Cadangan devisa September 2026 turun tipis ke US$146,32 miliar saat simpanan perbankan di bank sentral naik Rp52,23 triliun. Ini rincian neraca moneternya.
Key Takeaways
- Cadangan devisa bersih turun tipis US$0,19 miliar menjadi US$146,32 miliar pada akhir September 2026.
- Uang primer bertambah Rp57,25 triliun menjadi Rp1.892,36 triliun, didorong simpanan perbankan di bank sentral yang naik Rp52,23 triliun.
- Net domestic assets berbalik positif ke Rp29,80 triliun setelah empat bulan berada di zona negatif.
- Saldo operasi pasar terbuka bertahan tinggi di Rp963,88 triliun, naik Rp9,29 triliun dari bulan sebelumnya.
Cadangan devisa Indonesia turun US$190 juta pada September 2026 ke level US$146,32 miliar. Penurunan tipis 0,13% dari posisi Agustus sebesar US$146,51 miliar ini terhitung stabil dan masih berada di atas posisi Mei 2026 yang sebesar US$144,90 miliar. Perubahan yang lebih nyata justru terlihat pada struktur neraca rupiah bank sentral.
Simpanan Bank di Bank Sentral Bertambah Rp52 Triliun
Uang primer (base money) naik Rp57,25 triliun menjadi Rp1.892,36 triliun. Pertumbuhan bulanan ini jauh lebih tinggi dibanding tambahan Agustus yang tercatat Rp8,33 triliun.
Kenaikan uang primer tersebut bukan berasal dari kebutuhan uang tunai masyarakat. Uang kartal yang beredar (cash in circulation) hanya bertambah Rp8,81 triliun menjadi Rp1.341,30 triliun. Sebagian besar dana segar justru masuk ke rekening giro bank di bank sentral (bank deposits at BI), yang naik Rp52,23 triliun menjadi Rp498,16 triliun. Perbankan memilih menempatkan kelebihan likuiditas mereka kembali ke bank sentral dibanding menyalurkannya ke pasar uang antarbank.
Net Domestic Assets Berbalik Positif
Posisi aset domestik bersih (net domestic assets) juga berbalik arah. Angkanya tercatat Rp29,80 triliun, naik Rp39,52 triliun dari posisi Agustus yang minus Rp9,71 triliun. Ini pertama kalinya indikator tersebut kembali ke zona positif sejak Mei 2026.
Penyebab utamanya datang dari pos klaim bersih kepada pemerintah (net claims on government), dengan defisit yang berkurang Rp33,80 triliun menjadi minus Rp156,87 triliun. Pada saat yang sama, saldo operasi pasar terbuka (open market operations) naik Rp9,29 triliun menjadi Rp963,88 triliun. Bank sentral terus menyerap likuiditas dalam jumlah besar mendekati level Rp1.000 triliun untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Dengan cadangan valas yang bertahan di atas US$146 miliar dan likuiditas perbankan yang menumpuk di bank sentral, bantalan rupiah masih tebal. Hal yang perlu dipantau berikutnya adalah apakah perbankan mulai mengalirkan dana simpanan Rp498 triliun tersebut ke penyaluran kredit riil, atau tetap memarkirnya di operasi pasar terbuka.