 bulan terakhir.

Di sisi fixed income, tekanannya tidak kalah brutal. 10-year Treasury yield mendekati 5%, 2-year naik 28bps dalam sepekan ke atas 4,60%, dan 30-year menyentuh ~5,38% — tertinggi sejak 2007. Yang menarik: US Treasury mengumumkan tripling long-term buyback program hingga $6 miliar, dan yield tetap naik. Pasar obligasi sedang melawan Treasury secara terang-terangan. Bear flattening yang terbentuk mengirimkan sinyal late-cycle yang tidak nyaman: Fed dianggap cukup ketat untuk memperlambat pertumbuhan, tapi belum cukup untuk menjinakkan inflasi.

Data macro mempertegas arah kebijakan. Core CPI MoM masuk 0,3% — sedikit di atas estimasi. PPI year-on-year 5,4%. Market kini mempricing 87–90% probabilitas Fed rate hike di September, dan 86% untuk year-end. Sementara consumer sentiment melemah tajam dengan one-year inflation expectations melompat ke 4,6% — didorong fuel prices dan trade tensions.

Di pasar saham, rotasi sektoralnya cukup jelas. Energy dan Tech adalah satu-satunya sektor yang hijau. Small dan mid-caps paling terpukul: Russell 2000 turun 2,4%, S&P Mid-Cap 400 minus 1,9%. Rate-sensitive sectors seperti utilities dan real estate terhantam paling keras. Meski begitu, ada sinyal menarik di bawah permukaan: jumlah saham S&P 500 yang diperdagangkan di atas 40x forward P/E kini berada di level terendah sejak Covid dan bear market 2022 — speculation bona fide sudah banyak keluar dari sistem.

Earnings story-nya justru solid. Hyperscalers dan AI infrastructure companies mencatat EPS growth 54%, menyumbang sekitar setengah dari total index EPS growth. Tapi bahkan di luar Energy dan AI, S&P 500 sisanya masih tumbuh 14% YoY — broad-based acceleration yang sering underappreciated. Oracle ($ORCL) jadi headline tersendiri: Q1 FY2027 adj. EPS $1,92 vs estimasi $1,74, revenue $19,3B vs $19,1B estimasi, trailing 12-month operating cash flow mencapai $46,9 miliar. AI infrastructure mulai convert dari capex ke cash flow.

Ada satu fragility signal yang layak diperhatikan: 6-month realized correlation antar saham S&P 500 turun ke hanya 0,11 — level yang hanya terlihat dua kali dalam 25 tahun terakhir. Low correlation ini memungkinkan trade vol arbitrage (sell index vol, buy single-stock vol), tapi ketika korelasi tiba-tiba reverses, unwind-nya bisa terjadi serentak. Bukan crash signal, tapi diversifikasi portofolio mungkin jauh lebih semu dari yang terlihat di jumlah holdings.

Di luar AS, beberapa risiko struktural mulai menumpuk. Jepang menjual $88 miliar foreign securities dalam satu bulan — terbesar dalam sejarah — untuk defend Yen, yang memangkas FX reserves sebesar $94,6 miliar atau 8,7% dalam Agustus saja. Unrealized losses obligasi domestik di life insurers Jepang sudah mencapai ¥30,86 triliun ($194 miliar). China menyuntikkan ¥360 miliar ke delapan bank besar dalam recapitalization terbesar hampir dua dekade, sementara new bank lending Juli berkontraksi rekor ¥340 miliar. ECB menaikkan deposit rate 25bps ke 2,5%, tapi Taylor Rule menunjukkan policy masih 200bps terlalu longgar untuk kondisi inflasi Jerman saat ini.

High-yield credit spreads di 2,66% — mendekati tightest level dalam beberapa tahun dan sekitar setengah historical average. Hampir tidak ada margin for error di sana. Dan dengan $8,29 triliun parkir di money market funds, pertanyaannya bukan apakah likuiditas ada — tapi kapan dan ke mana ia bergerak ketika risk appetite berubah.