Sejak Milei menjabat Desember 2023, Peso Argentina sudah ambruk 75%. Bedah implikasi nyatanya untuk pasar, investor, dan emerging market.
Sejak Javier Milei resmi menjabat presiden Argentina pada 10 Desember 2023, Peso Argentina telah kehilangan 75% dari nilainya. Angka itu bukan sekadar statistik — itu adalah salah satu episode depresiasi mata uang paling ekstrem yang pernah dialami ekonomi besar mana pun dalam era modern, dan memahami apa yang terjadi di sini penting bagi siapa pun yang menaruh perhatian pada dinamika emerging market secara keseluruhan.
Bayangkan Anda menyimpan uang tunai senilai satu juta Peso di laci meja pada hari Milei dilantik. Hari ini, daya beli riil uang itu — diukur terhadap mata uang global — sudah menyusut menjadi seperempat dari nilai aslinya. Itulah yang 75% depresiasi rasakan di kehidupan nyata: bukan hanya angka di layar terminal sejumlah laporan pasar, melainkan erosi kekayaan yang nyata dan masif bagi siapa pun yang memegang aset berdenominasi Peso.
Konteks kebijakan di balik ini krusial. Milei naik ke tampuk kekuasaan dengan agenda shock therapy ekonomi — pemangkasan subsidi besar-besaran, konsolidasi fiskal agresif, dan devaluasi awal yang disengaja sebagai bagian dari upaya menstabilkan neraca fiskal yang sudah lama compang-camping. Depresiasi Peso sebagian adalah konsekuensi yang by designbukan semata-mata kegagalan pasar. Namun desain dan realita sering berselisih: inflasi yang dipicu devaluasi menekan daya beli masyarakat secara brutal, dan kepercayaan terhadap mata uang domestik sulit dibangun kembali setelah sekali runtuh sedalam ini.
Bagi investor yang bermain di ruang emerging market, Argentina menjadi pengingat keras bahwa currency risk adalah lapisan risiko yang tidak bisa diabaikan. Ketika sebuah mata uang ambruk sedalam ini, return dari aset ekuitas lokal — meski secara nominal terlihat positif — bisa lenyap sepenuhnya saat dikonversi ke dolar atau mata uang keras lainnya. Ini adalah jebakan klasik yang kerap mengecoh investor ritel yang hanya melihat performa indeks saham lokal tanpa memperhitungkan FX drag.
Implikasi untuk pasar obligasi juga tidak ringan. Sovereign debt Argentina yang berdenominasi dolar memang terisolasi dari depresiasi Peso secara langsung, tetapi kondisi fiskal yang volatile dan tekanan sosial akibat kebijakan austerity tetap menjadi variabel risiko yang dipantau ketat oleh pemegang obligasi. Spread yang lebar mencerminkan ketidakpastian itu.
Jika reformasi struktural Milei berhasil menekan defisit fiskal dan inflasi mulai jinak dalam horizon menengah, maka ada skenario di mana kepercayaan terhadap Peso perlahan pulih dan Argentina kembali menarik foreign flow ke aset-aset lokalnya. Sebaliknya, jika tekanan sosial dari kebijakan penghematan memaksa pemerintah mundur dari agenda reformasi — seperti yang berulang kali terjadi dalam sejarah Argentina — maka spiral depresiasi dan inflasi berpotensi berlanjut, dan risiko default kembali menjadi skenario yang harus diperhitungkan.
Yang layak dipantau ke depan adalah seberapa jauh disiplin fiskal pemerintah Milei bisa dipertahankan di tengah tekanan politik domestik, serta apakah inflasi Argentina menunjukkan tanda-tanda penurunan yang konsisten. Dua variabel itulah yang akan menentukan apakah 75% depresiasi ini menjadi titik nadir sebelum pemulihan, atau sekadar babak awal dari krisis yang lebih panjang.