BI menahan suku bunga di 5,75%, tapi risiko MSCI dan yield obligasi membuka ruang kenaikan ke 6,00% di akhir tahun. Simak ulasan arah rupiah dan pasar SBN.
Key Takeaways
- Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, namun peluang kenaikan 25 bps ke 6,00% tetap terbuka sebelum akhir tahun.
- Koreksi IHSG sebesar 15% akibat rencana reklasifikasi MSCI dinilai sudah terdiskon di pasar, sehingga fokus risiko bergeser ke pasar obligasi.
- Ketahanan rupiah bertumpu pada pasar SBN yang masih mencatatkan arus masuk modal asing sebesar USD0,66 miliar pada awal kuartal IV.
Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada pertemuan Oktober, namun arah kebijakan tetap condong ketat. Peluang kenaikan satu kali sebesar 25 basis poin ke 6,00% masih terbuka lebar pada kuartal IV, dengan risiko pengetatan lanjutan hingga paruh pertama tahun depan demi menjaga stabilitas rupiah.
Kepanikan Saham Mulai Mereda
Kabar reklasifikasi bursa domestik oleh MSCI memicu tekanan jual tajam. IHSG sempat turun hampir 15% dalam kurun 16 hingga 19 Oktober, sebelum rebound 5,3% pada 20 Oktober setelah respons dari regulator. Pelemahan harga saham ini sebagian besar sudah diperhitungkan oleh pasar.
Aksi jual modal asing di bursa saham bukan pemicu utama yang memaksa suku bunga acuan naik lebih jauh. Tekanan yang lebih nyata datang jika aksi jual merembet ke pasar obligasi pemerintah (SBN). Selama dana asing di SBN tidak keluar dalam jumlah besar, tekanan terhadap rupiah masih bisa ditahan.
Pasar Obligasi Jadi Penopang Rupiah
Pergerakan pasar obligasi kini menjadi penentu langkah moneter berikutnya. Yield SBN sempat merangkak naik saat yield US Treasury justru melandai, menandakan pasar meminta premi risiko lebih tinggi untuk memegang aset rupiah.
Bank sentral mulai mengurangi intervensi langsung di pasar valas spot karena biayanya yang menguras cadangan devisa. Sebagai gantinya, penyerapan modal dialihkan melalui SRBI, fasilitas lindung nilai valas, dan kenaikan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin ke level 5,00%. Sejauh ini, strategi tersebut masih bekerja. Portofolio asing masih mencatat arus masuk bersih USD0,66 miliar pada kuartal IV hingga 19 Oktober karena aliran dana ke SBN mampu menambal modal yang keluar dari saham.
Beban Eksternal Menutup Ruang Pelonggaran
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi masih diproyeksikan berada di 5,2%. Inflasi umum September berada di 3,28% secara tahunan dan inflasi inti melandai ke 2,84%, masih di dalam target 1,5–3,5%. Angka inflasi domestik sebenarnya tidak menuntut kenaikan bunga acuan baru.
Masalahnya murni berasal dari faktor luar. Inflasi Amerika Serikat yang bertahan tinggi, potensi bunga The Fed yang tetap ketat, dan tingginya harga minyak dunia memperbesar tagihan impor valas Indonesia. Jika rupiah terus melemah dan arus dana SBN berbalik keluar, kenaikan BI rate ke level 6,00% tinggal menunggu waktu.