Trump klaim harga bensin bisa turun di bawah $2/galon jika AS menang konflik dengan Iran. Apa implikasinya bagi pasar energi global?
Pernyataan Donald Trump di Truth Social pada 7 September 2026 langsung menarik perhatian pasar energi. Dalam unggahannya, Trump menyebut harga bensin akan turun ke $3 per galon — lalu berlanjut ke bawah $2 per galon — seiring dengan penurunan harga minyak mentah yang disebutnya akan terjadi quickly. Katalisnya? Kemenangan AS dalam konflik dengan Iran, plus jaminan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Ini bukan sekadar retorika kampanye. Geopolitik Timur Tengah punya track record yang konsisten dalam menggerakkan harga minyak. Ketegangan Iran selama ini menjadi salah satu risk premium utama dalam harga crude global — dan jika premium itu runtuh, baik karena deeskalasi maupun karena satu pihak dominan secara militer, pasar energi akan merepricing dengan cepat.
Yang menarik, proyeksi harga di bawah $2/galon bukan angka yang datang dari vakum. The Kobeissi Letter, akun analisis makro yang cukup diikuti, turut mempublikasikan proyeksi serupa — bahwa harga bensin bisa mencapai $2 per galon. Ini memberi sinyal bahwa narasi penurunan harga energi bukan hanya political messaging, tapi mulai masuk ke dalam diskursus analis.
Dari perspektif pasar, skenario ini punya dua sisi. Penurunan tajam harga minyak jelas bearish untuk saham-saham sektor energi — produsen minyak, perusahaan eksplorasi, hingga oil services. Di sisi lain, ini bullish untuk sektor yang energy-intensive: maskapai penerbangan, transportasi darat, petrokimia, dan konsumen diskresioner. Dalam konteks pasar saham Indonesia, saham-saham seperti emiten di sektor transportasi atau industri yang bahan bakunya bergantung pada harga energi global layak dicermati jika tren ini benar-benar terealisasi.
Namun ada yang perlu digarisbawahi: pernyataan Trump bersifat kondisional — if AS memenangkan konflik dengan Iran. Konflik bersenjata skala penuh dengan Iran justru berpotensi memicu supply disruption di Selat Hormuz, yang secara historis malah mendorong harga minyak naik, bukan turun. Pasar akan sangat sensitif terhadap eskalasi di fase awal sebelum ada kejelasan outcome.
Jadi, antara proyeksi $2/galon dan risiko supply shock, pasar energi sedang menghadapi dua skenario yang bergerak ke arah berlawanan. Positioning di sektor ini sepenuhnya bergantung pada bagaimana situasi geopolitik berkembang — dan itu bukan sesuatu yang bisa diprediksi dengan chart.