LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Arus Asing Masuk Obligasi, Yield 10Y Tetap Naik ke 7,21%

Dana asing beli bersih US$ 124,8 juta di obligasi pemerintah saat defisit APBN melebar ke 1,24% PDB. Simak arah yield 10 tahun dan IHSG.


Key Takeaways

  • Dana asing mencatat beli bersih US$ 124,8 juta di obligasi pemerintah pada 8 Oktober, melanjutkan pemulihan dari posisi terendah minus US$ 1.800 juta pada Maret.
  • Yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun naik 3 bps ke 7,21%, tertahan oleh pelebaran defisit anggaran ke 1,24% dari PDB per September.
  • IHSG turun 1,6% meski ada aksi beli bersih asing senilai US$ 1,7 juta, sementara rupiah stabil di 17.893 per dolar AS didukung penurunan harga minyak.

Dana asing masuk sebesar US$ 124,8 juta ke obligasi pemerintah dalam satu hari, tetapi yield tenor 10 tahun justru naik 3 bps ke level 7,21%. Pada saat yang sama, IHSG turun 1,6% dan defisit APBN per akhir September tercatat melebar ke 1,24% dari PDB. Dua arah yang kontras ini memperlihatkan pasar obligasi dan saham sedang merespons tekanan yang berbeda.

Foreign Flow Masuk, Kenapa Yield Malah Naik?

Secara kumulatif, arus modal asing ke pasar obligasi domestik sudah membalikkan tren awal tahun. Dari posisi terendah mendekati minus US$ 1.800 juta pada Maret, total beli bersih asing menembus lebih dari US$ 2.000 juta pada periode Agustus hingga September. Permintaan terhadap sekuritas rupiah Bank Indonesia turut menjaga ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik.

Masuknya dana asing belum cukup untuk menekan yield turun. Pelebaran defisit APBN ke 1,24% dari PDB menandakan pasokan surat utang baru tetap bertambah hingga akhir tahun. Ketika suplai obligasi meningkat, pasar meminta yield lebih tinggi untuk menyerap emisi baru tersebut, membatasi penurunan bunga obligasi tenor panjang.

Rupiah Bertahan di 17.893, Tekanan Pindah ke Saham

Nilai tukar rupiah bergerak stabil di level 17.893 per dolar AS. Penguatan mata uang Asia terhadap dolar AS serta penurunan harga minyak mentah memberi ruang napas bagi neraca perdagangan luar negeri. Indeks dolar AS juga turun tipis 0,1%, membuat tekanan di pasar valas relatif terkendali.

Beban penyesuaian justru terlihat di bursa saham. IHSG terkoreksi 1,6% meskipun investor asing masih mencatat beli bersih tipis senilai US$ 1,7 juta. Valuasi saham tertekan oleh tingkat yield obligasi yang masih bertahan di atas 7,2%, yang membuat biaya modal emiten tetap mahal.

Yang Menentukan Arah Yield Berikutnya

Arah yield obligasi domestik kini tertahan di antara data inflasi AS dan kepastian arah suku bunga The Fed. Selama yield obligasi global belum melandai lebih jauh dan pemerintah masih perlu membiayai defisit fiskal, yield 10 tahun akan tertahan di sekitar level 7,20%. Angka ini menjadi penentu apakah modal asing senilai US$ 124,8 juta tersebut bisa bertahan atau kembali berbalik keluar.