LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Trump vs Warsh: Tekanan Politik di Balik Keputusan Fed

Trump eskalasi tekanan ke Fed soal suku bunga. Pasar pricing 60% peluang hike September. Apa implikasinya bagi investor dan pasar global?


Sepuluh hari menjelang rapat Federal Reserve yang kemungkinan besar akan membahas kenaikan suku bunga, pemerintahan Trump melancarkan tekanan publik yang terkoordinasi dan unusually broad — melibatkan presiden, wakil presiden, menteri keuangan, hingga penasihat ekonomi senior. Ini bukan sekadar komentar lepas; ini adalah pressure campaign yang terstruktur, dan pasar modal global sedang mencermatinya dengan seksama.

Pressure Campaign yang Tidak Biasa

Dalam satu pekan terakhir, berbagai pejabat senior pemerintahan AS secara bergantian menyuarakan posisi yang sama: Fed tidak seharusnya menaikkan suku bunga, bahkan idealnya memangkasnya. Wakil Presiden JD Vance menyatakan secara eksplisit, "We believe that the Fed should be lowering interest rates." Treasury Secretary Scott Bessent menambahkan argumen teknis bahwa Fed secara historis tidak menaikkan suku bunga di tengah supply shock kecuali ada efek inflasi lapis kedua atau ketiga yang nyata.

Yang paling mengejutkan adalah langkah Trump sendiri. Melalui Truth Social, Trump mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mencatat surplus dagang dengan AS — kecuali Fed memangkas suku bunga. Ini adalah pertama kalinya Trump secara langsung mengaitkan kebijakan tarif dengan kebijakan moneter. Eskalasi retorika semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan di era konflik Trump-Powell yang paling panas sekalipun.

Peter Navarro, penasihat ekonomi senior, bahkan menyebut anggota Federal Open Market Committee (FOMC) sebagai "clowns" dan memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga akan berdampak buruk pada sektor-sektor yang paling krusial bagi pertumbuhan ekonomi Amerika.

Posisi Warsh dan Independensi Fed

Di tengah tekanan ini, Chairman Fed Kevin Warsh berada dalam posisi yang tidak mudah. Warsh sendiri telah menegaskan bahwa presiden tidak mempengaruhi keputusannya, dan dalam testimoni kongres Juli lalu, ia menggunakan fakta bahwa Fed menahan suku bunga — bukan memangkasnya — sebagai bukti independensi bank sentral.

Namun Warsh juga tidak sepenuhnya mengabaikan kekhawatiran inflasi. Dalam pidatonya di Jackson Hole, ia menekankan bahwa fokus Fed harus tetap pada inflasi, dengan menyoroti data yang cukup mengkhawatirkan: 54% dari 199 komponen dalam indeks harga PCE telah naik lebih dari 3% dalam 12 bulan terakhir. Ini bukan inflasi yang terlokalisasi pada satu atau dua kategori — ini adalah inflasi yang tersebar luas di berbagai segmen konsumsi.

Tiga anggota FOMC — Beth Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie Logan — bahkan sudah melakukan dissent di rapat Juli, memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sementara mayoritas memilih hold. Fakta ini menggambarkan bahwa tekanan internal untuk hike sudah ada jauh sebelum tekanan eksternal dari Gedung Putih meningkat.

Data Pasar: 60% Probability Hike di September

Pasar saat ini memprice sekitar 60% probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat 15-16 September, angka yang naik setelah rilis jobs report Agustus yang solid — employers menambah 162.000 pekerjaan baru. Namun ada nuansa penting dalam data tersebut: wage growth tetap terkendali. Average hourly earnings hanya naik 0,3% month-on-month dan 3,1% year-on-year, sementara unemployment rate stabil di 4,1%.

Dari perspektif Phillips Curve — teori ekonomi klasik yang menghubungkan tight labor market dengan tekanan upah dan inflasi — data ini sebenarnya memberikan sinyal campuran. Labor market masih kuat, tetapi wage inflation belum akseleratif. Inilah yang menjadi dasar argumen pemerintahan Trump bahwa growth tidak serta-merta memicu inflasi.

Namun Fed memiliki perspektif yang berbeda. Inflasi inti PCE, indikator pilihan Fed, berjalan di atas 3% secara annualized dalam tiga bulan terakhir — jauh di atas target 2%. Sementara pemerintahan Trump lebih suka mengutip angka core CPI tiga bulan annualized yang berada di 1,6%, perbedaan metodologi antara CPI dan PCE membuat kedua angka ini tidak langsung comparable.

Preseden Historis dan Timing Problem

Situasi ini memiliki parallels historis yang menarik. Pada Mei 2019, dalam periode pertama Trump, Wakil Presiden Mike Pence, Treasury Secretary Steve Mnuchin, dan Larry Kudlow semuanya secara terbuka menyerukan agar Fed mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Fed tidak langsung merespons, tetapi dua bulan kemudian memang memangkas suku bunga. Apakah pola ini akan berulang? Tidak ada yang bisa memastikan, tetapi pasar tampaknya sedang menghitung kemungkinan tersebut.

Argumen supply-side yang diusung pemerintahan Trump — bahwa investasi besar dalam AI dan infrastruktur akan meningkatkan produktivitas dan kapasitas ekonomi sehingga meredam inflasi — secara teoritis bisa valid. Masalahnya adalah timing. Manfaat produktivitas dari investasi AI bersifat jangka panjang, sementara demand untuk equipment dan infrastruktur AI saat ini justru sedang mendorong harga naik. Ini adalah classic case di mana supply-side story yang benar secara struktural tidak serta-merta relevan untuk keputusan kebijakan moneter jangka pendek.

Apa yang Diawasi Pasar Selanjutnya

Rilis data CPI yang dijadwalkan pada hari Jumat menjadi penentu kritis. Fed officials sendiri telah menyatakan bahwa angka CPI ini akan menjadi gauge utama apakah inflasi sedang melandai atau masih akseleratif — dan data ini berpotensi menjadi swing factor antara hike atau hold di rapat September.

Bagi investor yang mengikuti dinamika pasar global, ada beberapa implikasi langsung. Pertama, jika Fed tetap menaikkan suku bunga meski ada tekanan politik, ini akan memperkuat kredibilitas independensi Fed dan berpotensi mendorong penguatan dolar serta tekanan pada emerging market assets, termasuk IHSG. Kedua, jika Fed memilih hold, pasar akan menginterpretasikannya secara ambigu — apakah karena data memang mendukung hold, atau karena tekanan politik? Ambiguitas ini sendiri bisa menjadi sumber volatilitas.

Yang jelas, pertemuan September ini bukan sekadar rapat kebijakan moneter biasa. Ini adalah uji nyata independensi bank sentral terbesar di dunia, di tengah tekanan politik yang belum pernah terjadi dalam bentuk seperti ini. Hasilnya akan membentuk ekspektasi pasar tidak hanya untuk suku bunga AS, tetapi juga untuk bagaimana investor memprice political risk dalam aset-aset global ke depan.