Peso Argentina jatuh ke rekor terendah sepanjang masa, kolaps 99,8% terhadap dolar AS sejak 2009. Ini bukan sekadar angka — ini pelajaran keras soal inflasi dan kedaulatan mata uang.
Angka 99,8% bukan salah ketik. Sejak 2009, Peso Argentina telah kehilangan hampir seluruh nilainya terhadap dolar AS — dan per 25 September 2026, mata uang itu mencetak rekor terendah baru sepanjang sejarah. Ini bukan sekadar depresiasi biasa; ini adalah keruntuhan sistematis yang berlangsung lebih dari satu dekade, dan implikasinya jauh melampaui batas Buenos Aires.
Untuk memvisualisasikan skalanya: bayangkan selembar uang yang dulu bisa membeli satu mobil, kini hanya cukup untuk sebungkus permen. Itulah yang dialami warga Argentina yang memegang Peso. Ketika sebuah mata uang kehilangan 99,8% nilainya, bukan hanya daya beli yang hancur — kepercayaan publik terhadap institusi keuangan negara itu ikut runtuh bersamanya.
Dari perspektif pasar global, kejadian ini memperkuat satu narasi besar yang sudah berjalan lama: dolar AS tetap menjadi benteng terakhir di tengah ketidakpastian. Setiap kali mata uang emerging market mengalami tekanan ekstrem seperti ini, modal institusional cenderung bergerak ke aset safe haven — dolar, obligasi Treasury AS, dan emas. Aliran dana keluar dari aset berisiko di negara berkembang bisa semakin deras, terutama bila investor global mulai menyamakan Argentina hari ini dengan kisah-kisah krisis mata uang lain yang pernah terjadi di kawasan serupa.
Bagi pasar obligasi, kolapsnya Peso mempertegas betapa berbahayanya utang yang berdenominasi mata uang asing bagi negara dengan fundamental fiskal yang rapuh. Ketika mata uang lokal melemah drastis, beban utang dalam dolar secara efektif meledak dalam satuan lokal — menciptakan spiral yang nyaris mustahil diputus tanpa intervensi eksternal atau restrukturisasi besar-besaran. Investor obligasi sovereign di seluruh emerging market pasti memperhatikan ini sebagai pengingat tentang currency risk yang sering diremehkan saat siklus risk-on sedang berjalan.
Jika tekanan pada Peso terus berlanjut dan Argentina gagal menstabilkan ekspektasi inflasi domestiknya, maka sentimen terhadap aset emerging market secara luas bisa memburuk — termasuk berpotensi menekan mata uang dan obligasi negara berkembang lain yang memiliki profil defisit fiskal serupa. Investor akan semakin selektif, dan premi risiko untuk aset-aset tersebut bisa naik. Sebaliknya, jika ada sinyal kebijakan yang kredibel dari Buenos Aires — entah itu kesepakatan baru dengan kreditur internasional atau reformasi fiskal yang konkret — pasar bisa membaca itu sebagai titik balik, meski kepercayaan yang sudah hancur selama lebih dari satu dekade tidak akan pulih dalam semalam.
Yang perlu dipantau ke depan adalah respons kebijakan moneter Argentina dan apakah ada tekanan contagion ke mata uang emerging market lain yang sedang dalam posisi rentan. Ketika satu domino besar jatuh sedemikian dramatis, pasar selalu bertanya: domino mana yang berikutnya goyah?