PGN teken perjanjian pasokan gas 5.45 BBTUD dari Blok Tungkal, Sumatra Tengah, berlaku penuh 2026–2034 lalu ramping down hingga 2040. Implikasinya bagi PGAS?
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) baru saja mengamankan sumber pasokan gas jangka panjang melalui perjanjian dengan Mont D'Or Oil Tungkal Limited untuk Blok Tungkal di Sumatra Tengah. Kesepakatan ditandatangani 31 Agustus, dengan volume pasokan sebesar 5.45 BBTUD (Billion British Thermal Units per Day) yang akan berlaku penuh sepanjang 2026 hingga 2034, kemudian ramping down secara bertahap hingga 2040.
Ini bukan angka kecil. Untuk konteks, pasokan sebesar itu cukup signifikan untuk mendukung operasional distribusi PGN di jaringan pipa Sumatra yang sudah eksis — dan memang itulah rencananya. Gas dari Blok Tungkal akan diintegrasikan langsung ke infrastruktur eksisting PGN di Pulau Sumatra, melayani empat segmen: industri, komersial, usaha kecil, dan rumah tangga.
Dari sisi strategis, deal ini memperkuat posisi PGN sebagai backbone distribusi gas nasional di bawah payung Pertamina. Selama ini salah satu risiko utama bisnis midstream-downstream gas adalah kepastian pasokan hulu. Dengan kontrak yang mengunci volume hingga 2034, PGN punya visibility pendapatan yang jauh lebih solid dibanding tanpa kontrak jangka panjang semacam ini.
Yang menarik adalah struktur ramping down setelah 2034. Ini mengindikasikan bahwa cadangan Blok Tungkal memang tidak akan bertahan selamanya — wajar untuk lapangan di Sumatra Tengah yang secara geologi sudah memasuki fase matur. Tapi justru di sinilah manajemen risiko PGN diuji: apakah pada 2030-an nanti ada kontrak pengganti yang sudah disiapkan, atau distribusi akan bergantung lebih besar pada LNG sebagai komplemen pipa?
Harga saham PGAS di level 1530 bergerak dalam mild uptrend di sesi perdagangan terakhir. Secara fundamental, katalis positif dari kepastian pasokan jangka panjang ini seharusnya supportif untuk valuasi — terutama karena pasar selama ini mendiskon saham distribusi gas yang rentan terhadap supply gap. Namun perlu diingat, dampak finansial konkretnya baru akan terasa mulai 2026 ketika pasokan mulai mengalir penuh.
Untuk investor dengan horizon menengah-panjang, perjanjian Blok Tungkal ini adalah sinyal bahwa PGN sedang aktif mengisi pipeline pasokannya — bukan sekadar menunggu kebijakan dari induk. Itu sendiri sudah cukup untuk menjaga tesis investasi pada saham ini tetap relevan.