LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BI Tahan Bunga di 5,75%, Likuiditas Bank Dibuka via GWM

BI menahan suku bunga acuan di 5,75% dan memangkas GWM 200 bps untuk menopang likuiditas perbankan di tengah melambatnya pertumbuhan DPK.


Key Takeaways

  • BI menahan suku bunga acuan di 5,75% dan menaikkan deposit facility 25 bps ke 5,00% untuk menjaga stabilitas rupiah.
  • Giro Wajib Minimum (GWM) bank konvensional dipangkas bertahap sebesar 200 bps dari 9,0% ke 7,0% pada November hingga Desember 2026.
  • Pertumbuhan DPK September 2026 turun ke 8,22% YoY, tertinggal jauh di belakang pertumbuhan kredit yang mencapai 13,26% YoY.
  • Ruang ekspansi perbankan tetap ditopang fasilitas kredit belum ditarik (undisbursed loan) sebesar Rp2.562 triliun dan CAR di level 24,10%.

Bank sentral memilih jalur tengah pada pertemuan Oktober 2026. BI Rate bertahan di level 5,75% dan lending facility di 6,50%, tetapi deposit facility dinaikkan 25 bps menjadi 5,00%. Pada saat yang sama, pelonggaran likuiditas dibuka lebar lewat pemangkasan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 200 bps hingga akhir tahun.

Gap Kredit dan DPK Memaksa BI Buka Keran GWM

Langkah memangkas GWM bank konvensional dari 9,0% menjadi 8,0% per 1 November dan lanjut ke 7,0% per 1 Desember 2026 bukan tanpa alasan. Perbankan sedang menghadapi ketimpangan dana. Pertumbuhan kredit per September 2026 berada di level 13,26% YoY, sedikit turun dari 13,58% di Agustus. Masalah utamanya ada di sisi pendanaan: pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) turun ke 8,22% YoY, level terendah sepanjang tahun.

Kebutuhan modal riil masih cukup tinggi. Kredit investasi tumbuh 23,20% YoY dan kredit modal kerja naik 11,89% YoY, sedangkan kredit konsumsi hanya tumbuh 4,86% YoY. Tanpa pelonggaran likuiditas primer dari bank sentral, perbankan akan kesulitan mendanai permintaan kredit baru tanpa berebut dana simpanan yang bisa mengerek biaya dana.

Ruang Bertahan Bank Masih Tebal

Kondisi perbankan sendiri belum masuk tahap mengkhawatirkan. Rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di level 24,08%, didukung insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang sudah terserap Rp458,5 triliun pada awal Oktober. Permodalan juga kokoh dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di 24,10% per Agustus 2026, disertai kualitas aset yang terjaga dengan NPL gross 2,11% dan NPL net 0,84%.

Di sisi lain, ada undisbursed loan senilai Rp2.562 triliun atau setara 21,7% dari total plafon kredit yang tersedia. Pemangkasan GWM sebesar 200 bps bagi bank konvensional dan bank syariah (dari 7,5% ke 5,5%) akan mengembalikan dana mengendap di BI ke neraca perbankan sebagai aset produktif, membantu menjaga net interest margin tetap sehat di tengah kenaikan bunga simpanan BI.

Yang Menentukan Efektivitas Kebijakan Ini

BI berupaya menjaga dua kepentingan sekaligus: menjaga daya tarik imbal hasil rupiah dari arus keluar dana asing lewat kenaikan deposit facility ke 5,00%, sembari menginjeksi likuiditas langsung ke bank tanpa memangkas suku bunga acuan. Keberhasilan langkah ini akan ditentukan oleh seberapa cepat DPK perbankan bisa kembali tumbuh mendekati laju kredit. Jika pertumbuhan DPK bertahan di bawah 9%, pemangkasan GWM hanya memberi ruang napas sementara bagi likuiditas perbankan.