LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Surplus Tipis Juli, Tapi Neraca Dagang RI Makin Rapuh

Angka surplus neraca dagang Indonesia Juli 2026 sebesar US$0,12 miliar memang terlihat seperti pemulihan setelah defisit US$0,45 miliar di bulan sebelumnya. Tapi jangan terlalu cepat lega — angka ini kecil, dan tren yang ada di baliknya justru semakin mengkhawatirkan.

Sejak kuartal ketiga 2025, neraca dagang Indonesia berada dalam tren penurunan struktural yang konsisten. Pemicunya bukan dari sisi ekspor, melainkan dari impor yang melonjak agresif: +27% yoy. Breakdown-nya cukup mengejutkan — impor capital goods naik 17,38% yoy, intermediate goods +32,33% yoy, dan yang paling berat adalah oil & gas yang melonjak hampir 50% yoy. Ini bukan sekadar efek base yang rendah. Ini cerminan dari domestic demand yang kuat, kebijakan fiskal yang ekspansif, dan harga minyak yang tetap tinggi.

Di sisi ekspor, growth hanya 6,05% yoy — moderat, dan sebagian besar didorong oleh coal serta manufactured goods ke ASEAN dan China. Komoditas andalan seperti CPO, nikel, dan batubara justru mengalami tekanan dari melemahnya permintaan China. Harga komoditas ekspor memang naik, tapi kenaikannya tidak cukup untuk mengimbangi lonjakan harga minyak impor. Inilah akar masalahnya: terms of trade Indonesia sedang bergerak ke arah yang tidak menguntungkan.

Implikasi terbesarnya ada di current account. Dengan oil import prices yang konsisten lebih tinggi dari commodity export prices, defisit current account 2026 diperkirakan akan semakin dalam. Ini memberikan tekanan struktural pada rupiah, yang secara seasonal seharusnya menguat di akhir tahun — tapi tekanan dari sisi current account bisa mengikis momentum itu. Proyeksi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.800–18.000 per dolar AS.

Satu-satunya penopang saat ini adalah capital inflows ke obligasi dan instrumen SRBI, yang masih cukup deras seiring membaiknya risk perception dan melemahnya US Dollar Index. Tapi support ini tidak unconditional. Jika Federal Reserve kembali bersikap hawkish — dan sinyal ke arah itu mulai muncul — maka Bank Indonesia akan terpaksa merespons. Skenario yang paling mungkin: BI menaikkan yield SRBI atau memperbesar volume lelang. Bahkan, satu kali kenaikan Fed rate 25bps berpotensi diikuti dua kali kenaikan BI Rate dengan magnitude yang sama.

Kondisi geopolitik di Selat Hormuz — konflik AS-Iran yang tampaknya menuju limbo standoff — turut menjaga harga minyak tetap elevated, tanpa ada kepastian kapan tekanan ini mereda. Selama harga minyak bertahan di level ini, pressure pada neraca dagang dan rupiah akan terus berlanjut.

Surplus Juli bukan sinyal pemulihan. Ini hanya jeda sementara dalam tren yang lebih dalam dan lebih serius.