LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Utang Global Tembus $365 Triliun, EM Jadi Biang Lonjakan

Utang global naik lebih dari $10 triliun di semester pertama 2026 ke rekor $365 triliun. Emerging market memimpin lonjakan dengan tambahan $6,5 triliun.


Angka yang keluar di penghujung September 2026 ini bukan sekadar rekor baru — ini adalah sinyal struktural yang mengubah cara kita membaca risiko di pasar global. Utang dunia melonjak lebih dari $10 triliun hanya dalam enam bulan pertama 2026menyentuh rekor absolut $365 triliun. Yang lebih mengejutkan bukan totalnya, melainkan dari mana lonjakan itu berasal: emerging market (EM) menyumbang $6,5 triliun dari kenaikan tersebut, mendorong total utang negara-negara berkembang ke rekor $110 triliun.

Bayangkan seseorang yang sudah punya cicilan rumah, kendaraan, dan kartu kredit — lalu dalam enam bulan tiba-tiba mengambil pinjaman baru senilai hampir setara cicilan tahunannya. Itulah gambaran kasar apa yang terjadi di level emerging market secara kolektif. Yang memimpin penambahan utang bukan sektor perbankan atau rumah tangga, melainkan pemerintah dan perusahaan non-finansial — dua entitas yang paling sensitif terhadap perubahan suku bunga dan nilai tukar.

Mengapa ini penting untuk pasar saham dan obligasi Indonesia serta EM lainnya? Ketika pemerintah dan korporasi di negara berkembang agresif menambah utang, mereka otomatis memperbesar kebutuhan refinancing ke depan. Ini seperti warung yang terus buka tab di supplier — selama dagangan laris, aman. Tapi begitu permintaan turun atau bunga pinjaman naik, tekanan likuiditas datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Dalam konteks pasar modal, lonjakan utang EM sebesar ini meningkatkan sensitivitas terhadap pergerakan dolar AS dan kebijakan suku bunga global. Jika dolar menguat atau yield obligasi AS naik, beban utang dalam mata uang asing langsung membengkak — dan itu menekan currency EM, memperketat kondisi keuangan domestik, serta berpotensi memukul earnings korporasi yang punya liabilitas valas besar.

Satu detail yang tidak boleh diabaikan: data ini sudah mengecualikan China — artinya lonjakan $6,5 triliun di EM bukan didominasi oleh satu raksasa tunggal, melainkan tersebar di berbagai negara berkembang lain. Ini justru lebih mengkhawatirkan, karena menunjukkan bahwa tren penumpukan utang bersifat sistemik dan luas, bukan anomali satu negara.

Jika kondisi likuiditas global tetap longgar dan dolar relatif stabil, maka beban utang ini masih bisa dikelola — aliran dana ke obligasi dan saham EM pun berpeluang bertahan. Sebaliknya, jika ada kejutan dari sisi kebijakan moneter global — misalnya tekanan inflasi yang memaksa bank sentral utama kembali mengetatkan kebijakan — maka negara-negara EM dengan defisit fiskal besar dan utang valas tinggi akan menjadi yang pertama terkena tekanan capital outflow. Dalam skenario itu, aset berisiko di pasar berkembang, termasuk saham dan obligasi korporasi berperingkat rendah, akan menghadapi repricing yang signifikan.

Yang perlu dipantau dari sini adalah tiga hal: arah kebijakan suku bunga bank sentral negara maju di kuartal terakhir 2026, pergerakan indeks dolar sebagai barometer tekanan terhadap mata uang EM, serta data utang lanjutan untuk semester kedua — apakah laju penambahan utang ini melambat atau justru makin eskalatif. Rekor $365 triliun bukan hanya angka statistik; ini adalah peta risiko yang akan menentukan warna pasar global hingga akhir tahun.