LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

97% Ekonom Skeptis Pasar Kerja: Sektor Mana Kena Imbas?

Survei 63 ekonom menilai kebijakan pasar kerja dan fiskal mandek. Simak efek riilnya ke daya beli, perbankan, dan emiten konsumer seperti ICBP dan BBRI.


Key Takeaways

  • Sebanyak 97% dari 63 ekonom menilai kebijakan penyerapan tenaga kerja saat ini tidak efektif atau sama sekali tidak berdampak.
  • Sebanyak 92% ahli meragukan belanja fiskal mampu menjaga pertumbuhan ekonomi, sementara 75% melihat kebijakan moneter mulai kehilangan daya dorong.
  • Mandeknya penciptaan lapangan kerja memukul daya beli kelas menengah, menekan prospek volume penjualan emiten konsumer dan pertumbuhan kredit bank.

Dari 63 ekonom yang disurvei, 61 orang atau 97% menyatakan kebijakan penciptaan lapangan kerja saat ini tidak efektif atau tidak memberi dampak apa pun. Hanya 2 orang yang menganggapnya bekerja. Angka ini bukan sekadar statistik ketenagakerjaan di atas kertas, melainkan cerminan riil dari motor konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari 53% produk domestik bruto.

Belanja Negara dan Bunga Acuan Kehilangan Daya Dongkrak

Keraguan serupa muncul di pos anggaran negara. Sebanyak 92% responden menilai stimulus dan belanja fiskal gagal menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Dari seluruh panel ahli, hanya 5 orang yang melihat belanja pemerintah berjalan efektif, sementara 58 lainnya menilai hasilnya nihil atau bahkan sangat buruk. Ketika stimulus fiskal tidak terarah, ekonomi kehilangan bantalan saat sektor riil melambat.

Di sisi lain, kebijakan moneter mulai mencapai batas kemampuannya. Sebanyak 75% ekonom menilai langkah menahan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi tidak lagi efektif. Bunga acuan yang bertahan di level tinggi terlalu lama mulai membebani biaya modal dunia usaha dan menahan penyaluran kredit baru.

Sektor Konsumer dan Kredit Perbankan Jadi Korban Pertama

Ketika penciptaan lapangan kerja formal tersendat, perputaran upah kelas menengah langsung terhenti. Efeknya paling cepat memukul emiten barang konsumsi dan ritel. Saham seperti ICBP, INDF, hingga ACES menghadapi risiko perlambatan volume penjualan karena konsumen beralih ke kemasan yang lebih hemat atau memangkas belanja sekunder.

Bagi sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBCA, situasi ini membatasi laju pertumbuhan kredit korporasi maupun konsumsi. Lebih dari itu, beban cicilan debitur mikro dan perorangan berisiko memburuk seiring berkurangnya pendapatan riil pekerja, yang berpotensi mengangkat rasio kredit macet (NPL).

Pasar saham saat ini belum sepenuhnya menghargai risiko penurunan daya beli ini. Selama penyerapan tenaga kerja formal tidak bergerak naik, kenaikan harga saham domestik akan rapuh dan sangat bergantung pada pergerakan arus modal asing (foreign flow) jangka pendek.