LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

AADI Terdiskon: Ada Peluang Dividen Jumbo Rp2.550

Valuasi AADI di P/E 5,3x tergolong murah di tengah kenaikan batubara ICI-3. Tambahan kas US$661 juta dari Kestrel membuka peluang dividen jumbo.


Key Takeaways

  • Harga batubara indeks ICI-3 menyentuh US$99,1 per ton (+65% yoy), jauh melampaui asumsi harga jual rata-rata (ASP) tahun buku 2026 yang dipatok US$71,0 per ton.
  • Penyelesaian divestasi 47,99% saham Kestrel menghasilkan dana bersih US$661 juta, membuka potensi pembayaran dividen hingga Rp2.550 per saham jika dibagikan penuh.
  • Valuasi saham berada di level 5,3x P/E dan EV/EBITDA 2,8x dengan posisi net cash serta estimasi ROE mencapai 21,0%.

Kenaikan harga batubara termal belum sepenuhnya tercermin pada harga saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Indeks ICI-3 berada di level US$99,1 per ton pada pertengahan Oktober, naik 65% secara tahunan dan menguat 16% sejak akhir Agustus. Sementara itu, proyeksi harga jual rata-rata (ASP) perseroan untuk tahun buku 2026 masih dipatok konservatif di US$71,0 per ton.

Asumsi Harga Jual Membuka Ruang Kenaikan Laba Bersih

Realisasi ASP pada paruh pertama 2026 telah menyentuh US$71,1 per ton. Pada kuartal kedua, realisasi harga jual perseroan setara dengan 93% dari harga acuan ICI-3. Apabila harga spot bertahan di level US$90-an per ton, proyeksi laba bersih tahun penuh 2026 sebesar US$884 juta berpotensi terlampaui. Realisasi laba bersih semester pertama sebesar US$474 juta sudah mengamankan 54% dari estimasi setahun penuh.

Biaya operasional yang rendah memberi daya ungkit tinggi. Struktur biaya tunai (cash cost) AADI bertahan di kisaran US$45 hingga US$50 per ton. Dengan volume produksi tahunan stabil di kisaran 68–70 juta ton dan porsi ekspor mencapai 75%, tiap kenaikan harga jual di pasar internasional langsung mengalir ke arus kas operasional tanpa terbebani biaya modal yang berat.

Dana Kestrel US$661 Juta Membuka Opsi Dividen Tambahan

Penyelesaian divestasi 47,99% kepemilikan di Kestrel per 1 Oktober 2026 memberikan dana bersih setelah pajak sekitar US$661 juta. Likuiditas tambahan ini memperkuat neraca keuangan yang memang sudah berada di posisi net cash dengan rasio net gearing -0,1x.

Tanpa beban utang perbankan yang menekan, ruang pembagian dividen terbuka sangat lebar. Skenario moderat dengan payout ratio 50% dari laba bersih operasional menghasilkan dividen reguler dengan yield 8,4%. Namun, jika manajemen memutuskan membagikan seluruh dana kas hasil divestasi Kestrel, total dividen per saham berpeluang mencapai Rp2.550, atau setara yield 22,7% terhadap harga pasar Rp11.200.

Valuasi P/E 5,3x Belum Memperhitungkan Kas Bersih

AADI kini diperdagangkan pada kelipatan 5,3x P/E dan EV/EBITDA 2,8x untuk estimasi 2026. Angka ini tergolong murah bagi produsen batubara berbiaya rendah yang mencatatkan ROE 21,0% dan tumpukan kas yang diproyeksikan melampaui US$1,2 miliar pada akhir tahun. Nilai wajar berbasis arus kas terdiskon (DCF) berada di Rp12.600 per saham.

Titik penentu berikutnya berpusat pada kepastian alokasi dana Kestrel dalam rapat umum pemegang saham terdekat, serta kemampuan indeks ICI-3 bertahan di atas US$90 per ton menjelang periode permintaan puncak musim dingin.