Lalu lintas kapal di Selat Hormuz anjlok dari 125 menjadi 4 kapal per hari. Apa artinya bagi harga minyak, shipping costs, dan ketahanan energi Asia?
Selat Hormuz — jalur yang mengangkut porsi terbesar perdagangan energi global — kini nyaris beku. Pada Kamis pekan ini, hanya 4 kapal komoditas yang melintas. Angka itu bukan anomali sesaat: rata-rata 10 hari terakhir sudah di angka 15 kapal per hari, turun drastis dari baseline sekitar 125 kapal komersial per hari sebelum eskalasi konflik AS-Iran memanas.
Penurunan 97% dari baseline bukan sekadar statistik pelayaran. Ini adalah sinyal bahwa risk premium di pasar minyak global seharusnya sudah bergerak — dan jika belum, pasar sedang underpricing risiko geopolitik yang nyata.
Posisi kedua belah pihak saat ini membuat resolusi cepat tampak tidak realistis. Washington menegaskan tidak akan melanjutkan negosiasi kecuali Tehran menghentikan gangguan terhadap pelayaran komersial, sekaligus menolak menetapkan timetable untuk mengakhiri operasi militernya — durasi bergantung sepenuhnya pada perilaku Iran di selat tersebut. Di sisi lain, Iran menolak bernegosiasi under pressure dan menuntut agar agenda mencakup jaminan keamanan yang lebih luas, termasuk kendali atas jalur perairan itu sendiri. Gap antara dua posisi ini sangat jauh.
Dari perspektif pasar, ada tiga channel dampak yang perlu diperhitungkan.
Pertama, harga minyak mentah. Selat Hormuz adalah chokepoint yang tidak punya substitusi mudah. Rerouting via Cape of Good Hope menambah waktu dan biaya signifikan — dan tidak semua armada tanker bisa atau mau mengambil risiko itu. Supply disruption yang berkepanjangan akan menekan harga ke atas, terutama untuk crude grades yang biasa transit lewat jalur ini.
Kedua, shipping costs. War risk insurance premium untuk kapal yang melintas di kawasan ini sudah melonjak bahkan sebelum lalu lintas anjlok ke level sekarang. Dengan hanya 4 kapal berani melintas dalam sehari, operator yang masih beroperasi di sana memegang pricing power luar biasa. Ini berdampak ke landed cost energi di negara-negara importir, terutama di Asia.
Ketiga, Asian energy security. Jepang, Korea Selatan, India, dan China adalah importir minyak Timur Tengah terbesar yang sebagian besar transitnya melewati Hormuz. Gangguan berkepanjangan memaksa mereka mempercepat diversifikasi sumber energi atau memompa cadangan strategis — keduanya bukan solusi tanpa biaya.
Untuk investor di sektor energi dan komoditas, situasi ini menciptakan asymmetric setup: downside terbatas jika konflik mereda cepat, tapi upside pada harga minyak dan shipping stocks bisa substansial jika kebuntuan berlanjut melewati September. Volatilitas jangka pendek hampir pasti, dan posisi hedging via energy futures atau exposure ke tanker stocks menjadi relevan untuk dipertimbangkan dalam konteks ini.