Harga sawit stagnan di 4.895 ringgit/ton. Ekspor Malaysia turun 13%, tapi potensi lonjakan demand India jelang Diwali jadi kartu truf pasar.
Pasar minyak kelapa sawit sedang dalam mode wait and see — harga benchmark di Bursa Malaysia Derivatives bergerak mendekati 4.895 ringgit per ton pada sesi tengah hari, nyaris tak bergerak. Tapi di balik ketenangan ini, ada dua kekuatan yang saling tarik-menarik.
Di satu sisi, ekspor Malaysia periode 1–20 September tercatat turun 13% menurut data Intertek Testing Services. Penurunan ini bukan angka kecil — artinya stok yang seharusnya keluar justru tertahan, dan jika tren ini berlanjut, risiko glut di Malaysia sangat nyata. Kelebihan pasokan tanpa penyerapan demand yang sepadan adalah resep klasik untuk tekanan harga ke bawah.
Di sisi lain, pasar sedang mempertaruhkan satu katalis besar: India. Negara importir terbesar ini memang mencatat permintaan yang lackluster beberapa minggu terakhir, tapi Diwali jatuh pada awal November — dan secara historis, periode festival besar di India selalu mendorong lonjakan konsumsi minyak nabati. Ditambah lagi, ada sinyal dari pemerintah India soal kemungkinan pemangkasan import duties untuk minyak sawit, yang kalau terealisasi, bisa langsung membuka keran demand lebih lebar.
Satu data yang menarik untuk dicermati adalah posisi relatif sawit terhadap kompetitornya. Premi soybean oil terhadap palm oil saat ini berada di sekitar $303/ton, jauh di atas rata-rata satu tahun terakhir yang hanya ~$272/ton. Artinya, palm oil secara harga masih jauh lebih kompetitif dibanding soy oil — keunggulan ini seharusnya menjadi magnet bagi buyer yang sensitif terhadap harga, termasuk India.
Yang lebih menarik lagi adalah posisi sawit terhadap gasoil. Saat ini palm oil diperdagangkan dengan diskon ~$286/ton terhadap gasoil, padahal rata-rata satu tahun terakhir palm oil justru membukukan premi ~$126/ton. Pergeseran ini mencerminkan bahwa daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel sedang melemah secara relatif — atau harga energi yang bergerak lebih agresif. Bagi trader yang memainkan spread ini, angkanya cukup ekstrem untuk diperhatikan.
Secara YTD, palm oil sudah menguat +22% — bukan rally kecil. Momentum ini memberi ruang bagi profit-taking, terutama jika data ekspor September akhir tidak membaik. Tapi jika India benar-benar masuk sebagai buyer besar menjelang Diwali dan kebijakan duty cut terealisasi, narasi glut bisa dengan cepat berbalik menjadi tight supply.
Untuk saat ini, pasar memilih diam — menunggu siapa yang bergerak lebih dulu: stok yang menumpuk di Malaysia, atau permintaan yang datang dari India.