Gambaran sederhananya begini: bayangkan sebuah warung yang menjual barang dengan margin tipis, tapi biaya bahan baku terus naik, dan pelanggannya mulai menunggak. Itulah kondisi sektor perbankan Indonesia menjelang akhir 2026 — margin terjepit dari dua sisi sekaligus, sementara kualitas aset mulai mengirim sinyal peringatan.
Earnings growth rata-rata enam bank besar diproyeksikan hanya 4,3% di FY26, turun dari estimasi sebelumnya 4,9%. Angka ini bukan bencana, tapi konteksnya yang membuat khawatir: growth sebesar itu bukan ditopang oleh revenue yang kuat, melainkan oleh cost control dan provision release — dua cushion yang kini mulai menipis.
Masalah utamanya ada di NIM. Setiap bank dalam coverage mengalami NIM compression year-on-year di 2Q26: BBTN paling dalam turun 90bps, BMRI 36bps, BRIS 31bps, BBRI 30bps, BBCA 20bps, dan BBNI 10bps. Yang menarik, nama-nama dengan penurunan NIM terbesar adalah yang paling agresif menggunakan cost savings dan provision cuts untuk menjaga bottom line — pola yang justru mempersempit ruang gerak ke depan.
Kenapa NIM bisa tertekan sedalam ini? Dua driver utama. Pertama, yield aset jatuh karena bank berlomba masuk ke segmen yang sama — corporate, consumer, investment — sehingga pricing terdorong turun demi mempertahankan volume. Kedua, funding cost naik karena deposit growth tertinggal jauh dari loan growth, memaksa bank mencari dana yang lebih mahal.
Soal funding, ini yang perlu dicermati lebih dalam. Sepanjang 1H26, rata-rata net inflow Time Deposit per bank mencapai IDR27,7tn, sementara CASA net inflow hanya IDR14,4tn — bahkan di 2Q26, CASA secara agregat negatif IDR0,3tn. Ini kebalikan dari 1H25 ketika CASA masih mendominasi. BBCA adalah pengecualian: mereka berhasil menambah IDR37tn CASA di 1H26 dan justru membiarkan TD-nya turun IDR2tn. Hasilnya? Funding cost BBCA tetap terjangkar rendah. Bank-bank BUMN melakukan sebaliknya — empat bank negara menambah IDR159,4tn TD di 1H26, dengan BBNI dan BBTN bahkan mencatat net CASA outflow.
Lebih jauh lagi, ketika CASA stagnan dan TD makin mahal, bank-bank mulai mengandalkan non-deposit funding. Rasio non-deposit terhadap total deposit di 2Q26 melonjak signifikan: BMRI dari ~11% ke 18,4%, BBNI dari ~8,5% ke 13,1%, BBRI ke 13,4%. Bahkan BBCA yang biasanya di bawah 1% kini sudah 7%. Ini bukan sinyal positif — non-deposit funding bersifat market confidence-sensitive, repricing lebih cepat, dan tidak bisa diandalkan sebagai liquidity buffer jangka panjang.
Yang memperparah situasi: overnight IndONIA melonjak 175bps dalam satu kuartal ke 5,86% di 2Q26, melampaui BI rate 5,75% untuk pertama kalinya sejak 1Q25. SRBI outstanding kembali ke IDR1.080tn dengan weighted rate 7,42-7,53% — lebih tinggi dari bunga deposito 12 bulan. Artinya, bank-bank yang kelebihan likuiditas lebih memilih parkir di BI ketimbang menyalurkan ke pasar uang antar bank, sehingga bank yang kekurangan likuiditas terpaksa membayar harga mahal di margin. OMO balance BI melonjak ke IDR432,6tn di 2Q26 dari IDR39,1tn di 1Q26 — lebih dari dua kali lipat puncak sebelumnya.
Di sisi asset quality, watchlist (Kolektibilitas 2) enam bank besar naik ke IDR329,2tn di 2Q26 dari IDR296,8tn di 4Q25, dengan rasio terhadap total loan naik ke 5,41% dari 4,92%. Yang mengkhawatirkan: Col.2 kini tumbuh lebih cepat dari loan book itu sendiri. Sementara itu, coverage ratio untuk Col.2 justru turun ke 28,0% dari 28,8% — padahal watchlist-nya lebih besar. Ini terlihat seperti manajemen yang sengaja menjaga cost of credit rendah demi memenuhi guidance FY26. Risikonya: jika 20-30% Col.2 ini migrasi ke NPL (seperti pola siklus kredit sebelumnya), provisioning catch-up bisa menghantam bottom line di 4Q26 atau 1H27.
Dalam kondisi ini, pilihan menjadi lebih selektif:
- BBCA (target price IDR8.300, upside 30,7%) tetap yang paling defensif. CASA ratio 84,6% adalah structural moat yang sulit ditiru. LDR rendah dan loan growth yang sengaja dibatasi di 8% mencerminkan prioritas pada kualitas, bukan volume. NIM dipangkas ke 5,3% untuk 2026E, tapi profil profitabilitasnya masih jauh di atas peers.
- BRIS (target price IDR2.150, upside 30,7%) mendapat kredit dari gold-linked franchise yang memberikan earnings buffer counter-cyclical. Financing yield lebih defensif dibanding bank konvensional, meski asumsi CASA yang lebih rendah (60%) menjadi titik perhatian.
- BBRI (target price IDR4.100, upside 23,1%) punya NIM tertinggi di antara big banks (7,5%), tapi terpapar credit cost yang masih tinggi di segmen mikro dan policy lending exposure yang tidak bisa diabaikan. Transformasi CEO baru masih early-stage.
- BBNI (target price IDR4.570, upside 22,2%) sedang dalam proses rebuild corporate franchise, tapi ROE 11,8% masih terendah di antara Big Four. CASA improvement dan credit cost normalization adalah katalis yang masih harus dibuktikan.
- BBTN (target price IDR1.400, upside 19,7%) mendapat upgrade earnings dari cerita M&A, tapi funding flexibility tetap terbatas.
- BMRI (target price IDR5.100, upside 17,2%) paling banyak tekanan: funding strategy yang dianggap lemah, potensi margin pressure lanjutan, dan risiko deteriorasi di commercial loans membatasi earnings visibility jangka pendek.
Loan growth sistem memang terlihat kencang di 14% YoY per Juni 2026 — tapi angka itu mengandung IDR200tn penempatan SAL pemerintah ke Himbara. Kalau dikecualikan, growth organiknya hanya 11,52%, setara level pertengahan 2024. Bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Tanpa permintaan kredit yang lebih kuat atau disiplin pricing yang lebih ketat, buku pinjaman yang lebih besar belum tentu menghasilkan core profitability yang lebih baik.