Trump ancam putus dagang dengan 50% mitra AS jika The Fed tidak cut rates. Pasar justru antisipasi rate hike dari Ketua Fed baru Warsh per 16 September.
Ancaman terbaru dari Presiden Trump membawa dimensi baru dalam ketegangan antara Gedung Putih dan Federal Reserve. Kali ini bukan sekadar tekanan verbal — Trump secara eksplisit mengaitkan kebijakan moneter The Fed dengan kebijakan perdagangan AS: jika The Fed tidak memangkas suku bunga, ia siap menghentikan hubungan dagang dengan negara-negara yang menyumbang defisit perdagangan terhadap Amerika Serikat.
Skala ancaman ini bukan hal kecil. Estimasi volume perdagangan bulanan AS yang berpotensi terhenti menembus angka $300 miliar, dengan sekitar 50% mitra dagang utama AS masuk dalam daftar yang berisiko — termasuk China, Meksiko, Jerman, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Kanada, hingga India. Trump juga mengklaim bahwa Supreme Court telah memberikan dasar hukum baginya untuk mengambil tindakan tersebut, menyebutnya sebagai absolute right.
Yang membuat situasi ini makin kompleks adalah posisi The Fed sendiri. Beberapa bulan lalu, Trump mensyaratkan bahwa calon Ketua The Fed pilihannya harus bersedia memangkas suku bunga — sebuah sinyal bahwa ia ingin bank sentral yang lebih akomodatif. Tapi pasar membaca situasi berbeda: Ketua The Fed Warsh, yang baru saja ditunjuk Trump, justru diantisipasi akan hike rates pada langkah kebijakan pertamanya. Tanggal 16 September menjadi titik kritis — hari keputusan suku bunga berikutnya sekaligus tenggat implisit dari ancaman perdagangan Trump.
Ini adalah ironi yang cukup tajam. Trump memilih Warsh dengan ekspektasi dovish, tapi pasar memposisikan Warsh sebagai figur hawkish. Jika Warsh memang menaikkan suku bunga, Trump dihadapkan pada dua pilihan: mundur dari ancamannya dan kehilangan kredibilitas, atau benar-benar memutus hubungan dagang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari perspektif pasar modal, skenario trade disruption senilai $300 miliar per bulan adalah tail risk yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Supply chain global yang melibatkan negara-negara tersebut — terutama China, Jepang, dan Korea Selatan — akan langsung terdampak, dan saham-saham dengan eksposur tinggi terhadap ekspor ke AS atau impor komponen dari AS akan menjadi yang paling rentan terhadap volatilitas.
Yang perlu diperhatikan investor adalah gap antara retorika dan eksekusi. Trump sudah beberapa kali mengeluarkan ancaman dagang yang kemudian dinegosiasikan ulang. Tapi skala dan spesifisitas ancaman kali ini — dengan tenggat tanggal yang jelas dan klaim legalitas dari Supreme Court — membuat pasar sulit untuk sepenuhnya price out risiko ini sebelum 16 September.