Sebanyak 45% bank sentral utama dunia kembali menaikkan suku bunga. Narasi higher for longer kembali dan menekan likuiditas pasar global.
Key Takeaways
- Sebanyak 15 dari 33 bank sentral utama (45%) menaikkan suku bunga dalam 6 bulan terakhir, porsi terbesar sejak 2023.
- Sepanjang 2026, tercatat sudah 54 bank sentral menaikkan suku bunga acuan.
- Untuk pertama kali sejak September 2023, jumlah bank sentral yang menaikkan bunga melampaui yang memangkas bunga dalam periode bergulir 3 bulan.
- Tingkat pengetatan 45% ini mendekati level ~55% pada 2018 dan 2011, menegaskan kembalinya era higher for longer.
Sebanyak 15 dari 33 bank sentral utama dunia, atau setara 45%, resmi menaikkan suku bunga acuan dalam enam bulan terakhir. Angka ini menandai porsi pengetatan moneter terbesar sejak 2023 dan membuktikan bahwa ekspektasi pelonggaran bunga global yang sempat ramai diperkirakan pasar kini berbalik arah.
Sepanjang 2026 berjalan, total ada 54 bank sentral yang menaikkan suku bunga. Catatan ini juga menjadi momen pertama sejak September 2023 di mana jumlah bank sentral yang menaikkan suku bunga melebihi jumlah yang memangkas bunga dalam periode bergulir tiga bulan. Angka 45% ini mulai mendekati kisaran ~55% yang pernah terjadi pada 2018 dan 2011, kendati masih berada di bawah rekor puncak ~95% pada 2022 saat lonjakan inflasi pascastimulus pandemi merebak.
Siklus Pemangkasan Resmi Berbalik Jadi Pengetatan
Kembalinya narasi higher for longer langsung mengubah perhitungan biaya modal global. Pasar yang sebelumnya bersiap menyambut likuiditas murah kini harus menerima fakta bahwa banyak otoritas moneter masih memprioritaskan penahanan inflasi dan stabilitas mata uang ketimbang memacu pertumbuhan.
Ketika hampir separuh bank sentral utama kembali mengerek suku bunga, likuiditas berlebih di sistem keuangan menyusut. Efek langsungnya terlihat pada yield obligasi acuan dunia yang tertahan di level tinggi, memaksa valuasi aset berisiko dihitung ulang dengan tingkat diskonto yang lebih ketat.
Tekanan Dolar Mengarah ke Pasar Berkembang
Pengetatan serentak ini memberi imbas langsung ke pasar berkembang lewat pergerakan modal asing dan nilai tukar. Saat suku bunga di negara maju tetap tinggi, dana global cenderung pulang kandang mencari imbal hasil bebas risiko. Konsekuensinya, mata uang seperti rupiah menghadapi tekanan pelemahan yang membatasi ruang pelonggaran bagi bank sentral domestik.
Di bursa saham, kondisi ini memisahkan pemenang dan pihak yang tertekan secara tegas. Sektor perbankan bermodal kuat dengan porsi dana murah besar cenderung mampu menjaga net interest margin tetap tebal. Sebaliknya, emiten dengan utang berdenominasi dolar dan kebutuhan refinancing jangka pendek akan melihat beban bunga langsung memangkas margin laba bersih mereka.
Dua Jalur Penentu Arah Pasar Berikutnya
Jika proporsi bank sentral yang menaikkan suku bunga terus merayap naik menembus ~55% seperti siklus 2011 dan 2018, maka tekanan arus modal keluar dari pasar berkembang akan semakin panjang dan saham-saham dengan P/E ratio tinggi akan terus mengalami penyesuaian harga. Sebaliknya, jika angka 45% ini adalah titik puncak lokal dan inflasi dunia melandai lebih cepat, maka tekanan jual di pasar obligasi akan mereda sehingga pasar saham bisa membangun level support yang lebih solid.
Arah pasar ke depan bergantung pada apakah kelompok bank sentral yang tersisa ikut menaikkan bunga atau memilih berhenti di level saat ini. Selama jumlah bank sentral yang menaikkan bunga masih mendominasi, likuiditas murah belum akan kembali ke pasar modal.