SSIA (Surya Semesta Internusa) adalah salah satu cerita yang menarik di sektor industrial estate Indonesia — tapi bukan tanpa komplikasi. Setelah FY25 yang berat akibat penutupan hotel Melia Bali untuk renovasi dan keterlambatan pengakuan penjualan lahan, perusahaan ini diproyeksikan kembali mencetak net profit sebesar IDR 387bn di FY26, lalu tumbuh 13% lagi ke IDR 436bn di FY27. Angka ini bukan sekadar recovery — ini lompatan besar dari posisi net loss IDR 89bn di FY25.
Yang paling menarik perhatian adalah lonjakan land inquiry di Subang Smartpolitan. Per Juli 2026, jumlah inquiry hampir dua kali lipat dibanding Mei — dari kisaran 260 ha menjadi ~490 ha. Bayangkan antrean pembeli kavling yang tiba-tiba memanjang dua kali lipat dalam dua bulan. Ini bukan angka kecil. Automotive dan OEM manufacturer masih jadi sumber demand terbesar, sementara data center menyumbang sekitar 30% dari total inquiry.
Soal data center, perlu sedikit lebih realistis. Narasi AI dan hyperscale data center memang sedang panas, dan Indonesia punya daya tarik — lahan kompetitif, regulasi yang relatif suportif, dan Thailand yang justru sedang membekukan puluhan proyek data center akibat masalah zoning dan perizinan. Tapi di sisi SSIA, alokasi listrik dari PLN saat ini baru di kisaran 400–650 MW — dan itu dinilai belum cukup untuk mendukung gelombang besar hyperscale development. Konversi inquiry data center ke actual sales kemungkinan besar akan lebih lama dari sektor manufaktur konvensional. Jadi, jangan terlalu cepat pricing-in data center windfall untuk SSIA.
Dari sisi presales lahan, SSIA sudah mengamankan tambahan 14 ha dari existing tenants, membawa total Subang presales ke 16,2 ha — masih jauh dari target FY26 sebesar 121 ha. Namun manajemen mengindikasikan adanya diskusi lanjut dengan OEM manufacturer besar yang bisa mendorong pencapaian ke ~70% target. Dengan memasukkan asumsi bulk land sales di 2H26, total marketing sales FY26 diestimasi mencapai 104 ha (86% dari target manajemen), terdiri dari 92 ha Subang dan 12 ha Karawang.
Untuk revenue secara konsolidasi, proyeksi FY26 direvisi naik signifikan ke IDR 6,84tn dari sebelumnya IDR 6,12tn — kenaikan sekitar 11,8%. Driver utamanya dua: NRCA (anak usaha konstruksi) yang sudah mencapai 62,5% dari target new contract IDR 4tn hanya dalam 7 bulan, dan pemulihan bisnis hospitality pasca pembukaan Paradisus Bali.
Paradisus Bali baru fully operational per Mei 2026 — artinya 1H26 hanya merekam sebagian kecil kontribusinya. Hotel revenue keseluruhan di luar Paradisus tetap tumbuh 11% y-y, didorong kenaikan room rate dengan RevPAR naik 7–22% di berbagai properti. Ini sinyal bahwa segmen hospitality SSIA bukan sekadar pulih, tapi mulai menunjukkan pricing power yang lebih solid.
Dari sisi valuation, saham ini diperdagangkan di harga IDR 1.720 dengan target price IDR 2.300 — implied upside ~33,7%. Target price tersebut berbasis 60% discount ke FY27E NAV, setara 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata 10 tahun. RNAV per saham dihitung di IDR 5.598, dengan komponen terbesar dari Subang Smartpolitan (53% dari total gross NAV senilai IDR 22,25tn) dan Paradisus Bali (23% dari gross NAV senilai IDR 7,24tn).
P/E FY26E berada di 20,9x — bukan murah, tapi masih reasonable mengingat earnings base FY25 yang distorted. Yang perlu diperhatikan adalah NPM yang relatif tipis di kisaran 5,7–6,1% untuk FY26–27E, tertekan oleh financing cost untuk pengembangan Subang dan beban D&A dari pembukaan Paradisus.
Key downside risks yang perlu dicermati: kompetisi ketat dari industrial estate lain di koridor Barat Jawa, risiko keterlambatan penutupan bulk land sales Subang yang bisa menggeser revenue recognition ke FY27, serta potensi NRCA kehilangan momentum new contract di 2H26. Catalyst positif yang bisa mempercepat re-rating antara lain pembukaan Patimban Toll Road di 1H27 dan inaugurasi pabrik BYD pada September yang diharapkan menarik industri pendukung ke kawasan Subang.