Kepemilikan asing di saham AS tembus rekor 60% dari aset finansial mereka, mencapai $24,32 triliun dan melampaui puncak Dot-Com Bubble 2000.
Portofolio investor global belum pernah seberat ini condong ke Wall Street. Pada Juli, total kepemilikan investor non-AS di saham Amerika Serikat menyentuh $24,32 triliun, menjadi nilai tertinggi ketiga sepanjang sejarah. Dari total aset finansial yang mereka tempatkan di AS, alokasi untuk instrumen ekuitas melonjak ke rekor 60%.
- Eksposur melampaui bubble masa lalu: Porsi kepemilikan asing di saham AS mencapai 60%, berada sekitar 6 poin persentase di atas rekor era Dot-Com Bubble tahun 2000.
- Pertumbuhan berlipat ganda: Sejak fase palung bear market 2022, nilai aset saham AS milik pemodal luar negeri meroket +$12,3 triliun atau naik +103%.
- Akumulasi tahun berjalan solid: Sepanjang tahun berjalan, modal asing menambah portofolio saham AS sebesar +$2,22 triliun, tumbuh +10%.
Lonjakan kepemilikan sebesar +103% sejak titik terendah bear market 2022 memperlihatkan skala akumulasi yang luar biasa agresif. Kenaikan nilai sebesar +$12,3 triliun dalam tempo relatif singkat menandai dominasi mutlak pasar ekuitas AS dalam menyedot likuiditas lintas negara. Minat modal asing terhadap saham AS berada pada level yang sangat kuat secara historis, mempersempit ruang diversifikasi dana global ke kelas aset maupun yurisdiksi lain.
Porsi alokasi ekuitas sebesar 60% dari total aset finansial AS membawa implikasi struktural yang serius. Angka ini sekitar 6 poin persentase melampaui puncak mania teknologi tahun 2000. Saat itu, bobot alokasi yang kelewat condong ke saham memicu kerentanan portofolio saat tren berbalik arah. Sisa 40% alokasi yang tersebar di instrumen non-saham menunjukkan bahwa ruang likuiditas tunai maupun obligasi milik asing telah banyak terserap demi mengejar reli bursa saham.
Tingginya konsentrasi modal ini menciptakan kondisi crowded trade. Ketika alokasi ekuitas investor global sudah berada di batas ekstrem atas, daya dorong marjinal untuk terus memompa valuasi mulai menipis karena posisi kas yang siap dikonversi menjadi saham semakin menyusut.
Jika momentum kinerja emiten dan daya tarik pasar AS terus melaju kencang, para pengelola dana global akan memilih mempertahankan eksposur agresif ini meski valuasinya kian mahal. Sebaliknya, jika muncul kejutan makroekonomi yang memicu perlambatan, pergeseran beberapa persen saja dari timbunan aset $24,32 triliun tersebut berpotensi memicu rotasi modal lintas negara serta tekanan likuiditas balik ke pasar obligasi dan instrumen luar negeri.
Ketahanan bursa AS kini sangat bertumpu pada selera risiko pemilik modal non-AS. Titik kritis berikutnya bergantung pada apakah porsi alokasi 60% ini masih sanggup menanjak atau justru mulai mengonfirmasi kejenuhan beli investor global.