Indeks S&P 500 equal-weight turun 7 pekan beruntun mendekati pola Dot-Com 2002. Analisa mendalam kondisi breadth pasar saham dan efeknya ke portofolio.
Key Takeaways
- Indeks S&P 500 equal-weight mencatat penurunan selama 7 minggu beruntun, menyamai fase bear market 2022 dan menjadi rentang terpanjang sejak krisis Dot-Com 2002.
- Di New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham yang menyentuh level terendah 52 minggu melampaui saham pencetak level tertinggi selama 12 hari perdagangan beruntun dan 17 dari 18 hari bursa terakhir.
- Rasio ETF equal-weight RSP terhadap S&P 500 menyentuh level terendah sepanjang sejarah, dipicu oleh penurunan sektor Financials sebesar 7% di bulan September sementara hanya sektor teknologi yang bertahan naik.
- Kuartal ketiga berakhir dengan selisih 263 saham yang turun lebih banyak dibandingkan saham yang naik, memperlihatkan betapa sempitnya penopang pergerakan indeks utama.
Indeks S&P 500 masih bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa, tetapi angka di balik layar memperlihatkan kenyataan yang berbanding terbalik. Indeks S&P 500 equal-weight berada di jalur penurunan mingguan ke-7 berturut-turut. Rentetan penurunan selama tujuh pekan ini merupakan yang terpanjang sejak tahun 2002 saat krisis Dot-Com, sekaligus menyamai catatan saat bear market tahun 2022.
Ilusi Angka Indeks dan Perumpamaan Lima Pendayung Perahu
Untuk memahami mengapa kondisi ini penting, investor perlu membedakan dua cara menghitung indeks saham: bobot kapitalisasi pasar (cap-weighted) dan bobot setara (equal-weight). Pada indeks S&P 500 standar, saham dengan nilai pasar triliunan dolar seperti Apple, Microsoft, dan Nvidia memiliki porsi yang sangat besar. Ketika segelintir saham raksasa ini naik 2%, angka indeks utama bisa tetap hijau meskipun ratusan saham berukuran sedang dan kecil sedang melemah.
Bayangkan sebuah perahu besar yang membawa 500 orang penumpang. Di barisan paling depan, ada lima atlet dayung bertubuh raksasa yang mendayung sekuat tenaga. Dari kejauhan, perahu tersebut tampak melaju kencang memecah ombak. Namun jika kita melangkah ke bagian belakang perahu, 495 penumpang lainnya justru sedang melepas dayung dan membiarkan perahu terseret arus. Selama lima atlet di depan tidak berhenti mendayung, perahu tetap terlihat melaju. Masalah baru muncul ketika tenaga kelima pendayung raksasa itu habis.
Kondisi ini tercermin pada rasio Invesco S&P 500 Equal Weight ETF (RSP) terhadap indeks S&P 500 standar yang menyentuh titik terendah sepanjang sejarah. Bobot setara memberi porsi 0,2% pada setiap saham tanpa memandang ukuran perusahaan. Turunnya rasio ini membuktikan bahwa kenaikan pasar saat ini hanya ditopang oleh segelintir raksasa teknologi, sementara mayoritas emiten lainnya tertinggal di belakang.
Titik Terendah 52 Minggu Mendominasi Lantai Bursa
Kerapuhan struktur pasar terlihat semakin jelas lewat data market breadth, yaitu ukuran seberapa banyak saham yang ikut berpartisipasi dalam pergerakan bursa. Di bursa NYSE, jumlah saham yang menyentuh level terendah dalam 52 minggu (52-week lows) kini melampaui jumlah saham yang mencetak level tertinggi baru (52-week highs) selama 12 hari perdagangan beruntun. Bila ditarik sedikit lebih panjang, kondisi pelemahan ini terjadi pada 17 dari 18 sesi terakhir.
Kuartal ketiga tahun ini juga ditutup dengan catatan yang timpang. Terdapat 263 lebih banyak saham yang mengalami penurunan harga dibandingkan saham yang mencatat kenaikan. Tekanan jual di bursa saham sebenarnya menyebar luas ke berbagai lini bisnis, tetapi tertutupi oleh angka indeks utama yang tampak kokoh di layar monitor.
Secara historis, rentetan pelemahan partisipasi pasar yang sedalam ini hanya muncul pada dua situasi. Pertama, ketika pasar saham sudah berada di titik nadir setelah penurunan panjang. Kedua, sesaat sebelum terjadi aksi jual yang lebih luas di seluruh pasar saham. Karena saat ini indeks acuan bertengger di dekat titik tertinggi baru, sejarah mencatat bahwa situasi ini kerap mendahului aksi jual umum sebelum valuasi saham mengalami penyesuaian.
Hanya Dua Sektor yang Mampu Bertahan di Zona Hijau
Pemisahan kinerja antar sektor semakin mempertegas sempitnya fondasi kenaikan pasar. Sepanjang bulan September, dari 11 sektor yang ada di indeks S&P 500, hanya dua sektor yang berhasil mencatat keuntungan: Information Technology dan Communication Services. Seluruh sektor lainnya berada di zona merah.
Sektor keuangan (Financials), yang merupakan cerminan langsung dari aktivitas kredit, perbankan, dan denyut nadi ekonomi riil, turun 7% dalam periode yang sama. Pelemahan sektor perbankan ini kontras dengan penguatan saham-saham semikonduktor dan perangkat lunak. Ketika sektor keuangan dan industri melemah sementara saham teknologi terus dipacu, pasar modal sedang berjalan dengan satu kaki.
Bagi pasar modal di negara berkembang termasuk IHSG, konsentrasi likuiditas global pada segelintir saham teknologi AS membawa efek tersendiri. Ketika dana global terkunci pada segelintir saham raksasa di Wall Street, arus dana asing (foreign flow) ke bursa domestik cenderung bergerak lebih selektif. Selain itu, jika valuasi saham teknologi global tersebut mulai mengalami koreksi akibat ekspektasi laba yang meleset, gelombang aksi jualnya bisa menjalar ke pasar saham global secara keseluruhan.
Yang Menentukan Arah Pergerakan Berikutnya
Kondisi di mana pasar modal berjalan dengan partisipasi yang sempit tidak pernah bertahan lama. Ada dua skenario yang bisa menutup jarak pemisah ini. Skenario pertama adalah catch-up, di mana saham-saham perbankan, konsumer, dan industri yang tertinggal mulai dibeli kembali oleh pasar seiring membaiknya prospek laba, sehingga mengangkat performa indeks equal-weight tanpa harus menjatuhkan indeks utama.
Skenario kedua adalah catch-down, yaitu skenario yang lebih sering terjadi secara historis. Pada skenario ini, para pemegang saham megacap mulai mengunci keuntungan (profit taking) setelah valuasi saham teknologi dinilai terlalu mahal. Ketika segelintir penopang utama ini turun, ketiadaan bantalan dari 495 saham lainnya membuat penurunan indeks acuan terjadi dengan cepat.
Ujian terdekat dari arah pergerakan ini terletak pada rilis laporan kinerja keuangan kuartalan emiten teknologi besar. Selama laba bersih emiten raksasa tersebut mampu melampaui estimasi analis (earnings beat) dengan margin yang tebal, perahu indeks masih bisa terus melaju. Namun, begitu pertumbuhan laba mulai melambat sementara saham-saham sektor riil tetap tertahan di level terendah, pasar saham harus bersiap menghadapi penyesuaian harga yang jauh lebih wajar.