Saham AI tertekan beban utang dan capex jumbo. S&P 500 ex-AI unggul saat rotasi dana beralih ke sektor energi dan konsumer defensif.
Key Takeaways
- S&P 500 ex-AI naik 6% sepanjang Oktober dan mulai mengungguli indeks utama secara tahunan, sementara saham teknologi turun 10%.
- Spread obligasi korporasi AS melebar 6 bps karena pasar mulai meragukan return investasi AI di tengah lonjakan belanja modal yang didanai utang baru.
- Posisi leverage hedge fund anjlok ke persentil ke-5 dalam tiga tahun terakhir, mendorong pergeseran dana ke saham energi dan konsumer non-siklikal yang naik 10%.
Pasar saham tidak lagi menelan mentah-mentah janji ekspansi kecerdasan buatan. Di Oktober, indeks S&P 500 bergerak mendatar dengan volatilitas rendah sekitar 10,5%, namun di balik pergerakan tenang itu terjadi pergeseran tajam: kelompok saham S&P 500 di luar AI naik 6% dan kini mencatat kinerja lebih baik dibandingkan indeks induknya sepanjang tahun berjalan.
Biaya Utang Hyperscaler Mulai Dihitung
Pemicu utama koreksi saham teknologi bermula dari pasar surat utang. Spread obligasi investment grade AS melebar 6 bps sepanjang Oktober. Lebih spesifik lagi, spread obligasi korporasi hyperscaler penyedia infrastruktur data melebar terhadap obligasi industri peringkat A, meskipun tidak ada emisi obligasi baru sejak Agustus.
Pasar mulai menguji apakah laba masa depan dari monetisasi AI sanggup menutup kebutuhan modal raksasa (capex) dan beban bunga pinjaman. Ketika biaya dana bertahan di level tinggi, setiap tambahan penerbitan obligasi untuk membangun pusat data langsung memangkas proyeksi keuntungan ekuitas.
Hedge Fund Memangkas Leverage, Dana Pindah ke Energi
Kecemasan terhadap keberlanjutan belanja teknologi memicu penurunan posisi utang atau deleveraging dari pengelola dana lindung nilai. Posisi net leverage pada strategi long-short anjlok ke persentil ke-5, posisi terendah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Efeknya langsung terlihat pada rotasi antar-sektor. Saham sektor teknologi yang sempat naik 5% sampai 10% di September berbalik turun sekitar 10% di Oktober. Di saat yang sama, sektor energi dan konsumer kebutuhan pokok (consumer staples) mencatat kenaikan sekitar 10%. Tekanan harga pada rantai pasok industri dan harga energi yang kembali naik mempercepat arus keluar dari saham teknologi ber-P/E tinggi ke sektor-sektor beraset riil.
Batas Toleransi Valuasi di Yield 5%
Korelasi imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terhadap kelipatan valuasi laba (P/E ratio) S&P 500 membentuk kurva U terbalik. Valuasi saham biasanya masih toleran terhadap kenaikan yield obligasi selama pertumbuhan laba per saham (EPS) berada di atas tren rata-rata.
Namun, toleransi ini memiliki batas. Begitu yield obligasi 10 tahun mendekati level 5%, valuasi pasar ekuitas secara historis mengalami penurunan peringkat atau de-rating. Selama biaya pembiayaan tetap mahal dan tekanan harga pada komponen biaya produksi manufaktur belum mereda, ruang ekspansi valuasi saham teknologi berkapitalisasi besar akan tetap terhambat.