LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Buyback Jumbo Rp500 Miliar dan Titik Balik Saham TOWR

TOWR siapkan buyback Rp500 miliar saat valuasi 5,4x EV/EBITDA dan fiberisasi capai 67%. Simak bedah kas, kontrak 12 tahun, dan prospek sahamnya.


Key Takeaways

  • TOWR mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp500 miliar atau setara 2 persen modal disetor dengan estimasi harga rata-rata Rp423 per saham.
  • Eksekusi buyback menyerap hingga 53 persen saldo kas perseroan, mencerminkan keyakinan manajemen bahwa valuasi saham di level 5,4x EV/EBITDA telah berada di titik diskon historis terdalam.
  • Dampak konsolidasi operator seluler tertangani melalui perpanjangan kontrak sewa menjadi 12 tahun, sementara segmen serat optik (FTTT) telah menyumbang 32 persen pendapatan.

PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham perseroan dengan alokasi dana maksimal mencapai Rp500 miliar di luar biaya transaksi. Program buyback ini mencakup pembelian hingga 1,18 miliar lembar saham atau sekitar 2 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, mengimplikasikan target harga rata-rata di kisaran Rp423 per saham untuk periode pelaksanaan 30 September hingga 30 Desember 2026.

Langkah korporasi ini mencatatkan nilai pembelian saham mandiri terbesar yang pernah diluncurkan perseroan tanpa memerlukan persetujuan RUPS, melampaui program serupa senilai Rp200 miliar pada akhir 2025 dan Rp300 miliar pada awal 2026. Di mata pasar modal, keputusan menggelontorkan dana ratusan miliar ini mengirimkan pesan tegas: manajemen menilai harga sahamnya di bursa sudah terdiskon terlalu dalam dan jauh di bawah nilai fundamental aset jaringan yang mereka miliki.

Separuh Saldo Kas Dikerahkan Borong Saham Sendiri

Berdasarkan posisi neraca per paruh pertama 2026, perseroan menggenggam saldo kas dan setara kas sebesar Rp941,6 miliar dengan rasio utang bersih terhadap modal atau net gearing berada di posisi 1,5x. Jika program pembelian saham ini terserap penuh hingga pagu Rp500 miliar, perseroan akan menggunakan sekitar 53,1 persen dari total kas yang tersedia.

Sementara itu, portofolio saham simpanan atau treasury shares perseroan saat ini tercatat sebanyak 998,3 juta lembar atau 1,69 persen dari modal disetor. Dari jumlah tersebut, sebanyak 374,2 juta lembar dialokasikan untuk program kepemilikan saham manajemen dan karyawan (MESOP tahap kedua) yang berlaku hingga November 2027. Mengingat sebagian besar saham yang dibeli kembali disimpan sebagai aset perusahaan, aksi ini secara mekanis mengurangi jumlah saham yang beredar bebas di pasar bursa.

Bagi investor saham pemula, share buyback dapat diartikan sebagai langkah perusahaan membeli kembali sebagian kepemilikan sahamnya sendiri dari publik. Ketika jumlah lembar saham yang beredar berkurang, laba bersih perusahaan di masa depan akan dibagi ke jumlah lembar saham yang lebih sedikit. Hasilnya, laba per lembar saham atau Earning Per Share (EPS) akan meningkat secara otomatis, memberi keuntungan langsung bagi pemegang saham yang memilih bertahan.

Analogi Pemilik Ruko dan Kontrak Sewa 12 Tahun

Untuk memahami rasionalitas di balik aksi buyback ini, bayangkan seorang pemilik komplek ruko komersial di kawasan strategis. Penyewa utama ruko tersebut, yakni para peritel besar, baru saja memperbarui perjanjian kerja sama dengan memperpanjang masa sewa dari sebelumnya tersisa 7 tahun menjadi 12 tahun penuh ke depan. Sebagai kompensasi masa sewa yang sangat panjang, pemilik ruko memberikan potongan tarif sewa bulanan sebesar 7,5 persen.

Meski ada diskon sewa bulanan, kepastian pendapatan sang pemilik ruko justru terkunci aman selama lebih dari satu dekade tanpa ada risiko ruko kosong. Namun anehnya, di pasar properti sekitar, para investor sedang cemas dan melego ruko-ruko serupa pada harga diskon besar-besaran, setara hanya 5,4 kali pendapatan operasional tahunannya. Melihat jurang perbedaan antara kepastian uang sewa 12 tahun dengan harga pasar yang tertekan tidak wajar, pemilik ruko memutuskan mengambil separuh tabungan kasnya untuk memborong kembali unit-unit rukonya sendiri. Langkah itu jauh lebih menguntungkan daripada membangun ruko baru dari nol.

Analogi ini menggambarkan persis apa yang dialami TOWR pasca konsolidasi merger operator seluler. Risiko pembatalan sewa menara atau churn berhasil dihindari lewat kesepakatan perpanjangan tenor sewa menjadi 12 tahun. Dampak pelepasan sewa menara bersih hanya sebesar 552 lokasi antara pertengahan 2025 hingga pertengahan 2026, atau kurang dari 10 persen dari potensi tumpang tindih menara pasca merger. Penurunan tarif sewa efektif menjadi Rp11,4 juta per penyewa setiap bulannya telah sepenuhnya diserap oleh operasional perseroan.

Pertarungan Berpindah dari Menara Besi ke Kabel Serat Optik

Kunci pertumbuhan bisnis perseroan kini tidak lagi bertumpu semata-mata pada penambahan menara pemancar fisik, melainkan pada konektivitas kabel serat optik atau Fiber-to-the-Tower (FTTT). Dalam lima tahun terakhir, pendapatan dari lini serat optik mencatatkan pertumbuhan majemuk tahunan atau CAGR mencapai 42,6 persen, jauh mengungguli pertumbuhan bisnis menara tradisional yang sebesar 8,3 persen.

Porsi pendapatan serat optik terhadap total omzet melonjak pesat dari 15 persen pada tahun 2020 menjadi 32 persen pada paruh pertama 2026. Melalui entitas anak iForte, perseroan kini mengoperasikan jalur kabel serat optik sepanjang 234.665 kilometer yang menghasilkan pendapatan, melayani 28.153 aktivasi konektivitas bisnis, dan mencakup 1,85 juta sambungan rumah atau homepasses.

Tingkat fiberisasi menara perseroan telah mencapai 67 persen. Angka ini memimpin industri menara telekomunikasi nasional yang umumnya baru berada di rentang 50 persen hingga 60 persen. Menghubungkan menara dengan kabel serat optik mutlak diperlukan untuk menyambut peningkatan mutu jaringan 5G karena kabel optik mampu menyalurkan data puluhan kali lebih besar dan tidak terganggu cuaca buruk dibandingkan sambungan radio gelombang mikro tradisional.

Di samping itu, perseroan memperluas pemanfaatan aset melalui layanan internet nirkabel tetap atau Fixed Wireless Access (FWA). Perseroan telah mengamankan pesanan penempatan antena untuk 1.500 hingga 2.000 lokasi. Antena FWA dipasang pada ketinggian 20 hingga 25 meter menara, jauh di bawah antena operator seluler yang menempati ketinggian 60 hingga 70 meter. Penempatan ini memanfaatkan ruang kosong menara yang belum terpakai dengan kebutuhan modal tambahan yang mendekati nol.

Valuasi 5,4x EV/EBITDA dan Diskon Tajam Terhadap Pesaing

Di pasar saham, TOWR saat ini diperdagangkan pada kelipatan 5,4x EV/EBITDA dan 5,4x P/E untuk estimasi tahun 2026. Posisi ini berada 1,7 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahunannya, menjadikannya saham infrastruktur telekomunikasi dengan valuasi paling murah di bursa domestik.

Sebagai perbandingan, kompetitor sejenis seperti PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) diperdagangkan pada kelipatan 7,1x EV/EBITDA dan 17,1x P/E, sedangkan PT Sarana Menara Telekomunikasi atau Tower Bersama (TBIG) berada di level 10,3x EV/EBITDA dan 22,1x P/E. Diskon tajam yang dialami TOWR membuka peluang pemulihan harga saham yang menarik seiring stabilnya rasio penyewaan menara atau tenancy ratio di level 1,68x.

Berdasarkan perhitungan arus kas terdiskon atau Discounted Cash Flow (DCF) dengan asumsi biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) 9,0 persen dan pertumbuhan terminal 1,0 persen, nilai wajar saham TOWR ditaksir berada di kisaran Rp610 per lembar, mencerminkan kelipatan 6,6x EV/EBITDA tahun 2026.

Titik Balik Operasional dan Ketahanan Neraca

Ujian terberat dari proses konsolidasi operator seluler telah berada di belakang perseroan. Dengan arus kas sewa yang terkunci hingga 12 tahun ke depan dan percepatan ekspansi jaringan serat optik, pendapatan perseroan diperkirakan mencapai Rp14,9 triliun pada tahun 2026 dengan perolehan EBITDA sekitar Rp11,6 triliun.

Titik perhatian pasar ke depan bergeser pada disiplin pengelolaan modal pasca pelaksanaan buyback sebesar Rp500 miliar, serta keberhasilan integrasi kepemilikan 51 persen saham di entitas ritel internet rumah PT Remala Abadi Tbk (DATA) guna memperluas penetrasi jaringan serat optik ke segmen perumahan.