Anthropic catat rugi US$42 miliar pada 2025. Bedah rugi akuntansi US$34 miliar, kenaikan omzet 12 kali lipat, dan beban infrastruktur US$518 miliar.
Key Takeaways
- Anthropic mencatat rugi bersih US$42 miliar pada 2025, namun US$34 miliar di antaranya merupakan beban akuntansi non-kas akibat kenaikan nilai perjanjian pendanaan saham, bukan uang kas yang keluar dari operasional.
- Rugi operasional riil melebar menjadi US$8,06 miliar dari US$2,98 miliar pada 2024, kendati pendapatan naik 12 kali lipat mendekati US$4,6 miliar.
- Beban komputasi dan infrastruktur menyerap US$7,33 miliar atau 58% dari total beban operasional US$12,65 miliar, disertai komitmen sewa fasilitas komputasi US$518 miliar untuk tahun-tahun mendatang.
Rugi bersih US$42 miliar pada pembukuan Anthropic untuk tahun penuh 2025 langsung menarik perhatian pasar. Angka ini naik tajam dibanding rugi sekitar US$8 miliar pada 2024 dan hanya beberapa miliar dolar pada 2023. Namun, membaca laporan keuangan perusahaan teknologi tahap pertumbuhan menuntut pemisahan tegas antara beban akuntansi di atas kertas dan kas operasional yang benar-benar keluar dari rekening perusahaan.
Kertas Menelan US$34 Miliar, Biaya Operasional Tetap Lebar
Sebanyak US$34 miliar dari total kerugian tersebut berasal dari pos beban akuntansi akibat penyesuaian nilai wajar atas kesepakatan pendanaan. Dalam struktur pendanaan modal ventura dan persiapan penawaran umum perdana saham atau IPO, investor awal kerap menyetor dana melalui surat utang atau perjanjian konversi yang nantinya dapat ditukar menjadi saham saat valuasi perusahaan naik.
Untuk memahaminya secara sederhana, bayangkan seorang pemilik kedai kopi meminjam modal Rp100 juta dengan perjanjian: jika kedai ini dinilai berharga Rp1 miliar di masa depan, pemberi pinjaman berhak menukar pinjaman itu menjadi 10% kepemilikan saham. Ketika kedai tersebut sukses dan valuasinya naik menjadi Rp10 miliar, hak konversi milik investor tadi nilainya otomatis naik dari Rp100 juta menjadi Rp1 miliar. Dalam standar akuntansi keuangan, selisih kenaikan nilai hak tukar sebesar Rp900 juta itu wajib dicatat sebagai beban rugi pada laporan laba rugi tahun berjalan. Pemilik kedai sama sekali tidak mengeluarkan uang kas dari laci untuk membayar selisih tersebut. Hal serupa terjadi pada pos US$34 miliar di Anthropic: angka itu mencerminkan kenaikan nilai hak konversi saham investor, bukan uang kas yang dibakar di pasar.
Meski demikian, bukan berarti posisi keuangannya bebas dari tekanan. Tanpa memperhitungkan beban non-kas tersebut, rugi operasional Anthropic tetap melebar menjadi US$8,06 miliar pada 2025, naik hampir tiga kali lipat dari rugi operasional US$2,98 miliar pada 2024.
Pendapatan Naik 12 Kali Lipat Belum Menutup Beban Server
Pertumbuhan lini atas Anthropic mencatat angka yang kuat. Pendapatan tahunan naik 12 kali lipat menyentuh hampir US$4,6 miliar pada 2025. Pertumbuhan omzet ini tergolong sangat cepat untuk model bisnis penyedia perangkat lunak kecerdasan buatan.
Tantangan terbesarnya berada pada struktur biaya operasional. Total beban operasional Anthropic mencapai US$12,65 miliar sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, pos belanja komputasi dan infrastruktur menyerap US$7,33 miliar. Artinya, lebih dari 57% biaya operasional habis hanya untuk menyewa server dan daya pemrosesan data guna melatih serta menjalankan model AI. Pengeluaran server ini naik sekitar tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Rasio pembakarannya masih tinggi: untuk menghasilkan setiap US$1 pendapatan, Anthropic harus mengeluarkan biaya operasional sekitar US$2,75. Fakta ini membuktikan bahwa bisnis model AI fondasi belum menikmati operating leverage atau skala ekonomi, di mana pertumbuhan pendapatan semestinya mulai melaju lebih cepat daripada laju penambahan biaya operasional.
Beban US$518 Miliar Menjadikan Penyedia Cloud Pemenang Nyata
Bagian paling menentukan dalam prospektus ini bukan hanya beban tahun 2025, melainkan komitmen masa depan. Anthropic telah mengikatkan diri pada kontrak kewajiban sewa komputasi, cloud, dan infrastruktur senilai US$518 miliar untuk tahun-tahun mendatang.
Ibarat sebuah perusahaan ekspedisi kargo yang armada pengirimannya terus bertambah, namun seluruh truknya disewa dari pihak ketiga dengan kontrak jangka panjang berbiaya sewa pasti. Sementara itu, ongkos kirim yang mereka tagihkan ke pelanggan ritel setiap hari masih menghadapi persaingan harga yang ketat. Jika volume muatan melambat, beban sewa truk ratusan miliar dolar tersebut tetap wajib disetor penuh.
Dalam rantai bisnis teknologi saat ini, pihak yang paling diuntungkan dengan arus kas pasti adalah para penyedia komputasi awan skala besar atau hyperscaler dan produsen chip pemrosesan data. Mereka menerima uang sewa di muka dari pengembang model AI tanpa harus memikul risiko perang tarif langganan di tingkat pengguna akhir.
Yang Menentukan Kelanjutan Valuasi ke Depan
Bagi pasar modal dan valuasi saham teknologi secara umum, keberhasilan model bisnis Anthropic saat melantai di bursa akan diuji oleh satu hal: kemampuan menurunkan biaya komputasi per unit layanan sebelum komitmen kontrak US$518 miliar mulai jatuh tempo bertahap.
Hal utama yang perlu dipantau investor adalah penurunan biaya inferensi—biaya server setiap kali pengguna memproses perintah ke sistem. Jika efisiensi pemrosesan data tersebut tidak mampu melampaui penurunan harga jual paket langganan ke pelanggan korporasi, tekanan pada margin laba kotor akan terus berlanjut dan menuntut tambahan modal baru dari pasar saham.