Indonesia's data center market sedang memasuki fase yang berbeda dari sekadar hype. Global AI infrastructure spending mencapai USD 89.7bn hanya di Q1 2026, tumbuh 33% YoY, dan IDC memproyeksikan angka full-year 2026 menyentuh USD 497bn — naik ~56% dari 2025. Pipeline APAC sendiri tumbuh 37% dalam enam bulan pertama 2026 ke 26.5GW. Ini bukan siklus biasa.
Indonesia berada di posisi yang menarik dalam gelombang ini. Digital economy-nya sudah USD 99bn GMV di 2025, heading toward USD 180bn by 2030. Ada 214 juta smartphone users, rata-rata 7.5 jam online per hari, konsumsi data mobile yang hampir tiga kali lipat sejak 2020. Microsoft, Google, Oracle, Equinix, Digital Realty — semua sudah commit kapasitas onshore. Existing IT capacity sekitar 592MW, dan pipeline menunjukkan potensi melampaui 3GW. Bukan angka kecil.
Yang menarik adalah di mana permintaan ini mengalir secara geografis. Greater Jakarta masih anchor sekitar 67.7% kapasitas, tapi land availability mulai ketat — Bekasi sudah 80.5% sold. Tekanan ini yang mendorong demand bergerak ke timur: Cikarang dan Karawang untuk kebutuhan sekarang, Purwakarta dan Subang untuk skala yang lebih besar di masa depan. Batam mengambil peran berbeda — bukan untuk domestic workload, tapi sebagai regional overflow Singapore dengan latency sub-2ms setelah kabel Nongsa-Changi landing Juli lalu.
Di sinilah SSIA (Surya Semesta Internusa) masuk sebagai investment case yang layak dicermati. Perusahaan ini duduk di atas landbank Subang Smartpolitan seluas ~2.717ha gross, saleable ~1.766ha, dengan NAV estimate sekitar IDR 9.4tn untuk segmen tersebut saja. Subang bukan sekadar lahan murah — ini adalah opsi ekspansi natural ketika Cikarang-Karawang makin sesak, dan Patimban Access toll road yang ditargetkan beroperasi sekitar 2Q27 akan langsung memangkas logistics cost ke Patimban deep-sea port. Konektivitas infrastruktur adalah salah satu re-rating trigger paling konsisten untuk industrial estate pricing di Indonesia.
Dari sisi earnings, 1H26 sudah menunjukkan tanda pemulihan yang solid. Revenue naik 58.4% YoY ke IDR 3.35tn, net profit IDR 263bn versus net loss di 1H25. Industrial estate land sales menjadi driver utama — segment ini naik 543.6% YoY di 1H26, didorong oleh accounting recognition penjualan lahan di Subang. Hospitality juga rebound tajam setelah Paradisus by Meliá Bali kembali beroperasi, dengan revenue hotel naik 117% YoY di 1H26.
Forward projection untuk FY26-28F terlihat reasonable: revenue IDR 6.9tn–7.4tn, net profit IDR 387bn–479bn, gross margin meningkat ke kisaran 32.9%–34.7%. Valuation saat ini di P/E 20.6x FY26F dan P/BV 0.9x — tidak murah secara absolut, tapi kontekstual terhadap landbank yang belum sepenuhnya dimonetisasi dan pipeline inquiry yang disebut management terus menguat dari sektor data center, otomotif, garmen, dan fiber optik.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. SSIA bukan pure-play data center — ini industrial estate developer dengan exposure data center yang sedang berkembang, bukan yang sudah terbukti seperti DMAS di GIIC. Infrastructure readiness di Subang masih perlu dikembangkan lebih jauh sebelum bisa mereplikasi ekosistem GIIC. Dan seperti semua industrial estate play, risiko utamanya sederhana: kalau land sales miss, seluruh earnings story ikut turun.
Tapi kalau thesis data center supercycle Indonesia valid — dan data points yang ada cukup kuat untuk mendukungnya — maka SSIA menawarkan sesuatu yang DMAS sudah tidak bisa berikan: ruang untuk skala besar. Remaining land di GIIC makin terbatas, dan operator yang butuh 50–100ha+ untuk campus generasi berikutnya harus melihat ke tempat lain. Subang adalah kandidat paling logis di koridor timur Jakarta.
Target price IDR 2,500/sh mengimplikasikan upside ~47.5% dari level saat ini di IDR 1,695. Metodologi valuasi menggunakan kombinasi 10x PE untuk NRCA (anak usaha konstruksi), RNAV FY26F untuk segmen industrial estate, dan DCF 5-tahun untuk investment properties. Dengan net gearing masih manageable di ~16% per 1H26, balance sheet tidak dalam kondisi yang mengkhawatirkan meski capex meningkat signifikan.