Brent turun ke bawah US$100 karena rilis cadangan G7, tetapi tarif tanker VLCC naik 43 kali lipat ke US$1,3 juta per hari. Saham kapal tertinggal.
Key Takeaways
- Tarif sewa kapal tanker VLCC rute Teluk ke China naik 43 kali lipat dari US$30 ribu per hari pada Januari menjadi US$1,3 juta per hari, menambah beban ongkos angkut sekitar US$33 untuk tiap barel minyak.
- Kontrak berjangka tarif sewa kapal melalui BWET sudah naik 20 kali lipat dibanding level Februari dan berada di 946,56 USD, mendekati batas atas rentang tahunannya di 979,99 USD.
- Saham pemilik armada tanker seperti FRO, DHT, TNK, dan INSW baru naik 1,8 kali lipat, memperlihatkan jarak valuasi yang lebar terhadap kenaikan tarif di pasar fisik.
Brent turun kembali ke bawah US$100 per barel setelah rilis cadangan minyak darurat oleh negara-negara G7. Langkah pelepasan cadangan ini menahan harga minyak mentah di layar perdagangan, tetapi pasar mengabaikan masalah yang jauh lebih menentukan di rantai pasok. G7 bisa mengeluarkan barel minyak dari tangki cadangan, tetapi mereka tidak bisa mencetak kapal tanker baru dalam sekejap.
Ongkos Angkut Menambah US$33 ke Setiap Barel Minyak
Tarif sewa kapal VLCC (Very Large Crude Carrier) untuk rute dari kawasan Teluk menuju China kini berada di kisaran US$1,3 juta per hari. Pada Januari, tarif rute yang sama berada di kisaran US$30 ribu per hari. Kenaikan 43 kali lipat ini membuat biaya angkut (freight) sendiri menyumbang tambahan sekitar US$33 untuk setiap barel minyak mentah yang dikapalkan.
Ketika biaya logistik dari pelabuhan muat ke pelabuhan bongkar naik setinggi itu, penurunan harga acuan minyak di pasar berjangka kehilangan maknanya bagi pembeli akhir. Minyak mentah boleh saja turun tipis di bursa komoditas, tetapi pasokan yang tidak bisa diangkut sama saja dengan pasokan yang tidak ada di pasar tujuan.
Pasar Fisik Menghitung Krisis, Saham Mengharap Damai
Kontrak berjangka yang mengukur tarif sewa kapal, seperti tercermin pada gerak BWET, sudah naik 20 kali lipat dibanding posisi Februari. Harga BWET kini berada di level 946,56 USD, bergerak tipis di bawah titik tertinggi rentang 52 minggunya di 979,99 USD setelah bergerak dari titik terendah 13,89 USD. Pelaku pasar kargo fisik jelas memperhitungkan kelangkaan armada dan gangguan rute yang berkepanjangan.
Sementara itu, harga saham para pemilik kapal tanker seperti FRO, DHT, TNK, dan INSW baru naik sekitar 1,8 kali lipat dari titik awalnya. Ada perbedaan pandangan yang lebar di antara kedua alat ini. Tarif sewa fisik memperhitungkan krisis yang panjang, sedangkan harga saham pemilik kapal bertindak seolah gencatan senjata dan normalisasi rute pelayaran akan segera terjadi. Salah satu dari kedua pasar ini salah membaca keadaan. Melihat sulitnya menambah kapal baru di laut, posisi pasar fisik jauh lebih masuk akal.
Jika tarif sewa kapal bertahan di kisaran US$1,3 juta per hari lebih lama, maka lonjakan arus kas harian akan tercermin penuh pada laporan keuangan dan memaksa valuasi saham FRO, DHT, TNK, serta INSW mengejar ketertinggalannya dari pasar fisik. Sebaliknya, jika ketegangan rute mereda dan ketersediaan kapal kembali normal secara tiba-tiba, maka kontrak berjangka tarif di BWET yang berada di 946,56 USD akan berbalik turun mendekati level awalnya, sementara saham emiten perkapalan akan kehilangan pendorong labanya sebelum sempat mengejar reli tarif tersebut.
Yang menentukan arah perdagangan sekarang bukan berapa banyak barel yang dilepas G7 dari fasilitas darurat, melainkan ketersediaan armada tanker yang siap berlayar di laut. Selama tarif angkut bertahan di jutaan dolar per hari, penurunan harga Brent di bawah US$100 hanyalah angka di atas kertas.